Goblok Itupun Muncul Lagi

16 Jun 2011

“Jujur, sekarang aku dah emosi. Kamu bilang kamu harus ngerjain apa? Itu GOBLOK namanya!”. Ah, kata-kata kasar itupun harus kembali meluncur dari mulutku. Kesabaranku sudah habis, dan lagi-lagi makian itu harus kusemprotkan (untung gak pakai bonus kuah) ke salah satu alumni kampus di pinggiran Bandung. Kali ini giliran Afik, sebelumnya aku juga pernah emosi terhadap Ma’il dan Iwed, yang kebetulan berasal dari kampus yang sama meskipun beda angkatan.

Fuih … menyesal juga, tapi sudah terlanjur.

Sejak awal minggu ini, sebenarnya sih sebelum-sebelumnya juga sudah sering meski tidak intensif, Afik sangat sering mengeluh, - stres, tertekan, pusing, dan sebagainya. Padahal aku dan Alim menjalani pekerjaan yang sama dan seperti biasa saja. Kadang heran juga mendengar keluhan si Afik ini. Sampai-sampai di forum Skype dia curhatkan semua masalah di kantor, termasuk kritikan secara tidak langsung tentang perusahaan dan atasan. Berhubung forum isinya adalah mantan karyawan yang kadang juga punya kekecewaan seperti itu, gayungpun bersambut. Mulailah forum chat jadi berisi kritikan dan curhat tentang kantor. Aku tidak membela kondisi kantor, cuma menurutku kok berlebihan kalau terlalu menyoroti keburukan perusahaan, yang menurutku sih masih belum bisa dianggap parah. Tapi itulah Afik, yang penting dia curhat, bisa mengeluarkan uneg-unegnya.

Pada dasarnya aku kurang senang mendengar orang mengeluh. Aku gak masalah mendengar orang meminta pendapat ketika dia ada masalah dan mencoba membantu jika dibutuhkan. Tapi kalau orang itu hanya mengeluh dan curhat, sekedar ingin mengeluarkan emosi, lama-lama aku eneg juga. Apalagi saat aku memberi solusi dan tidak dipedulikan. Bukan berarti solusiku harus diikuti. Tapi lama-lama kok ada kesan bahwa dia hanya ingin pendapatnya diakui dan didukung, sementara bagiku, pendapatnya itu kurang pas. Jadilah percakapan yang gak ada habisnya. Awalnya cuma mau mendengarkan curhat, lama-lama kok malah jadi debat, akhirnya aku capek sendiri, dan ujung-ujungnya emosi.

“Jadi kan PM ngasih solusi A nih, nah solusi itu menimbulkan masalah B. Waktu kusampaikan, dia ngasih tahu solusi C, yang setelah kukerjakan sebenarnya akan menimbulkan masalah D”, begitulah Afik menjelaskan masalah yang dia hadapi.

“Terus, PM ada memberi komentar tentang masalah D?” tanyaku.

“Belum sih. Tapi aku kepikiran terus” jawabnya.

“Ya udah, tunggu aja” jawabku. Bagiku bola sudah di tangan PM, dia tinggal menunggu.

“Tapi kan gak enak juga, jadi aku harus ngapain donk”, katanya.

“Ya terserah. Mau pulang kek, main game kok, apapun. Kan kerjaanmu dah beres” jawabku.

“Iya, tapi kan itu masih ada masalah”

“Lha, kamu kan dah menunggu respon dari PM?”

“Tapi sampai sekarang gak ada jawaban”

“Ya udah, tunggu aja”

“Tapi gini mas, sebenarnya solusi C itu juga aku gak ngapa-ngapain. Artinya dengan memilih solusi C itu, aku gak perlu ngapa-ngapain. Lha terus aku harus ngapain donk?” tanya dia lagi.

Nah, di sinilah emosiku memuncak. Apalagi kondisiku juga lagi tegang, ada kerjaan yang nyangkut gak kelar-kelar dan secara fisik aku kurang sehat. Aku merasa ada yang gak beres dengan pernyataan dia “lha sekarang aku ngapain?”.

“Oke, jujur aku sudah emosi.” kataku, dengan tampang marah yang sebenarnya. “Kamu tanya, kamu harus ngapaian? Itu GOBLOK namanya. Ya terserah aja, kamu bisa main game, nonton film, internetan atau pulang, terserah. Ngapain kamu stress karena karena kamu gak ngerti harus ngapain”

Afik terdiam sebentar.

“Oh, maaf deh”, akhirnya dia melunak. Baru sekali ini dia melihatku marah.

Untunglah dia bukan tipe yang keras kepala dan gampang tersinggung. Setelah itu kami bisa ngobrol lebih lanjut lagi. Tak lupa aku juga meminta maaf karena sudah berkata kasar kepadanya.

Fuihh ….


TAGS Emosi Sabar


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru