• 11

    Feb

    Masih Mau Kerjasama Gak?

    “Besok bisa ke M gak?”, tanya BM. Pagi ini salah satu customer memintaku untuk datang besok, karena ada perubahan dalam aplikasi yang sekarang sudah ada, dan mereka ingin segera dilakukan perubahan. “Wah, gak bisa pak”, jawabku. “Dua hari ini saya gak ingin pergi-pergi, ada kerjaan yang ingin saya bereskan untuk hari Jumat”. Tak lama kemudian, customer yang bersangkutan menelpon. BM sengaja menggunakan speaker agar aku juga bisa mendengar pembicaraannya. “Wah, tahu gini, aku gak perlu bohong hari ini. Hari ini kubilang ke bos kalau kamu lagi sakit.”, kata customer itu dengan nada jengkel. “Aku dah bantuin kalian, sekarang giliran aku butuh bantuan kok kalian gak mau bantu, gimana nih.” lanjutnya. Aku tetap bertahan, tidak ber
    Read More
  • 29

    Nov

    Oleh-Oleh dari Forensik

    Hari ini aku dan Bang Napi punya dua agenda, survey di bagian Gizi dan bagian Forensik. Pertama kali kami ke bagian gizi. Di sini cukup nyaman, selain petugasnya ramah, juga ada snack — maklum, gudangnya makanan. Nah, di bagian forensik kami sempat was-was, jangan-jangan kami diberi hidangan yang sesuai dengan bidangnya :( Beruntung hidungku agak mampet, jadi aku tidak terlalu mencium isi ruangan forensik tersebut. Meski kami tidak dibawa masuk ke ruang bedahnya, toh kantornya berdekatan, jadi dengan hidung yang terlalu sensitif akan bisa mencium aroma yang tidak biasa. Di bagian forensik pun kami mendapat hidangan teh botol dan petugasnya juga ramah dan sangat humoris. Ini membuat kami cukup nyaman di ruangan yang seharusnya bisa dibilang angker ini. Obrolan mengalir cukup ringan
    Read More
  • 18

    Nov

    Dibantai

    Aku melangkah dengan pasrah. Sepanjang jalan kulalui dengan cukup resah, was-was dengan apa yang aku hadapi. Harusnya ini tugas Prof, sayangnya tiba-tiba kemarin dia membatalkan karena sakit dan harus istirahat. Sebelumnya aku cuma mendampingi, menggantikan Kandar yang sedang keluar kota. Tapi sekarang, akulah yang bertanggungjawab melakukan negosiasi ini, didampingin Kuca, yang aku yakin, dia benar-benar cuma mendampingi. Pagi-pagi aku coba telpon Kandar, menggali info sebanyak mungkin terkait dengan proyek ini - tanggal perjanjian, sanksi, apa saja yang tercakup dan hal-hal yang masih belum selesai. Aku sedikit percaya diri dengan data yang sudah kuterima, apalagi sebelumnya Kandar bilang bahwa client juga sadar kalau system mereka cukup rumit dan pasti akan molor. Yah, setidaknya ada b
    Read More
  • 12

    Nov

    Sebagai Apa?

    “Jack, sibuk? Sebentar bisa?”, kata Pak Ari ke Pak Nana lewat telepon. Hari itu aku “terpaksa” memenuhi panggilan customer berkaitan dengan adanya perubahan dalam aplikasi yang kami buat. Sebenarnya aku melangkah dengan berat hati, karena perjalanan yang jauh, dan kurasa apa yang disampaikan tidak terlalu banyak dan bisa disampaikan lewat online. Tapi mungkin mereka minta ada “perhatian” serius dari kami, lagipula sudah cukup lama aku tidak ke kantor itu. “Sebentar dulu nih, harus jelas dulu, saya dipanggil sebagai apa nih?” kata Pak Nana sebelum melangkah memasuki ruangan IT. “Pokoknya saya cuma pemberi saran lho, kalau ada apa-apa bukan keputusan saya, OK?” “Wah, kok ya masih ingat aja, padahal dah 2 tahunan kejadian it
    Read More
  • 23

    Oct

    Oh, Itu Anak Saya

    “Pak, Yanti itu siapa ya?”, tanyaku ke salah satu manager HRD yang menjadi customer kami. “Oh, itu anak saya”. jawabnya dengan sedikit senyum. “Oh….”, tanpa sadar mulutku berucap, mengungkapkan sedikit rasa kaget. Aku coba tersenyum. “Dia saya tempatkan untuk bantuin saya, sedikit demi sedikit saya harap bisa nggantiin Anton, biar saya tidak terlalu tergantung sama Anton. Anton kan orang IT, istilahnya milik departemen lain. Kebetulan Yanti juga lulusan Informatika”, manager HRD itu memberi penjelasan cukup lengkap. Nepotisme. Menurutku, selama dilakukan dengan alasan yang masuk akal, transparan dan adil, tidaklah menjadi masalah. Kalau memang saudara atau sahabat dekat kita punya kemampuan lebih baik, apa salahnya kalau dipilih unt
    Read More
  • 23

    Oct

    Programnya jadi berantakan nih!

    Berantakan! Dalam benakku, berantakan adalah suatu keadaan kacau, menyebalkan, tidak menyenangkan, mengganggu, sangat merepotkan, tidak rapi dan rusak. Mendengar customer mengeluh dan menyebut kalau tampilan slip gaji jadi berantakan, atau hasil program jadi berantakan, tentu saja membuatku panik. Kok bisa berantakan, padahal aku sudah melakukan beberapa kali test, dan selama ini tidak ada masalah. Kok bisa berantakan!!! Seringkali laporan kalau program jadi berantakan, atau error, membuat programmer jadi panik. Apalagi kalau customer yang mengeluh itu kelakukannya menjengkelkan, dan gak sabaran. Seringkali aku jadi ikutan emosi dibuatnya. Serasa menanggung beban yang sangat berat, dan saat terasa gak kuat menanggung berat itu, energi dari dalam meluap untuk “menolak” beban i
    Read More
  • 18

    Oct

    Akibat Sungkan

    “Hp ini tidak jadi ke tempat Mr. T. Thx.” begitulah sms BM pagi kemarin, waktu aku bersiap mau ke customer di Muara Karang. Seharusnya malam ini aku diminta datang ke tempat Mr. T karena komputernya bermasalah. Mr T adalah orang Jepang yang mengenalkan kantor ke perusahaan tertentu agar beli produk kantor. Malam harinya, waktu aku baru saja sampai ke kantor setelah cukup lelah seharian ngasih training ke customer, datang lagi sms dari BM “hr ini yg dicancel diganti sabtu. ada yg bs ke sana? Jam berapa?”. Aku sempat ngobrol dengan orang yang masih tersisa dikantor, karena hari Jumat, sudah tinggal sedikit yang tersisa. Hampir semua gak bisa, DS gak bisa karena ada acara di gereja, padahal dia yang paling memungkinkan karena tinggal di Jakarta dan punya kendaraan. Y
    Read More
Prev -

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru