Resign Yang Mengharukan

23 Feb 2015

Ini bukan pertama kali aku mengundurkan diri dari pekerjaanku. Ya, sebelumnya juga pernah. Kali ini pengunduran diriku agak sedikit beda dengan waktu di kantor sebelumnya. Sudah 4 tahun kurang 1 bulan aku bergabung dengan perusahaan yang sudah membawaku mondar-mandir ke negeri singa ini, dan sekarang waktunya aku untuk beranjak.

Jelas Mr TC menyayangkan keputusanku. Dia menanyakan alasan aku keluar dan juga memberi berbagai alternatif yang kira-kira bisa membuat aku tetap bertahan di sini. Tapi tekadku sudah bulat, jadi aku tetap menolak apapun penawarannya, sampai tibalah pada satu pertanyaan dari dia “Apakah kamu ada keinginan untuk tetap bertahan?”. Jawabku mantap, “Tidak!”. Selanjutnya tidak ada lagi penawaran. Dari obrolan “exit interview” tersebut, akupun sadar alasan paling kuat aku mengundurkan diri, adalah karena aku merasa tidak lagi cocok dengan Mr. TC.

Sehari setelah aku mengirim surat pengunduran diri, aku langsung memberi kabar ke Gita. Dia sempat curiga waktu aku ajak makan siang, padahal sebenarnya agak sering juga aku mengajaknya makan siang, daripada bengong sendirian di rumah. Reaksinya, sedih dan kecewa. Bahkan dia bilang sampai nangis di rumah dan bikin suaminya heran. Keputusanku juga sudah bulat, jadi ya dengan berat hati juga aku terpaksa meninggalkan teman-temanku. Tapi selain reaksi teman-teman kantor, yang membuatku terharu adalah reaksi beberapa customerku.

Pertama reaksi dari salah satu dosen. Meskipun proyek dengan kampus ini tidak terlalu intensif, tapi ada beberapa kendala yang membuat mereka perlu bantuan kami. Setelah beres, aku ngobrol basa-basi dengan staf di sana, lewat skype. Mendadak dia nyeletuk “Nanti kalau kamu keluar dari kantormu, tolong kabarin aku secepatnya ya.” Ya langsung saja aku kabarin saat itu juga. Dia kaget, tapi toh bisa paham. Toh dulu dia juga sering pindah-pindah kantor dan kebanyakan hanya bertahan 2-3 tahun di satu tempat.

Yang kedua adalah customer yang cukup akrab denganku, sebuah yayasan, khususnya staf yang selama ini berinteraksi denganku karena dia yang diminta menangani masalah-masalah yang terkait dengan sistem yang kami buat. Seminggu sebelum hari terakhir aku memberitahu dia kalau aku akan keluar. Wah, dia kaget dan sedih. Mungkin karena selama ini sudah terbiasa kerjasama denganku. Jadi seminggu itu, dia langsung kebut membereskan issue-issue yang selama ini masih pending, biar aku segera membereskannya di waktu yang ada. Selama ini aku gak pernah minta nomor kontak pribadinya, dan waktu aku berniat resign ini, malah dia dengan sukarela memberikan alamat email dan nomor ponsel pribadinya. Oh ya, dia itu gadis, masih muda dan belum menikah hehehehe.

Ya sudahlah, live must go on. Belum tentu tempat kerjaku nanti lebih nyaman dan tidak ada masalah seperti di sini. Tapi ya aku berharap di tempat baru ini kerjaanku bisa lebih fokus dan aku bisa lebih enjoy, meskipun secara gaji tidak banyak berubah.


TAGS kerja pengunduran diri resign rekan customer


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru