Curhat Penjual Gudeg

8 Jan 2016

“Piye, wis lairan?” tanya ibu penjual gudeg dekat rumah. Hampir seminggu sekali aku beli gudeg di sini untuk mengobati kangen kampung halaman. Apalagi dia juga jual mangut lele yang susah ditemukan di Jakarta.

“Dereng, perkiraan 2-3 minggu malih”, jawabku.

“Anakku uwis, wedhok maneh”.

Siang ini aku sengaja makan di tempat karena nasi di rumah tinggal sedikit. Kebetulan warung lagi sepi dan seperti biasa, ibu itu cukup ramah untuk mengajak ngobrol. Dia bercerita soal anaknya yang baru saja melahirkan.

“Kasihan, anakku ini ditinggal pergi suaminya”, katanya mulai bercerita.

“Ditinggal kerja di mana?” tanyaku sambil menikmati mangut lele dan kerupuk yang agak melempem.

“Bukan kerja, tapi ditinggal minggat. Gak ada kabarnya”.

“Waduh. Suaminya orang mana?”

“Orang Palembang. Bapaknya Palembang tapi ibunya Jawa. Ketemu di tempat kerja. Ini dah yang kedua”.

Walah…

Ternyata anak ibu ini sudah menikah 2 kali meskipun usianya baru 23 tahun, dan mendapat anak dari masing-masing pernikahan. Pernikahan pertama kandas karena sang suami ternyata penipu yang suka berjudi. Eh, menikah lagi kok ya dapat suami yang brengsek.

“Suami yang terakhir ini juga enteng tangan, makanya saya kasihan juga” lanjutnya.

“Ya namanya hidup, ada-ada saja nasibnya Bu”, kataku mencoba berbasa-basi.

Lelakon kok ana-ana wae. Selesai makan aku pesan gudeg untuk makan nanti malam, dan ketika pulang aku hanya bisa berdoa semoga keluarga ibu itu diberkati. 


TAGS pernikahan curhat


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru