Mulailah Bijak di Media Sosial, Karir Bisa Jadi Taruhan

2 Sep 2015

Jobvite, sebuah situs perekrutan pegawai di Amrik, tahun ini mengeluarkan hasil survey tentang hubungan rekrutmen karyawan dengan aktivitas di media sosial. Cukup menarik bahwa 52% perekrut karyawan mempertimbangkan perilaku kandidat di media sosial dalam proses rekrutmen itu dan sebagian besar mendapatkan hasil yang negatif. Media sosial yang sering menjadi acuan adalah LinkedIn, Facebook dan Twitter. Meskipun survey itu mungkin dilakukan di negeri Paman Sam saja, ada baiknya kita mengambil hikmah dari hal ini.

Akhir-akhir ini postingan di media sosial sering kali memprihatinkan. Sepertinya apa yang ditulis benar-benar curahan emosi yang tidak terkendali dan tidak disaring. Kayak kesempatan untuk meluapkan jati diri yang sebenarnya. Memang, yang namanya orang curhat atau melampiaskan emosi, bisa memberi kelegaan. Amarah yang ditahan seringkali bisa jadi penyakit. Tapi jelas semua itu tetap perlu dilakukan dengan bijaksana. Begitu juga dengan postingan yang sifatnya kritik, keluhan atau sekedar bercanda. Sah-sah saja, toh kita masih hidup di negara bebas dan kebebasan berpendapat juga dilindungan oleh undang-undang. Tapi ingat, mulutmu harimaumu, dan di jaman media sosial ini, postinganmu harimaumu.

Melihat banyaknya postingan-postingan sampah di media sosial yang beredar, dan kadang sampahpun banyak yang membagikannya, aku jadi kepikiran juga kalau suatu saat punya perusahaan sendiri atau disuruh melakukan proses rekrutmen. Apalagi bidang yang aku geluti adalah bidang teknologi informasi. Kepikiran untuk mewajibkan semua pencari kerja menyertakan akun media sosial (minimal fb, twitter, linkedin atau syukur2 kalau ada detik!connect hehehe). Bagi yang tidak menyertakan, akan langsung masuk antrian paling bontot hehehe. Lha kan jaman sekarang sudah lumrah untuk orang punya smartphone dan juga punya akun media sosial. Perkara aktif atau tidak, itu urusan belakangan.

Lah, kalau mereka curiga aktivitas mereka di media sosial akan diawasi, kan mereka bisa melakukan bersih-bersih atau malah menutup akun mereka? Ya bagus donk, setidaknya proses rekrutmen ini bisa jadi peringatan agar berperilaku yang bijak di media sosial, terutama yang sifatnya terbuka. Kalau yang tertutup (mirip Path atau grup yang terbatas), ya itu urusan mereka. Ibaratnya orang mau ngapain aja di kamar mandi ya terserah, tapi ketika ada di jalan raya, ya perlu ada sopan santun.

Mungkin di dunia psikologi bakal ada cabang baru, atau minimal teori baru, untuk mengamati karakter seseorang berdasar aktivitas mereka di media sosial. Aktif di medsos tidak selalu buruk, bisa juga baik. Banyak orang yang sangat kreatif di media sosial, banyak yang tulus ingin berbagi motivasi atau hiburan dan banyak yang benar-benar ingin berbagi ilmu dan perhatian. Sering posting  hal yang bagus juga belum tentu menunjukkan kalau perilaku orang itu bagus, apalagi yang diposting cuma copas atau dari sumber yang tidak jelas tanpa usaha untuk mencari konfirmasi. Berbagi sampah bukanlah hal yang bagus, meskipun sesekali sampah itu bisa didaur ulang untuk sesuatu yang berharga.

Perlukan perusahaan mengawasi aktivitas karyawan di media sosial? Hmm… ini akan jadi perdebatan. Menurutku ada pro dan kontranya. Perusahaan tidak boleh ikut campur urusan pribadi seseorang, termasuk apa yang diposting di media sosial. Bahkan seandainya postingan itu menyinggung atau mengkritik perusahaan atau (biasanya) atasan yang bersangkutan, sejauh tidak melanggar hukum dan juga tidak merugikan perusahaan (terkait dengan kinerja dan rahasia perusahaan). Itu adalah hak pribadi. Tapi seperti yang disebutkan di atas, seringkali aktivitas di media sosial bisa dipakai sebagai salah satu pertimbangan tentang karakter seseorang. Jadi bisa juga hal itu masuk ke komponen penilaian untuk menentukan jenjang karir seseorang. Bisa jadi.

Berikut ini beberapa jenis postingan yang seringkali membuatku jengkel, yang sering aku temukan di media sosial.

  • Terlalu sering mengeluh. Entah mengeluh ke pemerintah, mengeluhkan cuaca, macet, bisulan, kerjaan yang banyak (kok sempat update status) dan sebagainya. Orang yang terlalu sering mengeluh biasanya lebay, kurang tahan banting, cenderung pemalas dan keras kepala. Meskipun kadang dalam keluhan terkandung suatu kritikan, tapi biasanya kritikan itu tanpa usaha untuk memberi solusi atau alternatif. Contohnya, mengeluh macet, tapi tetap ingin pakai mobil pribadi dan enggan untuk naik sepeda meskipun jarak dekat.
  • Caci maki dan menghujat tanpa pikir panjang. Lebih parah lagi kalau sampai keluar kata-kata kasar yang tidak perlu dan juga ancaman serta makian berbau rasial. Terakhir ada yang menghujat dan pengancam presiden, dan semuanya. Bahkan kepada orang jahatpun, caci maki sebaiknya tidak perlu dilontarkan di media sosial, gak ada gunanya. Apalagi terhadap sesuatu yang belum tentu jelas kebenarannya.
  • Puja puji berlebihan. Ini kebalikan dari yang sebelumnya. Sama-sama tanpa pikir panjang, tanpa cross check, pokoknya memuja. Tidak hanya kepada pemimpin atau seorang tokoh, tapi juga pada sebuah ideologi, opini atau apapun. Baik yang hobi puja-puji atau caci maki, paling gampang termakan jebakan hoax. Orang yang terlalu buru-buru menyebarkan hoax memiliki masalah dengan karakternya.
  • Postingan yang melanggar hukum. Ini sudah jelas lah. Bisa soal pornografi, penganiayaan (termasuk verbal), fitnah, penipuan dan sebagainya.
  • Pamer, entah prestasi, keluarga, anak, pasangan, gelar, harta, kesalehan atau bahkan pamer kerendahan hati :) Apapun kalau berlebihan itu pasti ada efek negatifnya. Jadi usahakan yang wajar-wajar saja, jangan terlalu.

Mungkin masih ada lagi, tapi sementara itu dulu. Waktunya kembali bekerja!


TAGS facebook twitter


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru