Dilarang Memelihara Binatang

9 Aug 2012

Kalau di tulisan sebelumnya aku menyinggung masalah longgarnya pelaksanaan hukum yang menjadi bumerang bagi aparat hukum, kali ini aku mengalami, bahwa tidak hanya aparat atau pemerintah yang melakukan itu, tapi juga wong cilik, alias masyarakat! Maaf, tulisan kali ini tergolong curhat pribadi, keluhan dan komplen, jadi jangan diteruskan bacanya kalau gak suka gosip hehehe…

Aku tinggal di rumah kontrakan, satu blok berisi 7 rumah. Pemilik kontrakan sendiri tinggal di lokasi terpisah, berjarak sekitar 100 meter. Tapi salah satu rumah di blok kontrakan itu dihuni oleh salah satu anak pemilik kontrakan, yang (mungkin) diberi tugas mengelola kontrakan, sebut saja Iyah. Tapi ada satu keluarga penghuni kontrakan yang masih punya hubungan saudara (entah paman atau sepupu) dengan pemilik kontrakan, sebut saja Agus.

Istriku adalah pecinta kucing sejati. Tiada hari tanpa ngomongin kucing, bahkan kucing jalanan yang kumal pun dia sayang. Istriku tertarik untuk pindah ke rumah  kontrakan karena waktu kami pertama kali melihat rumah itu, ada 4 kucing kecil yang jinak berkeliaran di sana. Kucing-kucing itu dipelihara oleh keluarga Agus. Akhirnya kami putuskan pindah ke kontrakan itu, selain lokasinya cukup nyaman, juga adanya kucing-kucing itu istriku menduga para penghuninya juga ramah terhadap binatang.

Satu setengah tahun berlalu, kamipun memelihara dua ekor kucing. Keduanya adopsi dari anak kucing liar yang kami temukan. Kami rawat kedua kucing itu, kami latih buang kotoran di dalam rumah agar tidak mengganggu tetangga, dan kalau malam kami kurung di dalam rumah. Ternyata tidak semua tetangga suka kucing, dan bisa menerima keberadaan kucing, jadi kami cukup ketat mengawasi kedua kucing kami. Tetangga depan rumah tiga kali memelihara kelinci, sayangnya semuanya mati. Lain halnya dengan Agus. Kucing-kucingnya cenderung dibiarkan berkeliaran dan kurang terawat, malah kebanyakan keluarga kami yang memberi makan kucing-kucing itu. Istriku sih senang-senang saja.

Masalah muncul terkait dengan kotoran kucing yang tersebar di halaman kosong yang dipakai untuk menjemur pakaian dan buang sampah. Semua kucing Agus buang kotoran di situ, sementara kucingku bisa kupastikan buang kotoran di dalam rumah. Akibatnya bau kotoran sering mengganggu, dan puncaknya, anak Iyah kena tipes. Iyah, yang selama ini benci kucing, merasa marah bukan main, dan langsung menganggap kucing-kucing sebagai penyebab penyakit anaknya. Anaknya itu sering main kerumahku untuk bermain dengan kucing, dan aku tahu pasti, anaknya itu sangat sulit disuruh makan. Badannya aja kurus kering.

Akhirnya suami Iyah marah, dan berniat membuang kucing-kucing itu. Aku sudah jelaskan bahwa kucing-kucingku aku kurung dan kotorannya juga di dalam rumah, tidak mengotori halaman, dan kami diijinkan. Tapi kucing-kucing Agus akan dibuang oleh suami Iyah itu. Aku jengkel, tapi tidak berniat menentang, karena itu bukan kucingku.

Rupanya suami Iyah tidak sekedar membuang kucing, tapi bertindak sewenang-wenang terhadap kucing itu. Suatu malam dia mengejar salah satu kucing yang belum sempat dibuang dan menendangnya berkali-kali. Kontak saja istriku marah, dan berdebatlah kami. Intinya kami gak setuju kalau kucing diperlakukan dengan kasar, tapi suami Iyah ngotot bahwa kucing itu akan dibuang. Lagi-lagi, tipes anaknya dijadikan alasan. Yang membuatku terkejut adalah pernyataan bahwa “Kalian disini cuma ngontrak, dan di sini tidak boleh memelihara binatang. Sejak dulu!“.

Waduh, jelas ini pernyataan aneh bin bodoh dan sembarangan, menurutku. Sejak awal aku melihat kucing berkeliaran, bahkan suami Iyah inipun pernah mengaku bahwa dia suka kucing, dan aku pernah melihat dia mengelus kucingnya Agus. Hanya Iyah yang benar-benar benci kucing. Sementara tetangga depan jelas-jelas memelihara kelinci berkali-kali, ya meskipun sayangnya selalu mati. Kalau benar aturan itu ada sejak dulu, mengapa kami tidak diberi tahu sejak awal. Dan mengapa pula ada yang memelihara binatang kalau di larang? Aneh. Kalau memang aturan ini benar-benar ada, berarti penegakan hukumnya gak becus, dan cuma bisa ngamuk-ngamuk saat merasa rugi. Yah, kadang tingkah seperti inilah yang membuatku kurang respek dengan “wong cilik”. Aku sendiri merasa jadi “wong cilik”, masyarakat tanpa kuasa, tapi aku tidak ingin bergaya sok kuasa.

Yang perlu disayangkan juga, Iyah ini sering dipanggil Bu Haji, tapi sang suami bertindakan kasar terhadap binatang di bulan Ramadhan, terkesan bulan puasa sia-sia saja karena tidak bisa mengendalikan amarah. Ah, ya sudahlah. Kucing memang bukan manusia, tapi kurasa tidak pantas kalau harus bertanggung jawab. Sang majikanlah yang harusnya bertanggung jawab, karena tidak bisa merawat dan kucing peliharaannya dengan baik. Fuih … .cukuplah curhat kali ini :)


TAGS kucing hukum marah


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru