• 1

    Aug

    Cari Aman Aja

    Bang Tog datang lengkap dengan baju batiknya. Hari ini kami harus menyewa dia sebagai driver untuk nikahan Kuca. Satu yang agak berbeda dengan penampilannya adalah dia mengenakan peci. “Wah, tumben nih?” tanyaku atas penampilannya. “Ya ginilah Mas. Aku kan sering ke Cirebon, Serang dan tempat-tempat lainnya. Jadi ya cari aman aja.” jawabnya sambil tersenyum. Jawaban yang wajar bagi seorang nonmuslim, saat berada di kawasan minoritas. Berbaur dan cari aman, itulah umumnya alasan utama seseorang melakukan adaptasi atau penyesuaian, meski harus melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan. Alasan berbaur sangatlah bisa diterima. Sebagai makhluk sosial, kita perlu terlibat dalam masyarakat, berinteraksi dan berkomunikasi. Kadang kita perlu “menanggalkan” k
    Read More
  • 2

    Dec

    Subjective

    Salah satu alasan Kuca mengundurkan diri adalah karena dia merasa dinilai secara subjektif, dan tidak objektif. “Menilai secara subjektif itu boleh saja, tapi di luar urusan pekerjaan. Kalau dalam urusan pekerjaan, harus objektif, harus profesional”. demikianlah kurang lebih yang dia sampaikan dengan emosional. Nampaknya dia benar-benar jengkel masalah itu. Yang menjadi pertanyaanku sejak itu adalah, penilaian yang subjektif itu seperti apa. Pertama kali aku berkenalan dengan istilah ini adalah waktu di Bandung, waktu diskusi dengan Hesly yang telah berpengalaman sebagai aktivis di kampus. Dia menjelaskan hal-hal dengan ungkapan subjektif-objektif, yang terus terang, aku kurang bisa memahami. Saat itu, yang kupahami adalah subjektif berarti hanya berdasarkan pendapat kita pri
    Read More
  • 1

    Dec

    Pamitan !

    Sepulang dari luar kota, aku baca email (karena waktu di luar kota gak sempat cek email sama sekali) dengan subjek Pamitan, pengirimkan Kuca. Agak terkejut juga mendengar kabar kalau dia menyatakan mengundurkan diri bulan Desember nanti. Sebuah berita yang cukup mendadak, dan menurutku tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan resign, atau mungkin aku saja yang kurang perhatian, karena toh selama ini aku selalu di lantai 2 sementara dia di lantai 1. Hari ini, di tengah-tengah general meeting, Kuca menyampaikan alasan pengunduran dirinya. Intinya dia tdak puas di kantor. Dia merasa dianaktirikan (entah oleh siapa), dan merasa dinilai secara subjektif. “Menilai secara subjektif itu boleh saja, tapi lakukan di luar kantor. Kalau di dalam kantor, dalam pekerjaan, harusnya penilaian dilakuka
    Read More
  • 18

    Nov

    Dibantai

    Aku melangkah dengan pasrah. Sepanjang jalan kulalui dengan cukup resah, was-was dengan apa yang aku hadapi. Harusnya ini tugas Prof, sayangnya tiba-tiba kemarin dia membatalkan karena sakit dan harus istirahat. Sebelumnya aku cuma mendampingi, menggantikan Kandar yang sedang keluar kota. Tapi sekarang, akulah yang bertanggungjawab melakukan negosiasi ini, didampingin Kuca, yang aku yakin, dia benar-benar cuma mendampingi. Pagi-pagi aku coba telpon Kandar, menggali info sebanyak mungkin terkait dengan proyek ini - tanggal perjanjian, sanksi, apa saja yang tercakup dan hal-hal yang masih belum selesai. Aku sedikit percaya diri dengan data yang sudah kuterima, apalagi sebelumnya Kandar bilang bahwa client juga sadar kalau system mereka cukup rumit dan pasti akan molor. Yah, setidaknya ada b
    Read More
  • 31

    Oct

    Ultah di kantor

    Bukan aku yang ultah, tapi Prof. Hari ini beliau genap usia 38 tahun. Waktu pagi-pagi aku ketemu dengan dia sebenarnya aku lupa kalau dia ulangtahun, soalnya aku lagi buru-buru untuk berangkat ke Jakarta jam 8. Tapi saat sedang menunggu rekan lain yang akan bareng ke Jakarta, Bang Napi ngomong ke Prof, “Pak, hari ini ulang tahun ya? hehehe … Selamat ya!”, sambil mengulurkan tangan memberi salam. “Ah, gak ada ulang tahunan, umur saya udah berkurang gini pakai ulang tahun segala.” kata Prof sambil tersenyum malu. Dalam perjalanan ke Jakarta, BM menanyakan ke Kokom tentang tempat jual cake. Kemudian BM meminta salah satu staff kantor untuk membeli cake untuk ultah Prof. “Ingat ya, jangan pasang lilin angka 38, tapi pasang 83.” Kami semua yang dimob
    Read More
  • 22

    Oct

    Tabrakan Beruntun

    Laju kendaraan yang aku tumpangi waktu itu tergolong normal untuk ukuran jalan tol, paling sekitar 100. Kondisi jalan cukup padat, tapi masih bisa melenggang dengan cukup stabil di kecepatan seperti itu. Sempat beberapa kali ada sedikit perlambatan, tapi kami masih bisa yakin sampai Jakarta gak akan lebih dari 1 jam. Mendekati Bekasi Timur, terlihat ada sedikit kemacetan. Jarak mobil kami dengan mobil di depan tergolong cukup aman, dan kurasa mobil mulai di rem dengan tenang. Namun semakin mendekati mobil di depan, rem yang dilakukan terkesan “panik”, sampai 2 kali dan …. akhirnya nabrak juga mobil di depannya. “Wah, akhirnya tabrakan juga #-o”. dalam hati. Jadi teringat, sebelum berangkat aku sempat berpikir iseng akan kemungkinan terjadi kecelakaan. Biasan
    Read More
-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru