Patas Lebih Baik Dibanding Busway?

20 Jul 2011

Karena sedikit terlambat berangkat dari rumah, aku harus berhadapan dengan padatnya calon penumpang busway di Halte Slipi Petamburan. Biasanya, kedatangan busway mulai tidak teratur karena mungkin tersendat kemacetan. Waktu itu hampir 15 menit menunggu tanpa kehadiran busway dan membuat halte makin padat.

Seorang bapak mulai ngomel.

“Tahu jam sibuk, harusnya armada dibanyakin. Mentang-mentang gak pakai setoran jadi seenaknya. Kalau ada bis patas saya milih bis patas. Ini bukannya terpaksa saya naik busway, tapi karena dipaksa. Kalau bis patas kan ngejar setoran, jadi bisa lebih banyak. Saya sih mendingan milih bis patas daripada busway. Cuma ini kan dipaksa pakai busway. Ntar di demo baru tahu rasa deh … dst”

Penumpang lain tidak banyak yang menanggapi. Cuma bapak bawel itu yang cukup dominan. Terus terang, mendengar omongan bapak bawel itu aku jadi sebel dan panas kuping. Aku gak belain busway (baca: bus Transjakarta). Masih banyak hal yang perlu dibenahi dan ditingkatkan. Tapi dibandingkan bus patas (yang AC sekalipun), apalagi dibanding PPD, bis regular dan metromini, ya jelas mendingan busway. Toh harga gak jauh beda.

Mengenai setoran, justru karena ngejar setoran, bis patas atau PPD bisa seenaknya ngetem dan kebut-kebutan, dengan alasan ngejar setoran. Busway seharusnya gak ada seperti itu, terjadwal dengan rapi dan diperhitungkan. Oke, tentu saja ada oknum yang gak beres, tapi setidaknya gak ada motivasi persaingan demi kejar setoran yang seringkali mengabaikan kenyamanan penumpang. Bapak bawel itu baru nunggu 15 menit sudah ngomel, padahal angkutan umum lain bisa ngetem 15 menitan di beberapa tempat.

Armada PPD atau bis patas juga terbatas. Belakangan, entah waktu dulu bagaimana, terkesan angkutan umum itu dikuasai perorangan, sehingga tidak ada koordinasi. Apapun kondisinya, rusak atau tidak, demi setoran ya dipakai terus. Gak bisa diatur, apakah jam segini harus butuh armada banyak atau perlu dikurangi. Yang jelas semua ingin dapat setoran, dan kurasa setoran tidak dibagi rata, tapi tergantung pendapatan dari bis masing-masing. Akibatnya sesama bis dalam satu trayek pun bisa bersaing. Nah, kalau sudah bersaing begini, kenyamanan penumpang biasanya diabaikan.

Mungkin bapak bawel tadi termasuk golongan yang gak suka perubahan, mirip kelompok yang merindukan Orde Baru, tanpa punya tolok ukur yang jelas. Mungkin dia merasa kondisi yang lama lebih menyenangkan tanpa peduli kalau bagi sebagian orang, kondisi yang lama itu sangat menyiksa. Atau mungkin juga dia dasarnya tukang protes, gak dulu, gak sekarang, hobinya cari-cari kambing hitam, merasa dirinya selalu jadi korban. Mungkin :)


TAGS busway Emosi macet


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru