• 2

    Jul

    Prof Pamitan

    “Saya mungkin tidak selamanya di kantor ini.” demikian perkataan Prof dalam wejangan- nya saat rapat internal bulanan. Beberapa orang agak terkejut, beberapa lainnya tidak, karena sudah mengetahui rencana beliau untuk mengundurkan diri. Panjang lebar wejangan yang disampaikan, tipikal Prof saat berbicara di depan pendengar yang lebih muda. Ceramah ini-itu, yang bagiku tidaklah penting, namun kucoba menghormatinya sebagai sosok yang lebih tua. Cukup panjang, 30 menit lebih, bahkan cenderung sulit untuk berhenti. Ah, benar-benar kayak ngobrol dengan lansia yang jarang dijenguk keluarganya. Beberapa minggu sebelumnya, beliau mengirim email pengunduran diri, tapi ditujukan langsung ke BM, yang kemudian oleh BM di-forward ke aku. Tidak terlalu mengejutkan bagiku, juga tidak terla
    Read More
  • 5

    Mar

    Kayaknya Mau Resign Ya?

    Waktu keluar dari toilet, Iyor tiba-tiba mendatangiku, dan dengan berbisik dia berkata, “Prof kok kayaknya mau resign ya?”. Meski tidak terlalu mengherankan bagiku, tapi tetap aku menanggapi. “Emang tahu darimana?” kataku. “Ya, tadi aku sempat dengar-dengar. Meski dia ngomong lewat telpon pakai bahasa Jawa, tapi sedikit banyak sepertinya aku nangkap. Kok sepertinya ada omongan, dia minta dicariin kerjaan gitu.” “Yah, mau gimana lagi”, kataku mencoba tenang. “Sayang juga Mas, ” Iyor melanjutkan omongannya. “Kan Prof udah cukup lama di sini, pengalaman dan koneksinya juga banyak.” “Ya tapi gimana lagi, aku juga gak bisa ngapa-ngapain dengan kondisi kantor seperti ini.” jawabku. “Apa dia seperti i
    Read More
  • 6

    Jan

    Tidak Profesional

    Pagi ini ada SMS dari Ekusa yang menanyakan apakah ada programmer yang bisa ditunjuk untuk menggantikan Prof melakukan training OpenOffice. Prof mendadak sakit, dan info itu baru disampaikan pagi itu juga. “Kemarin aku udah konfirmasikan ke Prof juga (yang kebetulan memang hadir di kantor) dan dia bilang hari ini bisa. Aku juga dapat info mendadak gini mas.” kata Ekusa menjelaskan. Aku agak jengkel juga mengapa serba mendadak. Tapi namanya orang sakit, apalagi sakit Prof termasuk serius (mungkin jantungnya kumat). Jelas hari ini tidak ada yang bisa menggantikan. Memberikan training itu tidak mudah dan tidak bisa mendadak, bahkan untuk topikyang dianggap ringan termasuk aplikasi perkantoran ini. Apalagi di antara karyawan yang ada, tidak ada yang cukup pengalaman melakukan tra
    Read More
  • 18

    Nov

    Dibantai

    Aku melangkah dengan pasrah. Sepanjang jalan kulalui dengan cukup resah, was-was dengan apa yang aku hadapi. Harusnya ini tugas Prof, sayangnya tiba-tiba kemarin dia membatalkan karena sakit dan harus istirahat. Sebelumnya aku cuma mendampingi, menggantikan Kandar yang sedang keluar kota. Tapi sekarang, akulah yang bertanggungjawab melakukan negosiasi ini, didampingin Kuca, yang aku yakin, dia benar-benar cuma mendampingi. Pagi-pagi aku coba telpon Kandar, menggali info sebanyak mungkin terkait dengan proyek ini - tanggal perjanjian, sanksi, apa saja yang tercakup dan hal-hal yang masih belum selesai. Aku sedikit percaya diri dengan data yang sudah kuterima, apalagi sebelumnya Kandar bilang bahwa client juga sadar kalau system mereka cukup rumit dan pasti akan molor. Yah, setidaknya ada b
    Read More
  • 13

    Nov

    Kepanikan di pagi hari

    Meskipun sekedar mitos dan tahayul yang sudah banyak ditinggalkan, namun tidak dapat dipungkiri kalau angka 13 di hari ini mengandung berbagai kesialan. Bukan kesialan yang fatal, tapi setidaknya sudah memberi beberapa kepanikan di pagi hari. Mungkin masih terlalu kasar juga kalau dibilang panik … cuma mencemaskan, atau menjengkelkan. Lebih halus lagi, kurang beruntung. Kejengkelan pertama terkait dengan ulah Bose (lagi). Pagi ini tiba-tiba dia ngeloyor pergi tanpa pamit, membawa serta mobil kantor. Padahal jam 9 pagi sudah ada jadwal harus mengantar beberapa karyawan ke customer. Seperti biasa, ponselnya sulit dihubungi, apalagi dia punya kebiasaan gonta-ganti kartu (mumpung gonta-ganti kartu belum diharamkan kali). Semua menduga kalau dia nyuci mobil, tapi dimana? Lagipula dia su
    Read More
  • 31

    Oct

    Ultah di kantor

    Bukan aku yang ultah, tapi Prof. Hari ini beliau genap usia 38 tahun. Waktu pagi-pagi aku ketemu dengan dia sebenarnya aku lupa kalau dia ulangtahun, soalnya aku lagi buru-buru untuk berangkat ke Jakarta jam 8. Tapi saat sedang menunggu rekan lain yang akan bareng ke Jakarta, Bang Napi ngomong ke Prof, “Pak, hari ini ulang tahun ya? hehehe … Selamat ya!”, sambil mengulurkan tangan memberi salam. “Ah, gak ada ulang tahunan, umur saya udah berkurang gini pakai ulang tahun segala.” kata Prof sambil tersenyum malu. Dalam perjalanan ke Jakarta, BM menanyakan ke Kokom tentang tempat jual cake. Kemudian BM meminta salah satu staff kantor untuk membeli cake untuk ultah Prof. “Ingat ya, jangan pasang lilin angka 38, tapi pasang 83.” Kami semua yang dimob
    Read More
-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru