• 7

    Aug

    Beruntun

    Setelah pagi kemarin ada YM dari Bang Napi tentang pernyataan dia mengundurkan diri, malam ini Aden menyusul dengan pemberitahuan langsung, diakhiri dengan penyerahan surat pengunduran diri. Kabar dari Bang Napi cukup mengagetkan, mengingat selama ini seperti tidak ada tanda-tanda dia akan “menyerah”. … oh iya, baru ingat… beberapa bulan lalu dia sudah sempat menyatakan untuk give up. Sekarang sepertinya dia sudah tidak sanggup bertahan lagi, apalagi kondisi kantor masih belum terlihat menunjukkan perbaikan. Untuk Aden, aku sudah menduga. Dari mulai kinerjanya yang merosot cukup drastis sejak dia dikerjakan di tempat client, dan ketika ditarik kembali ke kantor tetap terlihat tidak ada motivasi yang bagus. Malah akupun sempat punya rencana untuk tidak memperpanjan
    Read More
  • 16

    Jan

    Dua Ribu Ditambah Sebungkus Rokok

    “Wah, setiap kali lewat tempat ini, saya jadi ingat kejadian waktu malam-malam di sini” kisah Aden sambil tersenyum. Waktu itu kami baru saja naik bis ke Cikarang dari Blok M. Rupanya, beberapa hari lalu, sepulang dari salah satu customer di Salemba, dia menuju ke Blok M untuk menunggu bis. Sudah cukup larut, hampir jam 10. Dari Cikarang dia cuma berbekal uang 50ribu, itupun aku yang meminjami karena bendahara kantor belum datang. Dari perhitungannya, uang itu pas-pasan lah untuk ongkos bis Cikarang-Jakarta PP. Apalagi siang hari makan dibayarin oleh Kandar. Jadi, sepertinya masih ada sisa untuk beli rokok. “Dah seharian gak ngrokok” katanya. Tanpa handphone dan jam tangan, dia sama sekali gak ngerti saat itu sudah jam berapa. Dari penjual rokoklah dia tahu kalau
    Read More
  • 31

    Dec

    Hape dan Cewe

    “Wah, kemarin aku diledekin ama Renaldy”, cerita Aden waktu lagi ngumpul rame-rame di dapur. Sekarang dapur lebih banyak diberdayakan sebagai ajang ngerumpi, khususnya bagi para smoker. “Masak dia tahu-tahu pamer: Den, aku barusan dapat sms dari cewe. Yah, nyindir dua kali tuh namanya. Pertama, saya gak punya hape. Yang kedua, masih jomblo pula. Sakit deh… “. Kami semua tertawa mendengarnya. Kelakar seperti itu cukup membawa suasana jadi rileks, santai dan akrab. Paradoks memang, kesusahan seringkali menjadi bahan yang ampuh untuk bersenda gurau. Aden masih “terpuruk” atas musibah hilangnya handphone. Sebenarnya dia cukup santai menghadapinya, hanya saja teman-teman sering mengungkit-ungkit itu dan menjadikan bahan bercanda.
    Read More
  • 23

    Dec

    Tidur dulu, lah!

    “Bag, mau ke Jakarta?” teriakku masih setengah mimpi. Dengan rasa malas, aku mendengar kesibukan Om Bag untuk pergi ke tempat customer, mengejar bis jam 8 pagi. “Iya”, jawabnya. “Bareng Iyor aja, katanya mau ke Jakarta jam 8. Aden juga. Aku juga sih”, kataku sambil membereskan kasur dan selimut. “Oh gitu, ya udah. Tapi kira-kira bisa tepat waktu gak ya? Riskan juga nih.” kata Om Bag. “Perginya sama siapa?” tanya Bang Napi. “Pak Togar kayaknya.”, jawabku. “Oh, pak Togar sih tepat waktu. Yang jadi masalah si Iyor.” “Iyor juga rasanya cukup disiplin kok. Cuma dia pergi bareng Gita”. kataku “Wah, itu dia. Kalau yang itu harapan tipis”, sahut Aden sambil tertawa. Sebagai sahabat a
    Read More
  • 19

    Dec

    Rusaknya Rasa Aman

    Hampir lima tahun aku tinggal di kantor, selama itu pula aku merasa keadaan kantor (dan kompleks secara umum) aman. Aku gak kuatir meletakkan barang apapun di meja atau dimanapun, - dompet, duit, handphone, kamera, laptop, dsb -, dan memang belum pernah merasa ada kehilangan yang berarti. Emang sih, beberapa kali duit receh lenyap, dan pernah sekali duit ilang, tapi tidak membuatku merasa gak aman. Bahkan orang yang baru bergabung di kantorpun terbiasa dengan suasana tersebut, suasana aman dan saling percaya, yang kadang malah jadi teledor. Beberapa orang sering meletakkan barang sembarangan, dan ribut ketika dia butuh barang itu karena lupa naruh dimana. Tapi toh akhirnya ketemu juga. Namun hari itu, rasa aman itu rusak, hancur gara-gara ulah supir gak bertanggung jawab. Bose, yang bebe
    Read More
  • 18

    Dec

    Repotnya Gak Ada Handphone

    Saat ini, handphone atau ponsel sudah menjadi barang primer, kebutuhan pokok. Padahal, hingga masa kuliah dulu, aku belum pernah punya handphone. Saat kuliah dulu, handphone bagiku adalah barang mewah, barang tertier, cuma orang-orang mampu yang punya. Makanya, waktu itu, menenteng handphone dan bertelpon atau sms ria adalah satu gengsi tersendiri. Didukung lagi dengan ukuran handphone yang masih gedhe-gedhe dan berat, mantap buat nimpuk anjing liar. Jangankan handphone, kartu perdana atau pulsa aja tergolong mahal buat ukuran mahasiswa kampung kayak aku. Seingatku dulu, beli kartu perdana bisa mencapai ratusan ribu, padahal jatah bulananku aja cuma 150ribuan, paling banter 300 ribu, itu dah bisa foya-foya. Tapi toh tanpa handphone saat itu, hidup bisa dijalani dengan nyaman, damai dan te
    Read More
  • 16

    Dec

    Tandatangan

    “Aden, kamu aja yang tanda tangan deh”, kata Marta. Budi mengawasi sambil senyum-senyum. Tanpa curiga, Aden segera menandatangani bukti pengambilan uang kas, untuk keperluan ke customer besok. “Nah, ” Marta dan Budi hampir bersamaan berteriak. “Karena dirimu yang tanda tangan, berarti besok dirimu yang buat report.” Aden hanya tersenyum kecut menyadari bahwa dia telah terjebak, maklumlah orang baru yang belum berpengalaman. Membuat laporan biaya perjalanan adalah hal yang sepele, namun seringkali dianggap merepotkan. Mungkin repot ketika harus mengumpulkan bukti-bukti, tapi sebenarnya yang buat repot adalah ketidakdisiplinan yang didukung oleh ketidaktelitian. Seringkali bukti-bukti yang kecil — tiket parkir, tiket tol, bon makan dsb — ter
    Read More
- Next

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru