Maaf Nak, Sementara Jangan Main di Musholla Dulu Ya!

9 Oct 2017

Anakku, sedang beranjak menuju usia 2 tahun, gemar bermain di musholla kompleks. Mungkin karena tempatnya terbuka, lapang dan sejuk, beda dengan kondisi rumah yang sempit. Padahal di situ dia paling-paling hanya bermain sapu dan kain pel, sesekali bermain spidol dan penghapus yang sering dipakai untuk belajar mengaji. Agak merepotkan bagiku adalah karena bocah ini gemar keluar-masuk musholla, dan aku harus memastikan dia melepas/memakai sandal sesuai tempatnya. Karena biasanya musholla sepi, jadi kami bisa santai saja bermain.

Saat aku hendak pindah ke kompleks ini, penghuni rumah yang hendak aku beli bercerita kalau di kompleks ada musholla, tapi biasanya sepi dan hanya dimanfaatkan saat bulan puasa. Tapi sejak 2-3 tahun terakhir aku lihat warga mulai berkeinginan untuk lebih banyak memanfaatkan musholla itu untuk sholat berjamaah dan berbagai kegiatan keagamaan. Malah kabar terakhir ada rencana untuk merenovasi musholla itu jadi lebih megah.

Aku cukup senang dengan rencana renovasi itu. Soalnya musholla itu juga sering dipakai untuk kegiatan warga kompleks, seperti acara silaturahmi di hari-hari tertentu, dan juga untuk rapat warga - misalnya saat pemilihan pengurus kompleks. Bayanganku, selain untuk tempat ibadah (muslim), juga untuk fasilitas umum yang bisa digunakan warga secara luas.

Hingga kemarin.

Hari minggu ada kegiatan belajar bahasa Inggris untuk anak-anak kompleks, yang digagas oleh forum ibu-ibu kompleks, dengan persetujuan pengurus (ya setidaknya ketua RT). Edaran kegiatan itu sudah disebar sebulan lalu, dan jelas-jelas disebutkan menggunakan musholla sebagai tempatnya. Ketika acara pertama dilakukan, langsung ada satu warga yang memprotes KERAS. Dengan tegas dia mengungkapkan ketidaksetujuannya kalau musholla dipakai untuk belajar bahasa Inggris. Itu rumah Allah, katanya.

Sebenarnya agak aneh kok dia baru protes sekarang, sementara selebaran sudah dibagikan sebulan lalu, dan obrolan ini pun sudah berlangsung lama di forum ibu-ibu, yang notabene pasti istrinya juga ikutan. Tapi ya sudahlah, bagiku sebagai minoritas, sebaiknya menghargai saja.

Mulai sekarang, aku anggap musholla adalah tempat yang ekslusif, jadi sebisa mungkin aku perlu menghindar, daripada nanti ada salah paham. Lha pak RT yang muslim saja bisa “salah” mengambil keputusan, apalagi aku. Ada baiknya aku perlu memberi pengertian juga ke anakku, agar tidak seenaknya lagi bermain di sana.

Btw, saat kecil aku dan teman-temanku senang bermain di masjid. Santai saja. Tapi tetap saat itupun aku berusaha sebisa mungkin menjaga diri, karena aku tahu selain itu tempat “suci”, itu juga tempat yang aturannya tidak terlalu aku pahami.


TAGS agama tempat ibadah musala musholla tetangga


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru