• 26

    Jan

    Bisa Ditarik Lagi Gak?

    Ada banyak alasan karyawan mengundurkan diri dari perusahaan. Aku dulu pernah mundur karena kecewa dengan rekan kerja, pernah juga karena kecewa dengan perusahaan. Mungkin kurang tepat kalau dibilang kecewa, karena dari awal aku memang tidak terlalu berharap banyak dengan perusahaan tempat aku bekerja waktu itu. Aku cuma merasa, dengan usiaku (waktu itu) yang masih muda, aku tidak akan bisa berkembang di sana, dan masih banyak peluang lain yang memungkinkan karir maupun kepribadianku bisa berkembang, termasuk skill-ku. Ada karyawan yang mengundurkan diri karena masalah gaji, ada juga yang karena merasa gagal. Setidaknya, di kantorku saat ini, ada 2 orang yang mundur karena merasa gagal, setidaknya menurutku sih. Pertama Simbah … ah sayang sekali dia. Padahal potensinya bagus, cuma s
    Read More
  • 11

    Jan

    Surat Peringatan

    “Budi, surat peringatan untuk Om Bag udah dikasih?” tanyaku ke Budi di hari-hari awal setelah libur cukup panjang di pergantian tahun ini. “Belum mas, masih belum dapat contohnya dari Prof”, jawabnya. “Wah, gimana nih. Ntar aku tanyain Prof lah. Oh ya, sekalian, tolong buat SP juga buat Gita.” “Emangnya dia dimana sekarang?” tanya Budi penasaran. Sudah beberapa hari ini Gita tidak masuk kerja, dan tidak ada keterangan. Kalau ditotal, hampir 3 minggu dia libur. “Tadi pagi dia ngirim offline message, ngasih tahu kalau baru bisa masuk besok, ada masalah pribadi katanya.” jawabku. Tadi pagi, lebih tepatnya subuh, memang Gita ngirim pesan lewat chat. Waktu itu aku masih tidur, tapi laptop menyala dan YM-ku online. Intinya dia masi
    Read More
  • 24

    Dec

    Om Bag Dimana?

    Lagi-lagi Kandar panik, sedikit jengkel lebih tepatnya. Lagi-lagi Om Bag tidak bisa dihubungi dan tidak diketahui posisinya. Padahal sesuai jadwal, seharusnya dia ada di salah satu customer di Jakarta. Namun pagi ini customer tersebut (penanggung jawab proyek yang rewelnya minta ampun, yang bikin senewen gara-gara selalu mengancam akan membatalkan proyek) menelpon Kandar dan complain karena Om Bag tidak ada. Padahal pagi-pagi ini Om Bag kulihat berangkat ke Jakarta, setelah kemarin dia pulang agak malam sehabis dari customer tersebut. Aden yang kutanya juga tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Kandar sempat menduka kalau Om Bag interview di tempat lain. Itu hak dia, cuma sangat disayangkan kalau dia sampai mengabaikan tanggung jawab itu. Dugaanku, setelah mendapat sedikit info dari Renaldy,
    Read More
  • 18

    Nov

    Mix-Max

    Terkadang bercanda bisa jadi bumerang. “Tadi kan Bang Napi nawarin mau mbeliin sesuatu, aku teriak Mix-Max, maksudnya bercanda”, kata Om Bag waktu aku lagi di dapur mau buat teh manis. Dia sambil menenteng sebotol Mix-Max warna merah (entah rasa apa). “Eh, lha kok dibeliian beneran. Langsung saja Bang Napi manyun”, lanjutnya sambil tertawa. Spontan akupun ketawa. Bang Napi, dengan predikatnya sebagai ustad de facto, pasti manyun kalau tau niat baiknya ternyata untuk membeli sebotol minuman haram, meskipun kadarnya sedikit. Kalau dalam kadar besar dia memabukkan, berarti dalam kadar sedikitpun tetap haram, begitulah sedikit banyak penjelasannya tentang minuman memabukkan, dalam sebuah percakapan ringan suatu malam. “Lha wong saya nggak tahu kok. Saya kan ta
    Read More
  • 13

    Nov

    Kepanikan di pagi hari

    Meskipun sekedar mitos dan tahayul yang sudah banyak ditinggalkan, namun tidak dapat dipungkiri kalau angka 13 di hari ini mengandung berbagai kesialan. Bukan kesialan yang fatal, tapi setidaknya sudah memberi beberapa kepanikan di pagi hari. Mungkin masih terlalu kasar juga kalau dibilang panik … cuma mencemaskan, atau menjengkelkan. Lebih halus lagi, kurang beruntung. Kejengkelan pertama terkait dengan ulah Bose (lagi). Pagi ini tiba-tiba dia ngeloyor pergi tanpa pamit, membawa serta mobil kantor. Padahal jam 9 pagi sudah ada jadwal harus mengantar beberapa karyawan ke customer. Seperti biasa, ponselnya sulit dihubungi, apalagi dia punya kebiasaan gonta-ganti kartu (mumpung gonta-ganti kartu belum diharamkan kali). Semua menduga kalau dia nyuci mobil, tapi dimana? Lagipula dia su
    Read More
  • 5

    Nov

    Ngobrolin Kentut

    “Wah kasian nih, Mas jadi terkurung asap”, kata Renaldy waktu kami rame-rame makan malam di mal. Di antara kami berempat, - aku, Renaldy, Ekusa, Om Bag - emang cuma aku yang gak ngerokok. “Tenang aja, ” kataku. “Aku bisa mengimbangi dengan asap yang lain .. hehehe, tanpa bentuk dan tidak mengganggu kesehatan”. “Wah, gawat itu, bisa balik semua habis dimakan tadi” kata Ekusa. Obrolanpun mulai mengalir ke seputar kentut, benar-benar nggak mutu. “Kalau aku pernah punya pengalaman memalukan masalah kentut itu waktu SMP,” Om Bag mulai curhat malu-malu. “Waktu itu kan lagi ada acara di sekolahan, terus yang datang pejabat. Nah, pas pejabat ngasih pidato, suasana jadi benar-benar senyap. Lha kok tiba-tiba kebelet pengen kentut,
    Read More
  • 4

    Nov

    Siapa Yang Enak

    Sore ini, sepulang makan malam yang diiringi dengan derasnya hujan, kami bersantai di lantai 1. Ekusa masih belum pulang karena hujan, masih duduk-duduk di kursinya. Selanjutnya Bang Napi ngobrol dengannya. Setelah naruh sendal, aku ikutan ngobrol sambil mijitin pundak Ekusa — yang kebetulan juga lagi sedikit masuk angin — sambil menghangatkan badan juga. Eh, lha kok Bang Napi langsung balik badan, membelakangi Ekusa minta dipijit juga. Dengan sukarela Ekusa memijit, jadilah rangkaian kereta 3 gerbong. Renaldy yang tiba-tiba nongol langsung aku suruh mijit di belakangku. Tak lama kemudian Om Bag bergabung, memijat Renaldy. Jadilah rangkaian 5 gerbong saling memijit. Suasana meriah, seru, diiringi rintihan sakit+nikmat dipijit. Kuca senyum-senyum saja sambil berdandang memandan
    Read More
-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru