• 23

    Feb

    Resign Yang Mengharukan

    Ini bukan pertama kali aku mengundurkan diri dari pekerjaanku. Ya, sebelumnya juga pernah. Kali ini pengunduran diriku agak sedikit beda dengan waktu di kantor sebelumnya. Sudah 4 tahun kurang 1 bulan aku bergabung dengan perusahaan yang sudah membawaku mondar-mandir ke negeri singa ini, dan sekarang waktunya aku untuk beranjak. Jelas Mr TC menyayangkan keputusanku. Dia menanyakan alasan aku keluar dan juga memberi berbagai alternatif yang kira-kira bisa membuat aku tetap bertahan di sini. Tapi tekadku sudah bulat, jadi aku tetap menolak apapun penawarannya, sampai tibalah pada satu pertanyaan dari dia “Apakah kamu ada keinginan untuk tetap bertahan?”. Jawabku mantap, “Tidak!”. Selanjutnya tidak ada lagi penawaran. Dari obrolan “exit interview” tersebut
    Read More
  • 13

    Dec

    Nyupir Sambil Menegak Bir

    Maraknya kasus minuman oplosan dan wacana seorang gubernur untuk melegalkan minuman beralkohol membuatku teringat tentang suatu cerita dari salah satu client-ku. Ceritanya waktu dia bertugas di Pakistan, sebuah negara yang mayoritas muslim dan ada larangan penjualan minuman beralkohol, khususnya bagi warga muslim. Jadi suatu saat,client-ku ini bertugas di Pakistan dan seusai meeting dia jalan-jalan dengan kepala cabang di negara itu. Di tengah jalan sang supir menawarkan diri untuk mengantar mereka ke tempat penjual bir. Clientku ini paham tentang hukum yang melarang minuman beralkohol di sini, makanya dia heran. Tapi dia mengiyakan saja, lagipula kepala cabang di situ juga tidak keberatan untuk menikmati bir. Jadi dibawalah mereka ke suatu tempat agak terpencil, dekat pantai. Di sana ada
    Read More
  • 27

    Sep

    Apa sih Bedanya 1.5 Dengan 1.50?

    Aku memang gak terlalu paham dengan akuntansi, tapi emang ada bedanya angka 1.5 dengan 1.50 ? Bukannya keduanya bernilai sama? Kalau dibaca di Excel, tinggal ganti format aja apa repotnya sih, gak nyampe satu menit untuk mengubah format data agar kedua data itu sama. Kok bisa-bisanya customer komplain cuma karena masalah sepele itu … heran aku. Begitulah kira-kira omelan yang muncul dalam pikiranku saat aku pergi makan siang. Sebelumnya aku dapat email dari customer yang complain karena hasil export data yang kubuat tidak bisa menampilkan angka 0 (nol) yang ada di akhir data, khususnya setelah angka desimal. Sebagai contoh, 1000.50, ditampilkan 1000.5 tanpa 0 terakhir di belakang. Membaca hal itu, langsung saja aku sebel dan gak berniat untuk membalas email customer ini. Apalagi cus
    Read More
  • 15

    Nov

    Customer Bikin Emosi

    Sore ini HP Budi berdering dan langsung diangkat. Terdengar pembicaraan, sepertinya dari customer, sepertinya customer bernada complain, dan Budi seperti berada di pihak yang salah. Sore ini Dj diminta mengirim MoU ke customer, agar invoice yang kami kirimkan bisa segera diproses. Tapi lagi-lagi dia memberi kabar kalau bapak X menolak dengan alasan PIC yang tercantum di MoU itu salah, dan dia (bapak X ini) tidak mau menandatangani. Orang itulah yang menelpon Budi dan seperti kesal. Padahal, sebelum mengirim MoU tersebut, Budi sudah menelpon ke bapak tersebut dan menyatakan akan mengirim dokumen MoU dan bapak itu mengiyakan. Bahkan aku sempat mendengar Budi menanyakan nama bapak X itu dan mengeja namanya, agar dicantumkan dalam MoU. Kesan yang kutangkap saat itu, bapak X setuju kalau meman
    Read More
  • 24

    Jul

    Hadi dan Laptopnya

    Akhirnya tercapai juga keinginan Hadi untuk membeli laptop, setelah beberapa bulan bekerja. Dengan tinggal di kantor, biaya kost dan transportasi bisa dipangkas dan ditabung, apalagi dia termasuk orang yang tidak suka menghambur-hamburkan uang, juga tidak ada tanggungan keluarga. Meski belum digunakan maksimal, dia selalu membawa laptop barunya itu ke customer. Hingga suatu saat dia bercerita. “Aku kan mau nunjukin progress ke ibu itu” katanya. “Berhubung tidak memungkinkan untuk melakukannya di komputer si ibu, aku keluarin laptopku.” “Ibu itu langsung komentar: Wah, dah dipinjamin laptop dari kantor ya, biar ini cepat selesai” lanjut Hadi, dengan wajah geregetan. “Terus kamu bilang apa?” tanyaku sambil tertawa, geli campur kasihan. ̶
    Read More
  • 7

    Jul

    Saya Suruh Pulang

    Di tengah-tengah rehat meeting dengan customer, tiba-tiba telepon berbunyi. Ternyata dari customer lain, perusahaan Eropa. Berhubung sedang rehat, aku angkat saja telpon tersebut. “Pak, itu barusan Anda kan kirim orang ke kantor kami. Sekarang langsung saya suruh pulang. Soalnya dia gak tahu sama sekali apa yang mau dikerjakan. Nah, user di sini gak mau ngasih penjelasan ulang dari awal, karena sudah memberi penjelasan detail ke BM. Rencananya hari ini langsung masuk ke penjelasan lebih detail. Ini sudah yang kedua kalinya Pak Anda kirim orang seperti itu.” Demikian kira-kira apa yang disampaikan customer tersebut. Langsung saja aku senewen. Tapi karena dia customer, dan membantahpun gak ada gunanya, aku iyakan saja tanpa banyak memberi komentar. Tapi hati ini benar-benar dong
    Read More
  • 13

    Feb

    Menghargai Donk

    Akhirnya Marta diminta BM untuk mengantikanku meeting dengan customer yang marah-marah tempo hari. Malam itu aku terpaksa menyempatkan untuk melakukan training kilat tentang aplikasi yang ada, agar Marta bisa sedikit nyambung saat meeting. Yah, meeting bisa berjalan cukup lancar, meski ada beberapa hal yang Marta kurang paham dengan jelas. Tapi setidaknya hubungan dengan customer tidak lagi terlalu tegang. “Tahu gak, kemarin kan Mas bilang ‘Pak Anu tu kayak aku. sebenarnya dia bisa saja menyampaikan lewat email atau telepon. Tapi dia maksa aku datang, karena sepertinya dia ingin dihargai, sebagai customer. Ada perhatian lebih, semacam itulah’.” kata Marta waktu bercerita tentang pertemuan kemarin. “Nah, ternyata benar. Waktu kami datang, Pak Anu sudah menyi
    Read More
- Next

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru