Gaji Dua Kali Lipat, Salahkah?

8 Jul 2011

Tekadku sudah bulat. Aku akan pindah kerja lagi, setelah JAK (teman lama masa kuliah) mengajakku bergabung dalam perusahaan baru yang dirintisnya bersama investor dari luar negeri. Apalagi dia menawarkan gaji yang sangat tinggi buatku, dua kali lipat dari gajiku sekarang (wow … bisa beli ipad atau galaxy tab nih hehehhe … langsung setan konsumerisme berkuasa). Apalagi kondisi kantor yang sekarang, meskipun gaji sudah lumayan dan kerjaan juga santai, seperti tidak jelas. Beberapa minggu terakhir di ruangan kantor cuma sendirian. Sebenarnya enak juga bisa kerja di rumah, tapi ya jadinya gak bisa sosialisasi, jadi ragu, apakah kantor ini akan bertahan lama dengan cara seperti ini. Ditambah lagi sepertinya ada ketidakkompakan dalam manajemen, yang terus terang membuatku jadi ikut resah juga.

Mumpung bebas, kemarin aku main ke kantor baru JAK, sapa tahu bisa nebeng internet yang lebih cepat di sana. Toh bos gak bakal tanya aku kerja dimana, yang penting aku tetap online di skype. Seperti biasa, JAK menyambutku dengan hangat dan mulai bercerita tentang rencana kerja serta target delivery produk baru dalam satu bulan ke depan. Aku menyatakan kalau aku agak kesulitan mengajukan pengunduran diri, karena harus menunggu gajian dulu, baru mundur, takutnya kalau aku mundur terlalu awal, bisa-bisa gajiku ditahan. Bakal ada perang saudara di rumah kalau sempat gak gajian, wong minggu lalu sudah habis-habisan waktu mudik.

Kebetulan ada bosnya JAK (yang jadi presdir dan penanam modal juga), dan JAK berniat mengajakku bertemu dengan dia. Sebelumnya JAK sudah memberitahukan penawaran yang dia sampaikan buatku (gaji dan jabatan) dan atasan itu menyetujui. Akhirnya terjadilah interview tidak resmi, dalam suasana santai dan akrab. Nah, di aku melakukan kesalahan kecil yang tidak perlu, meskipun aku tidak terlalu menyesalinya. Aku terlalu terbuka waktu atasan itu menanyakan gajiku saat ini. Juga tentang pengalaman kerjaku dan apakah aku pernah pengalaman dengan proyek yang akan dikerjakan di kantor baru itu. Tentu saja, dengan kejujuran katrok, aku bilang apa adanya, termasuk kenyataan kalau aku belum pernah mengerjakan sesuatu yang sama dengan proyek yang akan dikerjakan lagi. Di situ aku sudah menangkap gelagat kalau presdir ini jadi kurang setuju dengan nilai gaji yang diajukan JAK. Memang, JAK yang menawarkan gaji, bukan aku yang mengajukannya.

Hari ini akhirnya gaji turun juga. Sebelum aku mengirim surat pengunduran diri, aku ingin memastikan terlebih dahulu, apakah penawaran dari JAK masih berlaku. Siapa tahu sang presdir menolaknya. Ternyata dugaanku benar. JAK bilang, bahwa lompatan gajiku terlalu besar, sampai dua kali lipat. Kalau selisihnya cuma 1-2juta mungkin tidak jadi masalah. JAK menawarkan nilai gaji yang lebih kecil, meskipun masih cukup besar bagiku. Aku sih terima saja, tapi aku pastikan ke JAK agar tidak ada konflik antara dia dengan atasannya. Aku kuatir suatu saat, jika aku ternyata tidak sesuai dengan harapan atau melakukan kesalahan, JAK yang ngotot agar aku bergabung jadi terkena imbasnya. JAK memintaku untuk tenang dan pede aja. “Pokoknya kita kejar target 1 bulan bisa launching produk dulu, baru nanti kita bahas lagi tentang gaji. Oke?” kata JAK mencoba meyakinkanku.

Aku jadi teringat waktu aku nego gaji untuk masuk di perusahaan sekarang ini. Memang gajiku di perusahaan sebelumnya, yang aku tempati hampir 7 tahun, bisa dibilang kecil, apalagi untuk ukuran Jakarta. Ketika aku melamar di tempat saat ini, gaji yang kuajukan adalah 2 kali lipat dari gaji sebelumnya. Nilai yang cukup besar bagiku, tapi sebenarnya tidak terlalu besar untuk ukuran Jakarta. Tapi pimpinan perusahaan menilai, lompatan gajiku terlalu jauh, apalagi aku masih belum punya pengalaman dalam beberapa subjek seperti OOP, PHP Framework dan Web Service, yang kemungkinan akan sangat dibutuhkan di perusahaan ini. Dunia IT memang cukup luas cakupannya, gak mungkin aku bisa kuasai semuanya. Akhirnya kami sepakat dengan nilai di tengah-tengah, antara gaji yang lama dengan gaji yang kuminta. Aku setuju saja.

Aku memang sangat payah dalam bernegosiasi. Harus belajar banyak nih!!!!

Tapi bukan masalah negosiasi yang kukeluhkan. Aku cuma berpikir, apa salahnya kalau kita minta kenaikan gaji 2 kali lipat? Sayangnya memang aku masih payah dalam “menjual diri”. Aku terlalu “apa adanya” dan gak suka melebih-lebihkan atau terlalu percaya diri. Mudah-mudahan belum terlambat bagiku untuk meningkatkan kepercayaan diriku tanpa meninggalkan kejujuran :D

Meskipun ada sedikit keraguan tentang masa depanku dalam pekerjaan yang akan kujalani bersama JAK, aku tetap memutuskan untuk mengundurkan diri.


TAGS lamaran kerja gaji


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru