Ketika Black Campaign Hanya Sekedar Kampanye Blek

29 May 2014

Sejak pilkada DKI tahun lalu hingga sekarang menjelang pemilihan presiden baru, ada satu kosakata yang mulai marak beredar di media massa, terutama di dunia maya - Black Campaign. Ada yang bilang ini kampanye hitam, kampanye gelap, atau kampanye kotor. Intinya sih kampanye yang isinya berusaha menjatuhkan seseorang, kalau perlu dengan cara sadis dan tidak masuk akal. Sampai muak rasanya, terutama sejak munculnya nama-nama capres, sosial media dipenuhi dengan tulisan, status, share berita gak jelas, yang isinya cuma kampanye hitam tersebut.

Selain black campaign, ada juga yang memunculkan istilah Negative Campaign. Kalau kampanye negatif ini katanya lebih baik dibanding. Ah, jadi ingat jaman dulu, motret masih pakai film negatif, yg warnanya juga hitam hehehe. Salah satu pendapat bisa ditemukan di sinihttp://politik.kompasiana.com/2014/03/29/black-campaign-vs-negative-campaign-642847.html. Berbeda dengan kampanye hitam yang selalu berkonotasi buruk, kalau kampanye negatif dianggap lebih baik karena mengandung unsur kebenaran, meskipun isinya jelek.

Sekarang melompat ke Jokowi, hmmm…. bukan, ini bukan mencoba promosi atau kampanye hitam/putih soal capres satu ini. Saya tertarik dengan salah satu pemberitaan di facebook tentang anjuran Jokowi untuk melancarkan kampanye hitam terhadap lawan. Mengutip dari berita di berbagai situs, dalam salah satu kesempatan, Jokowi pernah berkata kepada para kader dan simpatisannya “Ceritakan kepada mereka kelebihan kita dan kekurangan lawan”, coba aja googling, pasti banyak ditemukan beritanya. Bagi haters, ini akan langsung dianggap bahwa Jokowi menyuruh orang untuk melakukan kampanye hitam. Bagi lovers, entahlah, maklum, yang mampir ke timeline di facebookku berasal dari haters, atau simpatisan haters:) Tapi aku mencoba untuk jeli membaca pernyataan itu, yang memang sangat gampang untuk dipelintir. Tapi bagiku, pernyataan itu tidak selalu harus diartikan bahwa Jokowi mendukung kampanye gelap, tapi besar kemungkinan dia mendukung adanya kampanye negatif.

Dalam dunia pemasaran, kampanye negatif itu sudah jadi hal yang “wajar”, dan kurasa masih bisa diterima. Beberkan kekurangan produk lawan, dan ceritakan keunggulan produk kita. Apa ada sales yang tidak melakukan hal ini? Apa ada penjual yang tidak bertindak seperti ini? Menurutku ini gak salah, sah-sah saja. Seperti contoh Samsung yang menyindir iPad karena tidak bisa multitasking, dan menyindir Kindle/Nook yang tidak bisa buat nonton film. Kalau kita hanya jualan keunggulan produk kita tanpa tahu bahwa produk lain juga memiliki keunggulan yang sama, itu kurang bijaksana. Membeberkan kekurangan produk lain (lawan) adalah sah dalam suatu pertandingan, selama hal itu adalah kebenaran.

Nah, inilah intinya. Kampanye hitam ataupun kampanye negatif, itu yang penting adalah apakah berita itu benar atau tidak. Jangan sampai membeberkan berita yang masih berupa fitnah atau gosip, karena agama manapun tidak memperbolehkan itu. Tapi kalau menceritakan aib orang, aku rasa masih sah, ASALKAN BISA DIPERTANGUNGJAWABKAN DAN RELEVAN. Relevansi ini yang tidak boleh dilupakan juga.

Contoh kampanye negatif yang benar tapi tidak relevan : Prabowo tidak punya istri. Lah, emangnya ada kewajiban bahwa Presiden itu harus beristri? Kasihan benar para jomblo, padahal menjadi presiden bisa jadi satu cara untuk menggaet jodoh. Ini sama sekali gak relevan dan GOBLOK! Tapi kalau berita tentang Prabowo pernah dipecat dari kesatuan. Nah, ini berita yang benar dan bisa relevan, meskipun bisa juga diperdebatkan apakah ada pengaruhnya dengan jabatan Presiden nanti.

Contoh kampanye negatif lain yang agak aneh : Jokowi pamer kesederhanaan dengan memakai baju 100 ribuan, tapi di rumah punya iPad seharga belasan juta. Terus ditambahi keterangan : Munafik. Nah, bagian pertama adalah benar, tapi bagian munafik, ini sudah mendekati fitnah. Jokowi jelas orang kaya, jadi boleh donk beli barang berharga jutaan. Mungkin kalau ada iPad asli yang harganya 100 ribuan, dia akan beli itu hehehe. Lain halnya dengan kampanye hitam yang mempertanyakan komitmen Jokowi dalam menuntaskan tugas sebagai Walikota Solo atau Gubernur Jakarta. Ini bisa jadi relevan, meskipun tetap juga bisa diperdebatkan.

Sayang sekali, pendidikan politik di negeri ini masih jauh dari harapan. Orang masih dengan mudah digiring dengan opini yang tidak cerdas dan tidak relevan. Tapi moga-moga kampanye hitam itu hanya kerjaan para haters saja, yang memang selalu memandang lawan secara negatif, apapun faktanya. Kalau sudah demikian mah sudah tidak bisa ditolong lagi. Ibarat orang jatuh cinta, tai kambing rasa coklat, juga berlaku buat para haters :D

Lama-lama aku lebih memilih memaknai black campaign itu sebagai kampanye blek. Iya, blek yang dipakai buat menyimpan biskuit, tapi mungkin kita lebih mengenal blek itu untuk menyimpan kerupuk. Blek yang kalau dipukul suaranya nyaring, suara yang kadang tidak menyenangkan. Tapi orang suka dengan isinya, kerupuk. Meskipun isinya itu tidak bergizi. Seperti halnya kampanye blek, nyaring, kadang memekakkan telinga, tapi isinya hanya renyah, disukai tapi tidak bergizi. Kalau Anda memang cerdas, jangan mau dicekoki dengan suara blek dan krupuk melulu. Kerupuk memang enak, tapi jangan sampai lupa untuk memperbanyak makanan yang lebih sehat.


TAGS black campaign pemilu pilpres jokowi prabowo opini bijaksana


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru