Pejabat Wajib Naik Busway!

16 Nov 2011

Terlepas dari berbagai kekurangan sistem transportasi busway (Transjakarta), aku masih lebih suka menggunakan transportasi umum itu dibandingkan yang lain, seperti taksi (mahal), atau angkot/kopaja yang hobinya ngetem dan kebut-kebutan. Tentu saja, busway bukannya tanpa kekurangan, banyak malahan. Kadang supirnya juga ngebut (heran, padahal dan punya jalur sendiri dan gak pakai setoran), perawatan bis yang tergolong minim (AC, tempat duduk dan lantai), serta halte busway yang ala kadarnya (udah sempit, pintu ditutup, kipas dimatikan).

Kekurangan paling mengganggu buatku adalah tidak jelasnya jadwal keberangkatan busway serta kurangnya informasi. Okelah, aku bisa maklum saat bis datang terlambat di jam sibuk, pasti kena macet. Tapi alangkah baiknya kalau ada informasi ke calon penumpang tentang kondisi itu. Tidak cukup hanya dengan menempel tulisan di loket “Maaf, bus lama”. Kadang, sudah lama nunggu, mendadak ada bis lewat begitu saja. Padahal semua penumpang sudah cukup lega melihat ada bis datang, tapi kembali kecewa saat bis itu berlalu. Sangat sering aku mendengar keluhan para penumpang yang tidak sabar menunggu bis.

Kemarin sempat berpikir, kok gak ada penjelasan petugas. Aku tidak menyalahkan para petugas penjaga halte ataupun penjual tiket. Itu bukan tanggung jawab mereka. Aku kecewa dengan pihak manajemen busway yang sepertinya terlalu cuek dengan hal ini. Jadi kepikir, kalau ada pejabat negara (syukur-syukur Mentri atau anggota DPR/DPRD) yang naik busway dan merasakan ketidakpastian waktu tunggu busway, apa yang akan mereka lakukan. Mungkin mereka akan mengomel lebih keras, langsung kontak sana-sini, dan mungkin juga mendamprat pimpinan manajemen busway ini, langsung atau tidak langsung.

Ah, andai saja para pejabat itu mau meluangkan waktu untuk naik angkutan umum di Jakarta, saat mereka menjabat, mungkin kondisi transportasi umum bisa membaik. Andai satu hari, misalnya Jumat, para pejabat negara diwajibkan bekerja menggunakan transportasi umum, apa jadinya? Mungkin banyak hal yang akan dibenahi. Lha wong, katanya, kalau ada kunjungan pejabat ke daerah tertentu, otomatis jalan dan sarana lainnya diperbaiki hehehe … Fenomena apa ini?

Oh ya, kemarin ada yang mengusulkan agar angkot dan bajaj dihapuskan. Aku kurang suka naik bajaj, jadi gak masalah. Tapi setiap hari aku naik angkot. Aku bisa menghindari kopaja dengan beralih ke busway, tapi angkot belum ada alternatifnya. Jadi aku masih bergantung pada angkot yang jauh lebih murah dibanding taksi atau ojek. Tapi harus aku akui, banyak perilaku supir angkot yang menjengkelkan — ngetem sampai bikin macet, kebut-kebutan, berantem sesama sopir dsb. Jumlah angkot juga terlalu banyak, setidaknya itu yang kulihat di jalur Tanah Abang - Kebayoran Lama.

Tapi tetap aku belum setuju kalau angkot dihapuskan. Cukup dikurangi dan ditertibkan. Ada baiknya para pejabat juga dianjurkan naik angkot saat berangkat kerja, termasuk tokoh/pengamat yang mengusulkan penghapusan angkot itu heheheh…


TAGS busway menunggu angkot pejabat


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru