Haruskan Pemilu Bersifat Rahasia?

30 Jul 2014

Jaman orde baru, pemilihan umum memiliki semboyan LUBER - Langsung, Umum, BEbas dan Rahasia. Slogan yang lebih bersifat lips service alias munafik. Kenapa aku bilang munafik, karena sebagian besar suara secara OTOMATIS akan masuk ke Golongan Karya, tanpa ada kebebasan untuk memilih. Bahkan meskipun bersifat rahasia, kalau ada PNS yang memilih partai lain, biasanya akan ketahuan dan kena sangsi. Tapi yang membuatku sedikit berpikir adalah mengapa harus Rahasia, padahal kan Bebas? Bebas seharusnya setiap orang berhak menentukan pilihannya sendiri, tanpa paksaan dan tanpa rasa takut. Kalau tidak ada rasa takut ataupun paksaan, mengapa harus rahasia? Justru dengan adanya transparasi maka berbagai kecurangan bisa diantisipasi.

Suatu kali aku mendampingi pelamar kerja yang sedang diwawancara oleh Mr. TC lewat skype. Karena koneksi internet yang dimiliki oleh pelamar itu, si Iren, kurang stabil, Mr. TC meminta ada wawancara ulang, dan Iren disuruh datang ke tempatku. Salah satu yang ditanyakan adalah perihal pilihan Iren dalam pilpres kemarin. Iren agak ragu menjawab, sepertinya pertanyaan ini agak sensitif bagi dia. Alih-alih menjawab pilihannya secara langsung, Iren hanya menjelaskan pendapatnya tentang kedua calon pemimpin. Aku senyum-senyum saja mendengar alasan itu.

Pertanyaanku justru, masih relevan kah prinsip Rahasia itu dalam sebuah pemilihan umum. Mengapa kita harus merahasiakan pilihan kita di dalam sebuah pesta yang justru merupakan ajang bagi kita menyampaikan hak kita untuk bersuara. Justru dengan bersuara dan terbuka, kita tidak hanya menggunakan hak tapi juga dituntut untuk mempertanggung jawabkan pilihan kita. Seharusnya jaman sekarang tidak boleh lagi ada intimidasi dari pihak manapun yang membuat kita harus menyembunyikan pilihan kita. Inilah demokrasi. Apalagi di jaman sosial media ini, dimana orang beramai-rama dengan bangga memamerkan pilihannya ke media sosial, lengkap dengan berbagai seruan dukungan kepada calon yang dipilih.

Tapi aku juga menghormati kalau ada orang yang tidak mau memberitahukan pilihannya, seperti Iren, karena mungkin masalah pemilu adalah masalah yang sensitif. Aku rasa ini terjadi pada orang-orang yang termasuk golongan “netral”, yang tidak terlalu fanatik dengan salah satu calon dan merasa enggan untuk memberi informasi soal pilihannya. Orang ini mungkin memiliki pertemanan yang berbeda pilihan, dan dia berusaha untuk tetap menjaga hubungan baik dengan semua pihak tanpa harus memberitahukan pilihannya. Banyak teman-temanku yang mengaku “netral” di media sosial, tapi aku yakin mereka tidak “golput”.

Aku rasa KPU dan juga MK juga sudah mulai meninggalkan prinsip Rahasia ini. Terbukti dari bagaimana KPU membeberkan scan form C1 ke website, sehingga semua orang bisa mengakses dan memantau apakah angkanya benar atau tidak. MK juga mengunggah dokumen pengajukan tuntutan dari pihak calon no 1, sehingga semua orang bisa membaca dan mempelajari dokumen itu. Keterbukaan ini menurutku adalah salah satu terobosan besar dalam transparansi penyelenggaraan pemilu. Rakyat bisa ikut berperan dalam mengawasi pemilu, dan semoga KPU dan lembaga lainnya benar-benar jujur dan adil, tidak bermain rahasia untuk kepentingan golongan tertentu.

Kalau memang jujur dan benar, mengapa harus bermain rahasia! Tapi jelas sebagai pengimbang, kita pun tidak perlu harus mengumbar pilihan kita, dengan berbagai kampanye yang bisa memuakkan teman-teman kita dan ujung-ujungnya malah membuat orang lain antipati.


TAGS jujur transparan adil kpu pemilu pilpres demokrasi wawancara


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru