• 18

    Sep

    Masalah Keluarga/Orang tua

    “Sebenarnya, ada alasan lain … alasan keluarga”, ungkap Bang Napi, saat aku mencoba menahan dia agar membatalkan rencana pengunduran dirinya. Aku sendiri tidak yakin apakah aku bisa mencegah niat itu, karena toh gak ada yang bisa aku tawarkan. Aku sendiri hanya bisa pasrah. Setelah berbagai alasan diajukan, akhirnya alasan utama tampil. Alasan keluarga. Lebih tepatnya, campur tangan keluarga, dalam hal ini orangtua. Dia mengungkapkan bahwa orangtuanya prihatin dengan keadaannya, khususnya kondisi ekonomi. Orangtuanya berharap bang Napi bisa sukses, namun saat ini masih belum bisa sesuai dengan harapan orangtuanya. Apalagi adiknya tergolong lebih sukses, — dalam hal materi. “Aku sendiri gak mempermasalahkan itu, tapi lama-lama gak enak juga kuping ini ndenger
    Read More
  • 7

    Aug

    Beruntun

    Setelah pagi kemarin ada YM dari Bang Napi tentang pernyataan dia mengundurkan diri, malam ini Aden menyusul dengan pemberitahuan langsung, diakhiri dengan penyerahan surat pengunduran diri. Kabar dari Bang Napi cukup mengagetkan, mengingat selama ini seperti tidak ada tanda-tanda dia akan “menyerah”. … oh iya, baru ingat… beberapa bulan lalu dia sudah sempat menyatakan untuk give up. Sekarang sepertinya dia sudah tidak sanggup bertahan lagi, apalagi kondisi kantor masih belum terlihat menunjukkan perbaikan. Untuk Aden, aku sudah menduga. Dari mulai kinerjanya yang merosot cukup drastis sejak dia dikerjakan di tempat client, dan ketika ditarik kembali ke kantor tetap terlihat tidak ada motivasi yang bagus. Malah akupun sempat punya rencana untuk tidak memperpanjan
    Read More
  • 23

    Apr

    Tiap Jumat Kemana?

    “Bang Napi tiap Jumat kemana ya?”, tanya Marta waktu kami makan siang bersama. “Ke Bandung, kuliah”, jawabku. Ada rasa kurang nyaman aku mendengar pertanyaan itu. “Oh, ambil jurusan apa?” “Entah, gak tahu juga. Dia gak pernah cerita. Kata dia, dia sudah dapat ijin dari Prof, jadi aku gak banyak tanya” “Terus, dia ganti hari atau gak?” Nah, mulai pertanyaan yang cukup sensitif. Agak malas juga membahas hal ini. Ada sedikit nada iri, meskipun aku gak bisa menyalahkannya. Wajarlah, karena memang sepertinya kok ada perlakuan yang berbeda. “Ya, kadang hari Minggu dia kerja, kan kuliah cuma Jumat-Sabtu.” jawabku, mencoba mencari jawaban yang aman, meski terkesan membela Bang Napi. “Aku sih cuek aja, toh selama ini ki
    Read More
  • 24

    Feb

    Give Up

    Siang ini aku kerja di tempat customer, mendampingi proses trial aplikasi, di daerah Salemba. Kami diberi ruangan khusus, dengan AC yang super dingin. Untungnya masih ada koneksi internet, jadi gak terlalu suntuk lah. Sambil mengamati daftar kawan di YM, serta status-status mereka, ada satu status yang cukup mengejutkan. Statusnya Bang Napi, cukup singkat “Give Up..”. Waduh … apa maksudnya nih. Bang Napi sekarang menjadi salah satu pilar penting di bagian produksi. Setelah beberapa karyawan resign dalam waktu dekat, hanya dia yang cukup paham tentang aplikasi akunting, dan dia saat ini mendapat “beban” untuk beberapa proyek besar yang penting. Konsekuensinya memang dia menjadi cukup pontang-panting. Aku tahu berat beban yang dia tanggung, apalagi dengan kon
    Read More
  • 7

    Jan

    Jomblo, Pacaran dan Menikah

    “Kalau mas pasti kan tabungan dah banyak.”, pertanyaan Bang Napi waktu aku membonceng Bajaj-nya menuju kantor. “Ah, gak juga. Gak sempat nabung. Gajiku kan gak seberapa.”, jawabku apa adanya. “Ya setidaknya kan lebih tinggi dari gajiku. Kan mas tahu gajiku.” “Yah, begitulah, pengeluaranku banyak.” “Emang apa aja sih, perasaan gak ngapa-ngapain.” tanyanya ngotot. “Cicilan, kontrakan ibu, dan sebagainya. Biaya makanku cukup banyak. Belum lagi pengeluaran saat weekend.” ungkapku meyakinkan. Heran juga, kenapa aku cerita masalah pribadi. Tapi emang dasarnya buatku agak malas menyimpan rahasia, asalkan gak diobral aja. Tetap ada batasan-batasannya. “Makanya, orang pacaran biasanya lebih boros dibandingkan orang y
    Read More
  • 28

    Nov

    Kerja Layaknya PNS

    Tiga hari terakhir ini, aku, Bang Napi dan Aden dinas keluar kota, untuk suatu proyek dengan salah satu instansi pemerintahan daerah. Kami terpaksa nginap di kota itu, karena jam kerjanya benar-benar parah menurutku. Jam 8 masuk kerja, sementara jam 2 sudah pulang, malah kadang jam 1 beberapa karyawan sudah tidak ada di kantor. Mau tak mau (sebenarnya sih dengan senang hati) kamipun mengikuti ritme tersebut. Jam 8 lebih berangkat dari hotel menuju kantor client, kadang jam 9 kurang baru nyampe kantor. Setelah itu, jam 12 lebih kami sudah pulang karena toh pegawainya makan siang dan bentar lagi juga mereka pulang ke rumah. Jadi, selepas makan siang, kamipun melenggang ke hotel, istirahat, membuat laporan singkat dan nonton tivi :D Apalagi hari ini, berhubung pegawai yang ingin kami temui
    Read More
  • 18

    Nov

    Mix-Max

    Terkadang bercanda bisa jadi bumerang. “Tadi kan Bang Napi nawarin mau mbeliin sesuatu, aku teriak Mix-Max, maksudnya bercanda”, kata Om Bag waktu aku lagi di dapur mau buat teh manis. Dia sambil menenteng sebotol Mix-Max warna merah (entah rasa apa). “Eh, lha kok dibeliian beneran. Langsung saja Bang Napi manyun”, lanjutnya sambil tertawa. Spontan akupun ketawa. Bang Napi, dengan predikatnya sebagai ustad de facto, pasti manyun kalau tau niat baiknya ternyata untuk membeli sebotol minuman haram, meskipun kadarnya sedikit. Kalau dalam kadar besar dia memabukkan, berarti dalam kadar sedikitpun tetap haram, begitulah sedikit banyak penjelasannya tentang minuman memabukkan, dalam sebuah percakapan ringan suatu malam. “Lha wong saya nggak tahu kok. Saya kan ta
    Read More
- Next

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru