Are You Overpaid Employee?

3 Oct 2012

Masalah overpaid atau overpayment dalam sebuah perusahaan biasanya menjadi beban bagi manajemen ataupun pemilik perusahaan, tapi bukan bagi karyawan. Jarang sekali karyawan merasa peduli jika dia dibayar lebih dibanding kontribusi yang diberikan, tapi karyawan hampir selalu mengeluh jika dia merasa dibayar kurang atau disuruh bekerja lebih dari kompensasi (gaji) yang dia terima. Yang aku maksud dengan overpaid di sini bukanlah dibayar kurang dari kesepakatan, tapi dibayar sesuai dengan kesepakatan, hanya saja kontribusi karyawan tersebut tidak sebanding (kurang) dengan gaji yang dia terima.

Pernahkah ada karyawan, apalagi buruh, yang datang ke HRD atau manager untuk bilang “Pak, maaf, saya merasa skill dan kontribusi saya ke perusahaan kurang sesuai dengan gaji. Jadi silahkan kurangi gaji saya”. Mustahil! Meskipun sadar, seringkali yang ada adalah diam saja, atau malah menyombongkan diri ke teman-teman :) Masalah karyawan yang overpaid sebenarnya banyak terjadi, tapi tertutup dengan isu underpaid yang terjadi di kalangan buruh dan perusahaan Indonesia, apalagi cukup lama kita dikenal sebagai penyedia tenaga kerja murah.

Apa jadinya kalau tiba-tiba atasan kita berkata kalau gaji kita ini overpaid, gaji yang dibayarkan tidak sesuai dengan skill atau kontribusi kita di perusahaan, dan menyebabkan kerugian perusahaan. Berikut ini reaksi yang mungkin terjadi : marah, kecewa, introspeksi, takut ataupun cuek.

Marah dan kecewa, ataupun tersinggung. Aku rasa itu reaksi yang paling umum terjadi. Orang akan merasa direndahkan atau tersinggung dengan pernyataan itu, bisa jadi karena merasa pekerjaannya tidak dihargai, atau kemampuannya tidak diakui. Langsung saja kita akan menuduh kalau perusahaan pelit, atau bos kikir, dan berbagai cap negatif lainnya tanpa mau peduli dengan kondisi perusahaan. Cukup sering aku menemukan komentar ini, terutama dari orang yang bekerja di perusahaan asing seperti Korea, Taiwan atau India.

Reaksi lain adalah takut. Ini untuk orang yang cukup sadar dengan kekurangannya. Dia mungkin bisa marah, tapi juga takut. Pernyataan overpaid bisa mengancam karirnya, mungkin dia merasa akan dipecat sebagai langkah mengurangi biaya perusahaan. Atau sekedar takut kalau gajinya dikurangi atau pekerjaannya ditambah. Pokoknya takut repot lah.

Mungkin ada juga yang cuek. Peduli amat dengan omongan atasan. Mau dipecat kek, mau perusahaan bangkrut kek, mau dimarah-marahin kek, gak peduli.

Reaksi yang seharusnya adalah introspeksi. Marah, kecewa, takut saat pertama kali mendengar omongan tersebut adalah wajar. Tapi seharusnya tetap perlu introspeksi. Apakah kita memanfaatkan jam kerja dengan baik, bukan hanya datang dan pulang tepat waktu di kantor, tapi lebih pada pemanfaatan waktu selama jam kerja. Ini adalah hal paling sering terjadi yang menyebabkan waktu kerja tidak efisien dan merugikan perusahaan karena kita dibayar lebih. Jika jam kerja kita adalah 8 jam per hari, maka seharusnya 8 jam itu minimal kita berikan untuk pekerjaan. Okelah, ada toleransi, tapi ya seharusnya gak banyak.

Kitapun perlu introspeksi soal kemampuan kita, bukan hanya soal gelar. Sebagian besar perusahaan lebih membutuhkan skill atau kemampuan kita dibanding gelar, meskipun gelar pendidikan hampir selalu menjadi persyaratan saat rekrutmen. Kita perlu introspeksi apakah kemampuan kita sesuai dengan gaji kita, apakah waktu kerja yang kita habiskan memberi manfaat yang baik bagi perusahaan sesuai dengan gaji kita dan sebagainya. Introspeksi lebih baik dari sekedar marah dan memaki-maki atasan. Apalagi kalau kemampuan kita atau peran kita di perusahaan bisa dengan mudah digantikan oleh orang lain. Tidak perlu takut, tapi introspeksi dan perbaiki diri. Mulailah berpikir untuk menjadi bagian dari kemajuan perusahaan, bukan sekedar bekerja dan mendapat gaji.

Jika kita sudah introspeksi dan merasa sudah melakukan hal yang maksimal, barulah kita cuek. Jika Anda merasa punya skill dan attitute yang bagus, Anda tidak perlu kuatir dengan karir Anda. Pasti ada jalan. Lain halnya jika perilaku Anda tidak pantas jadi contoh … ya lebih baik segera diperbaiki, tidak ada kata terlambat :)


TAGS gaji skill kompetensi


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru