Efisiensi Kerja

4 Dec 2014

Salah satu tantangan berat bekerja di Jakarta adalah transportasi. Yup, sebagian besar pekerja di Jakarta tinggal di pinggiran atau di tempat yang tidak dekat dengan kantor mereka. Kemacetan adalah makanan sehari-hari. Untuk menuju kantor, bisa menyita waktu lebih dari satu jam, yang artinya minimal bisa 2 jam terbuang sia-sia. Makanya bisa kerja dari rumah masing-masing adalah idaman banyak orang, karena bisa menghindari pemborosan waktu di jalan. Yup, dan itu yang kami lakukan di kantor. Semua orang bekerja dari rumah masing-masing, berkomunikasi secara online lewat jaringan internet.

Tapi ada kalanya kami juga kangen pengen ngumpul bareng. Meskipun bisa ber chit-chat ria di skype atau sosial media lainnya, rasanya tetap beda dibanding ketemu langsung. Apalagi kalau sudah ngobrolin kerjaan yang agak detail, tampaknya media online masih kurang nyaman. Jadi aku sengaja berusaha untuk mencari waktu agar bisa bertemu teman-teman, baik cuma 1-2 orang, atau kalau bisa seluruh anggota tim bisa ngumpul. Kayaknya asyik, apalagi kalau ngumpulnya bukan untuk urusan kerja, piknik bareng misalnya. Tapi tetap gak mau rugi, jangan pas hari libur, karena hari libur adalah waktu pribadi masing-masing. Nah, sayangnya untuk mengumpulkan tiap orang itu juga sulit, karena masing-masing punya kesibukan dan kesulitan sendiri, selain masalah jarak tempat yang cukup berjauhan, meskipun masih di wilayah Jabodetabek.

Beberapa minggu lalu Ikka punya ide untuk ngumpul2 bareng. Kebetulan orangtuanya lagi datang, sehingga dia bisa punya kesempatan sejenak meninggalkan kedua anaknya. Hampir semua teman setuju. Masalah muncul saat aku coba ajukan ini ke bos, dia menolak. Alasannya, saat itu kerjaan lagi banyak dan ada deadline yang perlu dikejar. Aduh, gagal deh. Memang diantara semuanya, Ikka yang paling sulit untuk meninggalkan rumah, karena punya 2 anak yang masih balita.

Jadinya minggu ini aku putuskan untuk kami yang datang ke rumah Ikka. Awalnya obrolanku dengan Ikka dulu, ternyata dia setuju. Nah, aku harus nyari teman, dalam hal ini Gita paling gampang aku ajak, dan dia juga setuju. Apalagi ibunya masih ada di rumah, jadi bisa diminta untuk njagain anaknya. Aku sempat tawarkan ide ngumpul di tempat Ikka ini ke teman-teman lain, tapi gak banyak yang respon, toh ini bukan acara liburan, cuma pindah tempat kerja sama. Sepakat ngumpul. Tujuan kerja, sharing knowledge sebuah proyek, karena Ikka akan dilibatkan dalam proyek itu sementara dia tidak paham sama sekali tentang proyek ini. Sesuatu yang cukup sulit kalau dijelaskan secara online.

Tapi ternyata tantangan muncul dari Tush, direktur proyek (DP) kami yang baru. Dia tanya-tanya ke Ikka, dan Ikka menjelaskan tentang rencana kami ketemuan. Dia nggak masalah dengan rencanaku ketemu dengan Ikka, karenan memang perlu. Tapi dia keberatan, ngapain Gita ikut-ikutan. Ikka menjalaskan karena Gita juga ingin bertanya tentang proyek yang sedang dia kerjakan. Nah, bagi Tush, itu cukup lewat skype, gak perlu melakukan perjalanan yang menghabiskan waktu 2-3 perjalanan. Tidak efisien, katanya. Ikka bingung nyari penjelasan.

Tapi Gita tetap iku. Demikian juga dengan Denur. Sayangnya Tush gak berani mempertanyakan atau protes tentang ikutnya Gita dan Denur. Padahal kalau dia tanya ke aku langsung, aku punya penjelasan yang lebih masuk akal, yaitu terkait dengan gosip. Soalnya suami Ikka kan pergi kerja, jadi di rumah hanya dia dan anak-anak kecilnya. Agak kurang pantas kalau aku, pria yang bukan muhrim, datang ke rumahnya dan nongkrong dalam waktu lama. Apalagi rumahnya gak punya teras yang nyaman, jadi kalau kerja bareng ya harus masuk rumah. Makanya aku mengajak orang lain, dan lebih pas kalau orang lain itu juga teman kerja yang perempuan. Mungkin kalau ini dijelaskan ke Tush, dia juga akan lebih paham.

Ya, aku paham tentang efisiensi. Perjalanan dari rumahku ke tempat Ikka menghabiskan waktu sekitar 4 jam pp. Secara efisiensi waktu jelas tidak efisien. Tapi ada faktor lain dalam pekerjaan, terutama kerja tim. Hubungan antar sesama anggota tim juga sangat penting, dan silaturahmi serta komunikasi sangat diperlukan untuk meningkatkan kerjasama. Jadi setiap pertemuan, asalkan tidak disia-siakan, tidak bisa dibilang tidak efektif hanya karena menghabiskan waktu dalam perjalanan. Jadi produktivitas tidak melulu diukur dari banyaknya waktu yang dihabiskan untuk bekerja, tapi juga seberapa maksimal satu tim bisa menyelesaikan pekerjaan, secara bersama-sama. Seringkali, saat pekerjaan dilakukan secara bersama, dalam arti berkumpul, hasilnya bisa lebih optimal karena masing-masing bisa secara spontan menyampaikan ide. Tentu saja, asal gak banyak buang waktu untuk ngerumpi, ciri khas orang nusantara :)


TAGS silaturahmi rekan kerja


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru