Magabut alias Majibu

4 Oct 2011

Siang ini aku sengaja bertanya ke Ikka, yang memang punya hak istimewa untuk kerja di rumah karena baru saja melahirkan, apakah sudah ada tugas dari Mr. TC. Dia menjawab “Belum”, dilanjutkan dengan “Majibu :)”. Hmmm … “Majibu apaan??” Ternyata MAkan gaJI BUta. Walah ….

Aku lebih suka menyebut magabut: MAkan GAji BUTa :D
Secara spontan aku langsung meluncurkan nasehat tersembunyi “Makanya, jangan gampang mengeluh”, yang langsung dia iyakan. Sebelumnya, di kantor ini karyawan banyak yang mengeluh. Ada saja alasannya. Kerjaan yang terlalu mepet jadwalnya, uang klaim yang gak juga diganti, atasan yang gak mau mendengar saran, kurangnya tunjangan kesehatan dan sebagainya. Tapi jarang sekali aku mendengar ada yang menyinggung tentang beberapa “keuntungan” di kantor ini. Waktu kerja yang kadang fleksible (tidak ada penalty kalau terlambat kerja), gaji yang bisa relatif lebih tinggi dibanding perusahaan lain, internet tanpa batas dan tanpa pengawasan, dan sebagainya.

Namun keluhan tetap saja ada. Padahal kadang aku amati ada teman yang di kantor lebih banyak BBMan dibanding kerja, ada yang ngerjain tugas kuliah pacarnya, ada yang sibuk dengan kerjaan sampingan dan — untuk kasus Ikka — waktu untuk ngurus anak lebih banyak dibanding waktu kerja. Ada kalanya memang kerjaan begitu menumpuk dan menekan, namun kurasakan tak jarang juga cukup banyak waktu longgar yang kami miliki. Makanya aku mencoba nrimo, tidak terlalu menuntut banyak fasilitas (toh gaji sudah cukup) karena beberapa keuntungan tadi. Kadang aku suka bikin status di Skype, FB atau YM : menikmati magabut :)

Nah, menyinggung soal gaji, barusan baca diskusi di salah satu milis keuangan tentang gaji di Indonesia, khususnya gaji karyawan di perusahaan multinasional. Posting awal (istilah kaskusnya : TS) sepertinya ingin mengeluh atau menyindir tentang jomplangnya perbandingan gaji antara karyawan lokal dengan expatriat. Sampai-sampai dia menyebut istilalah “slave-wage” untuk menggambarkan upah yang diterima oleh buruh/karyawan lokal. Yang membuatku tertarik bukan bagaimana dia menyampaikan data dan mengambil kesimpulan, melainkan tanggapan dari rekan-rekan milis.

Hampir semua tidak terlalu mendukung kritikan yang disampaikan sang TS. Umumnya memandang mekanisme gaji dengan pekerjaan itu tidak jauh beda dengan mekanisme pasar : ada supply dan demand. Malahan beberapa orang menganjurkan agar kita jangan terlalu mengeluh soal gaji. Secara kasar, kalau kita keluar karena alasan gaji, masih banyak yang ngantri untuk mendapatkan pekerjaan kita tadi. Ada juga yang bilang dengan tegas: berkaca dulu, instrospeksi apakah output kinerja kita sebanding dengan gaji yang kita terima. Kalau gak, ya jangan protes kalau gaji kita kecil, wong kontribusi kita juga dikit. Tapi kalau merasa kurang, yang mendingan pindah kerja, cari perusahaan lain yang mau memberi gaji lebih tinggi. Kalau memang kita bagus, pasti akan dipertahankan. Naif memang kedengarannya, tapi mau gak mau aku harus setuju.

Terus terang aku sebel dengan orang yang sering mengeluh soal nilai gaji yang diterima. Gaji itu kadang relatif, besar kecilnya sulit diukur. Ada yang gajinya terkesan kecil, tapi dia bisa bersyukur dan mencukupi diri dan keluarga. Tapi ada yang gaji sudah besarpun, bisa tetap mengeluh dan merasa kurang karena ada saja yang ingin dibeli, apalagi kalau melihat “rumput tetangga yang selalu terlihat lebih hijau”. Makanya aku tidak terlalu suka membanding-bandingkan gaji :) Idealis??? Biarin …. :)


TAGS Pekerjaan gaji tenaga kerja kinerja


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru