Ketika Gereja Terjebak Horoskop ala Yahudi

12 Oct 2015

Sejak kecil aku selalu diajarkan untuk tidak percaya dengan berbagai macan ramalan bintang, horoskop, zodiak, shio dan sebagainya. Tidak hanya di lingkungan kristen di gereja yang terbatas, tapi juga di lingkungan masyarakat yang mayoritas muslim. Herannya, di majalah-majalah selalu saja ada rubrik ramalan-ramalan seperti ini. Belakangan, aku agak geli sekaligus trenyuh ketika mendapati ada gereja yang secara tidak sadar mempraktekkan sesuatu yang mirip dengan horoskop ini. Apa itu?

Sebelumnya aku pengen nonstalgia dulu. Sejak remaja aku hobi membaca, termasuk membaca majalah. Mulai dari majalah anak-anak, remaja dan juga dewasa (ups .. maksudnya majalah umum). Meskipun di otak sudah ditanamkan keyakinan untuk tidak mempercayai itu, tapi aku hampir tidak pernah melewatkan rubrik horoskop, khususnya zodiak Yunani. Bintangku Aries, dan aku senyum-senyum saja kalau ramalan bintangku bersifat baik. Apalagi kalau sudah baca ramalan asmara, padahal masih jomblo ting-ting :D

Selain itu ada juga ramalan berdasar weton adat Jawa, atau lebih populer disebut primbon. Ini ditemukan di koran lokal dan juga majalah khusus berbahasa Jawa. Sama uniknya, tapi aku merasa ramalan weton ini lebih berkelas dan lebih sulit dipahami hehehe.

Semakin beranjak dewasa dan makin luasnya pergaulan karena pindah ke kota besar, aku mulai kenal dengan ramalan berdasar shio Tionghoa. Apalagi sejak hari raya Imlek dijadikan hari libur nasional dan perayaan tidak lagi dilakukan terbatas, ramalan shio ini mulai marak di mana-mana. Aku jadi kenal adanya penanda tahun seperti Tikus Tanah, Naga Api ataupun Kuda Kayu. Menambah wawasan saja.

Lalu apa hubungannya dengan gereja?

Aku yakin, sebagian besar gereja akan mengatakan ketidakpercayaan terhadap ramalan bintang dari mana saja, termasuk ramalan dari adat istiadat di daerah tertentu. Kalaupun ada orang Kristen yang percaya, itu keputusan pribadi. Ada kok orang Kristen yang tidak hanya percaya pada ramalan perbintangan, bahkan rajin pergi ke dukun. Ini sih hak pribadi, yang jelas dia tidak sedang mempraktekkan imannya sebagai orang Kristen.

Seringkali dalam berbagai kotbah di gereja, ramalan-ramalan bintang, primbon atau shio itu dijadikan olok-olok. Intinya untuk meyakinkan, bahwa hanya kepada Tuhan saja kita harus percaya dan tidak perlu takut dengan berbagai ramalan atau mitos. Tentang apa yang akan terjadi, kita diajar untuk berserah penuh pada Tuhan, dan terus menjalin hubungan dengan Tuhan agar bisa mengerti maksud dan rencanaNya. Bahasa rohanninya, intim dengan Tuhan. Kalau istilahnya Sujiwo Tejo, pacaran dengan Tuhan.

Tapi sejak beberapa tahun terakhir ini, tiap tahun, aku mendapat kotbah tahunan yang menggelitik. Kotbah ini berupa misi atau tema tahunan yang disampaikan oleh gembala sidang terkait dengan apa yang Tuhan inginkan. Dan tema tahunan itu mengacu pada kalender YAHUDI. Ok, soal kalendar sih gak masalah. Yang jadi masalah utama adalah pihak gereja (mungkin karena pendeta utamanya) menafsirkan tema berdasar angka tahun tersebut. Contoh, 5773 adalah Ayin Gimel dan 5776 adalah Ayin Vav. Terus dengan ilmu cocoklogi, dikatakan bahwa bentuk Ayin itu seperti bentuk mata, terus dapat ilham (terlalu merendahkan kalau memakai kata pewahyuan) bahwa itu menunjukkan bahwa “Mata Tuhan sedang mengawasi kita”, dan mengutip sebuah ayat. Ayatnya sih benar, maknanya juga benar. Tapi cocoklogi yang dilakukan itu keterlaluan. Lha kalau sudah ganti tahun apakah Mata Tuhan tidak lagi mengawasi kita? Lah?

Sound familiar? Yup, mirip dengan ritual tahunan bagi warga Tionghoa ketika Imlek. Mulai ramai tentang nama tahun baru yang akan dijalani, sesuai shio. Tahun ini (2015) adalah tahun Tikus Tanah, artinya bla-bla-bla, dan kita harus begini dan begitu, terutama bagi yang punya shio naga, kuda, babi dan sebagainya. Lalu apa bedanya ritual tahunan Imlek dengan ritual tahunan di gereja yang berkiblat pada penanggalan Yahudi itu? Sama saja. 

Apakah dengan melakukan cocoklogi makna angka dan ditafsirkan dengan mencomot ayat Kitab Suci yang dianggap cocok itu menjadikan “horoskop Yahudi” ini jadi alkitabiah dan sah? Aku rasa tidak. Tetap saja aneh, kalau tidak mau dibilang menyesatkan. Ya untunglah, derajat penyesatan di sini tidaklah parah. Aku yakin hal ini tidak akan berdampak pada iman kebanyakan orang, tidak akan membawa kemurtadan juga. Hanya saja, imho, praktik ini tidak mencerdaskan!

Galatia 4:9 Tetapi sekarang sesudah kamu mengenal Allah, atau lebih baik, sesudah kamu dikenal Allah, bagaimanakah kamu berbalik lagi kepada roh-roh dunia yang lemah dan miskin dan mau mulai memperhambakan diri lagi kepadanya?
Galatia 4:10 Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun.

 

Kalaupun mungkin dulu orang Israel di jaman Perjanjian Lama masih mempraktekkan ritual berdasar angka tahun, maka sudah seharusnya hal itu tidak perlu dilakukan lagi. Biarlah itu hanya menjadi pengetahuan dan pelajaran secukupnya tapi bukan menjadi budaya yang diikuti. Yesus sudah menebus dan menyempurnakan kita, gak perlu ramalan-ramalan cocoklogi ala tahun Yahudi lagi. Marilah kita ajak orang Kristen, dan juga nonkristen, untuk mengenal Yesus lebih dekat, bukan dengan tahayul dan mitos yang tidak mencerdaskan dan tidak mendewasakan.

Ada satu postingan terkait dengan ini yang cukup menarik juga : Salah Kaprah dalam pemahaman Tahun Baru Yahudi


TAGS kristen gereja horoskop ramalan zodiac


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru