Gerakan Anti Angkot Ngetem, Bisa?

15 Aug 2011

Ngetem adalah salah satu penyakit angkutan umum di ibukota, dan kurasa terjadi juga di kota-kota lain. Demi mendapatkan penumpang, angkutan umum berhenti cukup lama di tempat tertentu, yang biasanya merupakan tempat munculnya penumpang. Kebiasaan ini sangat menjengkelkan bagiku, sebagai pengguna angkutan umum. Pertama, waktu menunggu jelas membuat waktu di jalan makin lama. Makin sepi keadaan, bisa jadi waktu menunggu makin lama. Yang namanya menunggu itu gak ada enaknya, apalagi menunggu di tengah lalu-lintas Jakarta yang panas, bising dan penuh polusi. Apalagi menunggu di dalam angkot :((

Kebiasaan ngetem para pengemudi angkutan umum ini, terutama angkot di ibukota yang jumlahnya overdosis, adalah salah satu penyumbang kemacetan yang tidak perlu. Ada kemacetan yang terjadi secara “alami”, karena jumlah kendaraan yang memang banyak, sementara jalannya sempit dan mungkin juga akibat lampu merah di perempatan. Gak banyak yang bisa disalahkan di sini, sabar saja. Tapi kemacetan akibat angkot atau kopaja yang ngetem sembarangan tentunya membuat emosi makin memuncak, karena ada yang pantas disalahkan dan kemacetan itupun seharusnya tidak terjadi.

Tempat-tempat angkot ngetem biasanya di pasar, perempatan jalan serta dekat stasiun kereta api. Kadang juga di dekat sekolahan. Mereka menjadikan tempat-tempat itu layaknya terminal bayangan dan dengan seenaknya mereka menghentikan kendaraan mereka, bahkan di tengah jalan, sehingga menghambat kendaraan lain yang ingin mendahului. Alhasil, arus lalu-lintas terhenti dan kemacetan sering mengular. Ini akan terlihat makin parah di jam-jam sibuk apalagi saat tidak ada aparat yang bertugas.

Titik ngetem yang selalu membuatku jengkel adalah perempatan Slipi Palmerah/Petamburan. Di sini sepertinya para sopir itu otaknya di pantat, gak bisa mikir dampak ngetem yang mereka sebabkan di jam sibuk. Seenak hati mereka berhenti di tengah jalan dan menutup arus lalu lintas, padahal perempatan Slipi sudah sangat padat. Beberapa kali aku harus membayar ongkos taksi lebih mahal karena terjebak macet di perempatan itu, padahal waktu sudah bukan lagi jam sibuk. Semua gara-gara angkot yang ngetem di perempatan Slipi ke arah Palmerah itu.

Pasar Palmerah juga menjadi titik ngetem yang menyebalkan, meskipun tidak separah di perempatan Slipi. Berikutnya adalah pertigaan Rawa Belong. Di pertigaan ini, kemacetan tidak hanya akibat adanya angkot ngetem, tapi lebih sering karena pengguna jalan (tidak hanya angkot), tidak memiliki disiplin. Mereka sering menerobos lampu merah, dan saat terjadi sedikit kemacetan, biasanya gak ada yang mau ngalah sehingga kemacetan makin terkunci dan gak ada kendaraan yang bergerak. Kalau sudah seperti itu, aku cuma bisa berucap “Syukurrrrrrin … “

Merasa jengkel dengan kebiasaan ngetem itu, aku coba terapkan gerakan anti angkot ngetem. Caranya sederhana, jangan naik angkot yang sedang ngetem, kalau memungkinkan. Aku memilih berjalan kaki agak jauh dari perempatan Slipi, menuju arah Palmerah sekitar100 atau 200 meter. Bagiku itu bukan jarak yang melelahkan, meskipun seharian sudah cukup jenuh di kantor. Tapi aku memilih itu, agar aku bisa menunggu angkot yang nantinya akan langsung berangkat tanpa harus ngetem lagi. Menurutku, kalau semua penumpang memilih cara ini, dan menolak naik angkot yang sedang ngetem, apalagi yang ngetem di tengah jalan, bisa membuat sopir angkot itu kapok ngetem. Harusnya semua penumpang bisa kompak, menolak angkot ngetem, hingga akhirnya sopir yang ngetem itu akan gigit jari karena tidak mendapat penumpang meskipun sudah mendapat sumpah serapah dari pengguna kendaraan di belakangnya.

Terkadang aku mencoba menghafal wajah sopir yang memilih ngetem di tengah jalan itu, dan kalau dia melewatiku, aku memilih untuk tidak menggunakan angkotnya. Tenang, angkot jurusan Palmerah masih overdosis, jadi pasti ada angkot lain. Bayangkan, kalau semua penumpang menolak naik angkot yang ngetem, pasti angkot ngetem sembarangan itu gak akan kebagian, dan banyak angkot yang gak ngetem kok, justru mereka yang mungkin dapat rejeki. Beberapa kali aku mendengar ada sopir angkot yang mengatakan kalau dia gak terlalu suka ngetem. Kalaupun ngetem hanya kalau benar-benar sepi atau memang pasti sedang ada penumpang yang mendekati sehingga dia menunggu penumpang itu.

Ayo, tolak angkot ngetem! Jadilah penumpang yang cerdas, yang turut mencegah kemacetan. Kita bisa mulai dari hal kecil, dengan disiplin menunggu angkutan umum di halte, tidak di sembarang tempat, meskipun kadang terpaksa harus berjalan cukup jauh.


TAGS disiplin Lalu lintas jakarta


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru