Distro “Buatan” Anak Indonesia

25 May 2011

Bulan ini, tepatnya tanggal 20, satu lagi anak bangsa merilis sebuah sistem operasi bernuansa lokal : Garuda OS. Waktu pertama melihat informasi di atas dari sebuah thread di forum, aku langsung skeptis, \”Ah, paling juga distro Linux\”.Sebelumnya, yang aku tahu, sudah ada anak bangsa yang mengembangkan Blank-On, dan juga Trustix, keduanya adalah distro atauremastering (maaf kalau menyamakan kedua istilah itu, masih bingung euy) dari Linux. Setelah browsing sekilas, ternyata sudah ada cukup banyak distro (turunan distro Linux) yang dikembangkan oleh anak bangsa. Bisa cek di sini:http://bakulan-linux.blogspot.com/2007/12/daftar-distro-linux-indonesia.html

Maaf, meskipun skeptis, aku tidak bermaksud meremehkan atau menjelekkan orang yang sudah mencoba berkarya. Hanya saja, ini yang agak disayangkan, pengembang Garuda OS pada awalnya sepertinya ragu untuk memberitahukan bahwa ini adalah remastering dari Linux, meskipun ketika ada yang bertanya akhirnya pihak pengembang (di websitenya) menjawab dengan jujur. Anda mungkin bertanya, kalau sekedar remastering memangnya kenapa? Harus dihargai juga donk. Yup, saya menghargai setiap karya orang, apalagi karya di bidang TI yang menjadi kegemaran saya. Jadi mengapa skeptis? Entah juga, tapi saya toh harus jujur juga pada perasaan diri sendiri. Yang jelas ada yang rasanya \’kurang greget\’, seperti ada yang ngganjel.

Ganjelan pertama, sejak awal kok tidak disebutkan OS ini dikembangkan dari apa (Linux kek, Ubuntu, Mandriva atau apalah). Yah, meskipun sepertinya dia juga gak bilang kalau OS ini dikembangin sendiri dari nol. Mungkin ini adalah bahasa marketing. Sayangnya sudah ada beberapa kasus di negeri ini, yang awalnya ngaku buatan sendiri, ternyata ketahuan kalau njiplak.

Ganjelan kedua, mengapa harus buat remastering baru. Oke, sah-sah saja sih untuk membuat remastering baru, toh gak ada yang dirugikan. Cuma biasanya, ada nilai tambah yang ingin diberikan dari remastering yang baru. Waktu aku coba browsing ke website resmi Garuda OS, aku cari-cari tidak banyak nilai tambah yang disertakan dalam OS itu, selain masalah tampilan (adanya logo Garuda), serta fitur bahasa Indonesia. Selain itu, aplikasi-aplikasi yang disertakan merupakan aplikasi umum yang juga bisa digunakan atau disertakan dalam distro Linux pada umumnya (yang terbaru lho).

Sebentar, sekali lagi, saya bukan mau meremehkan kerja keras tim Garuda OS ini. Bukan. Usaha mereka, terutama niat mereka sangat saya hargai, meskipun mungkin (IMHO) ini baru sangat awal, dan IMHO belum pantas disebut sebagai Tonggak Kebangkitan (TI) Indonesia. Berikut kutipan dari website resminya :

Selama puluhan tahun, Indonesia sudah sangat terikat dan tergantung pada software bajakan. Kemandirian (TI) Indonesia tidak akan pernah terwujud selama kita tidak berani bangkit untuk melakukan perubahan. Agar bisa mandiri, kita harus mulai berani untuk melepaskan diri dari belenggu software bajakan dan beralih ke software legal dari pengembang lokal, seperti GARUDA.

Hmm … ada cita-cita yang bagus dalam pernyataan di atas. Cuma bagiku kok rasanya lebay. Oke, biar gak dibilang asal njeplak, aku kasih beberapa alasan mengapa aku bilang pernyataan di atas lebay.

Dikatakan bahwa Indonesia terikat dan tergantung pada software bajakan, hmmm… Kalau kata \”bajakan\” yang jadi penekanan, berarti yang harus diperbaiki adalah mental kita, yang selalu mbajak, gak mau modal. Ingat, aku pakai kata \”kita\”, berarti termasuk juga aku hehehe. Untuk membebaskan masalah ini, mental kitalah yang harus dimerdekakan, jangan membajak. Memang harga software asli itu mahal, tapi ya gimana lagi. Tivi, hape, motor dan laptop juga bisa dibilang mahal, tapi toh banyak yang beli juga. Gak pantes menyalahkan software mahal sebagai alasan buat pakai bajakan. Mentalnya donk! (Puas ngomelin diri sendiri …. hiks hiks )

Terus terang, munculnya distro baru yang sekedar diterjemahkan ke bahasa Indonesia tidak akan membuat kita terbebas dari kebiasaan menggunakan software bajakan, kalau mental dan kebiasaan kita tidak diperbaiki. Seharusnya pemerintah bisa berperan lebih dominan dalam hal ini, bukan sekedar melakukan razia penggunaan software bajakan, yang ujung-ujungnya adalah menguntungkan pihak-pihak tertentu.

Salah satu cara adalah melalui pendidikan. Mengapa kita suka dan terbiasa dengan sistem operasi Windows? Saya tidak akan membahas mana yang lebih bagus, antara Windows, Linux atau OS lainnya. Tapi yang jelas, pendidikan kita (khususnya di sekolah) membuat kita tergantung pada Windows dan segala aplikasi di dalamnya. Coba kalau sejak awal di sekolah yang diajarkan adalah OS berbasis opensource, seperti Linux, pasti orang tidak akan enggan untuk memilih software yang legal dan mengurangi bajakan. Faktor suka karena terbiasa, ini yang menjadi faktor utama.

Perbanyak pendidikan dan kursus penggunaan software opensource atau free software, agar masyarakat tidak canggung ketika menggunakan software tersebut. Kalaupun mereka memilih untuk menggunakan software berbayar, itu adalah pilihan mereka. Kondisi saat ini, masyarakat (sebagian besar) hanya tahu menggunakan software berbayar/bajakan, sehingga seperti tidak diberi pilihan untuk menentukan sendiri OS yang akan digunakan.

Seingatku, pemerintah sudah membuat proyek IGOS untuk menyediakan sistem operasi dan juga aplikasi yang berbasis opensource. Sayangnya gaungnya seperti \”nyaris tak terdengar\”. Makanya aku cukup skeptis dengan kemunculan Garuda OS itu, meskipun sedikit iri karena ada yang bisa membuatnya.

No offence, please.


TAGS


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru