Ketika Terror Menjadi Lelucon

18 Jan 2016

Satu jam setelah berita tentang bom Sarinah (atau bom Thamrin), seorang kawan dari negeri Singa mengirim pesan singkat menanyakan kabar. Dia dulu bekas customer, tapi kami masih menjalin silaturahmi dengan baik. Aku kabarkan kalau keadaanku baik-baik saja dan tidak terpengaruh oleh kejadian itu karena rumah memang jauh dari lokasi kejadian. Dia bilang dia sedang mengabari teman-temannya yang di Jakarta. Tindakan yang mulia, suatu bentuk perhatian dan kepedulian terhadap teman.

Sementara itu, respon masyarakat Indonesia itu sendiri, terutama warga Jakarta, mulai bergeser. Dari yang kaget, prihatin, lega hingga akhirnya ketawa-ketiwi. Iya, tanpa menghilangkan rasa bela sungkawa yang dalam bagi para korban peledakan itu, orang-orang mulai membuat lelucon terkait bom tersebut. Setidaknya itu yang aku temukan di pagi hari, ketika media sosial penuh dengan meme terkait bom,  yang kebanyakan akan mengundang senyum.

“Saya tahu kemarin ada berita soal bom teroris di Jakarta, kamu gak terpengaruh kan?” tanya si Bos di negeri Singa.

“Gak masalah, soalnya rumah kan jauh. Kebetulan juga istri sudah cuti dari kerjaan” jawabku ringan dengan bahasa Inggris ala kadarnya.

“Oo… ya baguslah.”

“Malahan pagi ini banyak yang membuat lelucon tentang kejadian itu”

“What? Joke???”, kagetlah bosku itu.

Tapi begitulah kenyataannya. Semoga rakyat Indonesia tetap tegar dan tidak takut dengan ancaman dari manapun, namun tidak kehilangan akal sehat dan kewaspadaannya.


TAGS bom terorisme bom sarinah jakarta


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru