Jujur Itu Lebih Baik

25 Aug 2011

Sejak Jaja resign, proyek K - salah satu proyek blunder di kantor ini - dialihkan ke Ikka, karena dia yang cukup paham dengan teknologi berbasis cloud yang digunakan. Masalah lain muncul karena Ikka gak ngerti akunting. Sebenarnya pekerjaan yang tersisa tidaklah banyak: memastikan laporan laba-rugi dan neraca bisa berjalan dengan benar, berdasar data yang sudah diberikan oleh customer.

Lebih dari sebulan Ikka mengutak-atik program serta data yang ada, selalu saja ada masalah. Awalnya gak balance (masalah standard di akunting), terus laporan berubah-ubah, hingga akhirnya kemarin dia menemukan kejanggalan dalam sistem yang digunakan. Senin lalu dia cek program sudah berjalan dengan benar, khususnya laporan laba-rugi, bisa tampil 2 kolom untuk menampilkan laporan bulan sebelumnya. Tapi waktu diperiksa lagi hari kemarin, kok laporannya kembali ke format lama. Padahal tidak ada orang lain yang mengubah program selain dia, dan dia merasa tidak melakukan perubahan.

Aku memberi saran ini itu, sekedar memberi petunjuk langkah-langkah yang mungkin bisa membantu dia menyelesaikan masalah. Tapi dia sudah terlanjur jenuh. Akhirnya Mr. TC “menyapa” meminta laporan tentang perkembangan proyek ini, karena dia sudah terlanjur lapor ke customer kalau program sudah selesai dan ternyata customer masih complain karena belum bisa menggunakan program.

Di tengah-tengah obrolan secara online, Ikka mengungkapkan kejenuhan dan keputusasaannya dalam mengerjakan proyek ini. Tapi dia berpikir, kalau dia bilang menyerah, pasti aku yang nanti akan ketiban “durian” ini, - dah baunya menyengat, kulit berduri pula, kok ada aja yang mau kena durian runtuh :). Jawabanku sederhana: jujur itu lebih baik.

Terbukti! Saat Ikka mengungkapkan bahwa dia ingin menyerah, Mr. TC tidak ngotot. Dia terima (mungkin karena sudah melihat bahwa satu bulan ini tidak ada perkembangan), dan akan membicarakan dengan manajer produksi, untuk selanjutnya memberi Ikka tanggung jawab di proyek yang lain. Setidaknya sudah ada 2 proyek yang siap dikerjakan, dan selama proyek itu belum mulai, Ikka diminta tetap mencoba mengecek proyek K semampu dia.

“Waaaaaaa … aku bebasssssss ….”, begitulah ungkapan kelegaan Ikka.

Aku senyum saja. Senang melihat orang lain bisa lega, meskipun mungkin nanti giliranku yang harus mengusung “durian” itu :D


TAGS jujur rekan kerja proyek


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru