Minimarket, Go-Jek dan Bluebird

8 Jul 2015

Sudah lama terjadi benturan antara pihak bermodal besar dengan pelaku ekonomi bermodal pas-pasan. Kebanyakan konsumen memang lebih condong “memihak” pada pihak yang bermodal besar, karena lebih menguntungkan bagi konsumen. Tapi para pengamat, dan tentu saja pihak yang “tersingkir”, langsung mengecam ulah pemilik modal besar itu. Salah kapitalisme kah? Bukankan semua pelaku usaha itu juga menjalankan kapitalisme, sama-sama memakai modal, cuma beda ukuran. Aku tertarik dengan tiga kasus yang jadi judul postingan ini, pengen sekedar share opini saja.

Taksi

Di Jakarta, merk Blue Bird ibarat default-nya taksi. Di mana-mana taksi ini gampang dijumpai, dan umumnya jadi pilihan pengguna taksi yang ingin merasa nyaman, meskipun perlu merogoh kocek lebih banyak. Tarif taksi yang lebih mahal tidak membuat mereka kehilangan pelanggan karena mereka berusaha menjaga dan meningkatkan pelayanan. Sementara banyak taksi yang meskipun tampak lebih murah, tapi kadang mereka memainkan argo (argo kuda) atau sengaja memilih jalan yang jauh agar dapat bayaran lebih banyak. Soal adanya oknum yang nakal, itu biasa. Entah karena faktor ini atau lainnya, di Jakarta aku belum pernah menemukan taksi yang tidak memakai argo.

Sementara di beberapa daerah, setidaknya dalam pengalamanku beberapa tahun lalu, kadang sopir taksi enggan menggunakan argo. Tarif taksi ditentukan sesuai jarak kira-kira dan tergantung negosiasi. Umumnya lebih mahal jika dibanding dengan argo normal, meskipun kalau pelanggan jeli, dia bisa dapat tarif lebih murah. Tapi aku sangat tidak suka cara ini, karena pada dasarnya aku tidak suka bernegosiasi atau tawar-menawar. Makanya dulu aku malas naik taksi waktu di Semarang atau Jogja, kecuali sangat terpaksa. Belakangan taksi-taksi di kota-kota itu sudah mulai menggunakan argo yang standard, meskipun kadang kalau jarak terlalu dekat mereka enggan mengantar penumpang, atau sebaliknya, kalau jaraknya terlalu jauh misalnya sampai lintas propinsi.

Di sebuah surat kabar, dikabarkan bahwa sopir-sopir taksi protes dengan masuknya Blue Bird di kota mereka. Pada intinya mereka menolak menggunakan tarif argo yang dirasa bisa merugikan mereka karena terlalu “murah” dan bisa membuat pendapatan mereka menurun. Kalau dilihat dari apa yang dilaporkan di berita tersebut, bisa dilihat di sini, penggunaan argo itu mungkin tidak membuat mereka rugi, tapi menurunkan pendapatan mereka. Nah, artinya mungkin selama ini mereka bisa dapat untung besar dengan tidak memakai tarif argo. Kok Blue Bird berani ambil resiko memakai argo? Aku rasa sudah ada hitungan biaya yang terukur sehingga secara bisnis mereka bisa dapat untung. Modal besar memang punya peranan, karena mungkin sopir-sopir taksi lainnya bersifat pribadi, tapi jelas modal belum tentu menjadi faktor utama.

Dalam kasus ini, sebagai konsumen jelas aku memilih yang layanannya bagus dengan harga standard. Kalau pakai harga nego, bagi orang yang tidak tahu pasaran, bisa saja kena “palak” dan harus membayar mahal. Apalagi kalau tampang kita kayak turis yang baru pertama datang ke kota itu. Kalau dirasa tarif argo dianggap terlalu murah, ya minta pemerintah menaikkan tarif yang bisa menutupi biaya tapi tidak terlalu membebani penumpang juga. Bukan dengan menolak pihak lain ikut bersaing. Menurutku sih.

Sebenarnya ada kasus lain terkait dengan taksi ini, yaitu kasus taksi Uber. Nah kalau yang ini aku belum sempat mempelajari masalahnya, jadi mungkin lain kali saja bikin postingannya.

Ojek

Kasus taksi tadi agak mirip dengan ojek, yang saat ini sedang ramai dibicarakan di media sosial, yaitu perseteruan antara Go-Jek dan ojek tradisional. Ojek tradisional, yang sebetulnya merupakan mode transportasi tidak resmi karena belum ada aturan yang mengatur tentang ojek, merasa pendapatan mereka merosot dengan hadirnya Gojek. Apalagi belakangan ini makin banyak orang yang melek teknologi dan merasa lebih nyaman menggunakan Gojek daripada harus capek-capek mencari ojek di pangkalan. Aku temukan beberapa spanduk yang menyatakann pelarangan bagi Gojek untuk mengambil penumpang di kawasan tertentu. Ada juga berita yang tersebar tentang penganiayaan atau ancaman yang dilakukan oleh ojek tradisional terhadap pengendara Gojek.

Sebagai konsumen aku lebih memilih Gojek. Alasannya sederhana : praktis dan tarifnya standard. Sekali lagi, aku paling malas bernegosiasi. Kalau naik ojek biasa, sebisa mungkin aku gak mau menawar. Tapi kadang jengkel juga kalau tahu bahwa tarif yang aku bayar itu jauh lebih mahal dari tarif “biasa”, apalagi kalau kondisi dompet lagi kurang bersahabat. Dengan Gojek, tarifnya standard dan bahkan suka ada diskon. Saat ini sering berlaku tarif flat 10 ribu, jelas menyenangkan konsumen. Tak heran banyak pelanggan yang memilih Gojek, dan pengendara Gojek juga meningkat tajam belakangan ini.

Apa yang dilakukan oleh ojek trandisional? Aku belum menemukan informasi tentang usaha kreatif mereka dalam menyikapi perselisihan dengan Gojek ini, selain dengan cara kekerasan. Secara hukum mereka tidak berhak melarang orang lain, selain hukum premanisme. Memang, dalam kasus ini, modal punya peranan cukup besar. Adanya tarif flat di Gojek tidak mungkin terjadi jika tidak didukung dengan modal yang besar. Makanya menurut salah satu temanku, ada baiknya Gojek merevisi tarif ini, kalau bisa lebih mahal dibanding tarif ojek pada umumnya. Toh mereka tetap akan punya pelanggan karena segmen pasar yang berbeda. Mirip taksi Blue Bird lah.

Tapi faktor lain yang berpengaruh adalah faktor teknologi. Mereka menggunakan aplikasi mobile yang lebih praktis, baik bagi penumpang maupun pengendara. Penumpang tidak perlu repot datang atau mencari pangkalan ojek, ataupun bengong di pinggir jalan. Cukup memainkan smartphone dan ojek akan menjemput. Sementara beberapa pengendara ojek tradisional menyatakan keengganan mereka untuk bergabung dengan Gojek karena mereka tidak suka pakai smartphone dan tidak suka diatur-atur waktunya. Nah, kalau sudah bicara persaingan, ya harus repot, gak bisa maunya santai saja. Harus ada inovasi dan juga peningkatan pelayanan. 

Ada temannya teman yang posting status di facebook, tentang tukang ojek langganannya yang mulai rajin menyebarkan kartu nama sehingga kalau ada yang perlu layanan ojek bisa langsung sms atau telpon. Ini salah satu inovasi dan kreativitas dan bisnis, tidak hanya menunggu bola. Ada usaha lebih untuk memberi layanan yang lebih baik ke pelanggan. Kalau alasannya malas, ya itu sih sudah gak perlu dibela. Kalaupun ada paguyuban ojek panggalan, ya mereka harus bersama-sama mencari solusi biar penumpang gak lari ke Gojek, dengan meningkatkan layanan, bukan dengan menebar ancaman. Aku yakin pasti ada solusi yang lebih bijak tanpa harus banyak mengeluarkan modal.

Minimarket

Bulan lalu temanku dari Padang cerita bahwa di kota Padang (atau mungkin juga di Sumatera Barat) tidak ada Indomaret ataupun Alfamaret. Pemerintah tidak memberi ijin karena bisa mematikan toko-toko kecil. Kedua minimarket itu didukung oleh modal yang sangat besar dan gudang berskala. Selain Padang, kota lain yang membatasi ijin dibukanya minimarket adalah kota Surabaya.

Untuk kasus ini aku tidak membela salah satu, entah minimarket atau toko tradisional. Aku lebih suka belanja di minimarket karena praktis, meskipun mungkin harganya tidak beda jauh. Kadang belanja di toko tradisional bisa lebih murah juga. Apalagi kalau minimarket semacam Circle-K dan 7 Eleven. Alasanku lebih sering ke minimarket adalah kenyamanan dalam berbelanja dan pilihan barang yang lebih banyak. Di minimarket atau toko swalayan, kita bisa “bebas” berkeliling toko dan mencari barang yang kita inginkan, bahkan kadang sekedar survey harga, pengen tahu harganya doang. Kalau gak ketemu, ya pergi saja. Sementara di toko tradisional, kita harus tanya ke pemilik toko, bisa ada bisa gak, paling apes kalau ketemu pemilik toko yang kurang ramah. Agak membosankan, dan buatku seringkali hal itu kurang nyaman. Ada beberapa toko kelontong yang menata tokonya mirip minimarket, nah kalau yang ini aku suka mampir. Tapi kalau aku dah akrab dengan toko kelontong tertentu, misalnya ada penjual yang ramah, aku juga bakal sering ke situ, karena nyaman.

Peranan Pemerintah

Memang peranan pemerintah paling penting dalam mengatasi kasus-kasus persaingan bisnis antara pemodal besar dan usaha kecil. Tidak boleh terlalu membela salah satu, harus bisa mengakomodir kepentingan keduanya dan juga tanpa mengorbankan konsumen. Soal taksi, aku rasa menggunaan argo yang standard sudah harus diwajibkan, termasuk sanksi bagi  pengemudi yang nakal memainkan argonya. Demikian juga dengan ojek, sudah waktunya angkutan ini ada peraturan yang jelas. Ojek sudah ada sejak aku kecil, tapi sampai saat ini tidak ada peraturan yang jelas. Adanya peraturan bukan untuk mempersulit masyarakat kelas bawah, tapi justru kalau bisa membantu mereka. Misalnya dengan dukungan pelatihan atau bantuan modal. Atau mendorong para pengendara ojek untuk membuat organisasi semacam Organda. Untuk kasus minimarket, tidak perlu sampai melarang total, tapi cukup membuat  batasan ijin. Setahuku regulasi soal perijinak minimarket itu sudah ada, hanya implementasinya yang selalu kedodoran.

Kalau ingin membantu rakyat kecil, alih-alih dengan menyalahkan kapitalisme, bantuan modal dari pemerintah juga salah satu solusi. Aku rasa ini sudah dilakukan, hanya mungkin sosialisasi yang agak kurang. Selain itu koperasi juga bisa jadi solusi untuk membantu kelompok usaha kecil. Sudah saatnya LSM-LSM anti kapitalisme bekerja secara praktis, membantu para pelaku usaha kecil agar bisa lebih kreatif dan meningkatkan layanan mereka, tidak cuma mengandalkan pemerintah.


TAGS teknologi bisnis transportasi ojek taksi toko minimarket kompetisi


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru