Kerja Seperti Diperbudak

10 May 2011

“Kemarin aku ngobrol ma temanku. Aku baru nyebut kalau aku kerja sama orang Singapura, dia langsung bilang ‘pasti diperbudak ya?‘ Kok kayaknya sudah jadi modelnya begitu ya.” kata Jaja.

Afik dengan segera menyahut, “Iya tuh. Kerja ma orang India juga gitu.”

Hmm, aku tidak bermaksud membela orang manapun, tapi ada yang njomplang rasanya. Jaja sudah hampir setahun bekerja dan dia termasuk yang bertahan paling lama. Kalau dia merasa diperbudak, mengapa baru sekarang, pikirku.

“Kamu kan dah hampir setahun disini, Ja, sejak kapan kamu merasa diperbudak?” tanyaku.

“Ya awalnya sih gak juga. Tapi memang sepertinya Mr. TC berubah belakangan ini.” kata Jaja tanpa memberi hal yang pasti.

“Lah, berarti sebelumnya gak gini donk”

“Gak sih, cuma belakangan ini aja. Dulu aku gak masalah kerja lembur. Tapi sekarang kok rasanya seperti diperas, dah gitu uang lembur juga gak seberapa.”

“Kalau menurutku sih, yang terjadi sekarang ini gak hanya terjadi kalau bosnya orang Singapura atau India. Perusahaan lokal juga bisa kayak gitu. Mungkin kondisi perusahaan saja yang sedang ‘menuntut’ orang seperti itu. Apalagi kalau kamu coba bandingkan dengan perusahaan Korea atau Taiwan, fuhh… pelit!” kataku. Aku pernah kerja di pabrik Korea dan kulihat sendiri bagaimana pelitnya mereka terhadap karyawan.

“Ya, yang jelas sih, pas awal aku kerja, Mr. TC menjanjikan banyak hal, dan itu buat aku semangat. Tapi hingga sekarang gak ada yang terpenuhi.” kata Jaja.

“Wah, kalau aku sih yang penting gaji”, sahut Alim. “Mau dijanjiin macam-macam, kalau gaji kecil sih gak kupedulikan. Kalau gaji cukup, ya santai saja.”

Aku bisa maklum dengan pendapat Jaja karena ini baru pertama kali dia bekerja. Dia belum bisa melihat bagaimana tempat kerja yang lain (mungkin dia juga tahu tempat kerja pacarnya). Dia juga belum bisa melihat dari kacamata manajemen, yang selalu diperhadapkan pada dilema antara kelangsungan perusahaan dan kesejahteraan karyawan. Perusahaan yang terlalu menitikberatkan pada salah satu pasti akan berantakan. Jika terlalu memikirkan untung perusahaan tanpa peduli karyawan, karyawan tidak akan betah, dan operasional juga bakal sulit. Tapi kalau terlalu menggelembungkan kesejahteraan karyawan, perusahaan bisa rugi, bahkan bangkrut. Perlu keseimbangan dan kebijaksanaan, dan kurasa ini bukan karena atasan orang lokal atau dari ras tertentu. Ilmu manajemen sudah menjadi global dan rata-rata hampir mirip. Hanya ada yang jiwa sosialnya terlalu tinggi, ada yang nyaris tidak ada. Tapi kurasa kuranglah bijaksana kalau terlalu menganggap buruk suatu bangsa tertentu. Orang Indonesiapun bisa menjadi bos yang pelit dan memperbudak karyawan. Juga bangsa lain, lihat saja berita-berita tentang nasib TKI dan TKW di luar negeri yang kurang beruntung.

Top And Bottom

Kondisi perusahaan yang sulit, setidaknya ini yang kualami di kantorku yang lama, sering membuat karyawan dituntut lebih dan kompensasi yang mungkin kurang. Kalau tidak demikian, perusahaan bakal terjungkal. Hanya saja memang di saat seperti ini perlu ada pendekatan pribadi antara atasan dan bawahan, agar bawahan bisa ikut merasakan apa yang terjadi di perusahaan dan tidak merasa sekedar diperalat oleh atasan. Juga perlu ditegaskan bahwa atasan juga ikut berjuang bagi perusahaan, tidak hanya “menghisap darah bawahan” untuk kepentingan sendiri. Sayangnya, seringkali komunikasi ini tidak terjadi, sehingga yang ada hanyalah saling tuntut. Bawahan menuntut atasan memberikan haknya (kompensasi yang pas), sedang atasan menuntut bawahan memberikan kontribusi yang pas. Saat masing-masing ngotot dan tidak ada pembicaraan hati-ke-hati, yang ada hanyalah salah paham dan saling tuduh. Pelit lah, malas lah, memperbudak lah … dan segala caci maki yang membuat perusahaan makin kacau.

Makanya aku berusaha untuk tidak memberi cap bagi orang tertentu : orang dari A pelit, orang dari B kasar, orang dari C memperbuda, orang dari D maunya dilayani dan sebagainya. Tiap orang bisa jadi seperti itu, bahkan kitapun bisa seperti itu.

Aku jadi ingat salah satu obrolan dalam film Green Hornet, dimana Kato bilang “No body like their bos!” :D

NB:
Kadang ada yang menggunakan alasan itu sebagai “motivator” agar orang membuka usaha sendiri, tidak bekerja bagi orang lain. Ingat, dalam pekerjaan selalu ada bos. Dan saat kita memiliki bisnis sendiripun, ada bos yaitu customer. Customer juga bisa sama menjengkelkan seperti atasan kita. Alih-alih mencari pengganti atasan, cobalah untuk mengubah sikap kita terlebih dahulu dalam menghadapi kehidupan ini. Bersyukur, instrokspeksi, lakukan perubahan internal dan bertindak dengan bijaksana.


TAGS Pekerjaan Atasan


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru