Memberi dan Mengasihi

13 Apr 2011

“Kalau di Kristen, saya dulu kan pernah jadi Kristen, kan ada tuh anjuran untuk ngasih berapa persen gitu ke gereja”, tanya Bu Emi. Beliau cenderung sering membicarakan hal-hal terkait agama, meskipun masih topik yang ringan.

“Iya,” aku bilang. “Di Kristen ada istilah persepuluhan. Jadi wajib memberikan 10% dari penghasilan kita”.

“Iu anjuran atau perintah”

“Perintah”

“Lho, dipaksa donk. Terus gimana kita tahu kalau yang kita kasih benar-benar penghasilan kita? Apalagi kalau dia bukan karyawan yang penghasilannya gak tentu tiap bulan”

“Itu ada hukumnya. Ya kan setiap penghasilan, kapanpun kita terima, 10% dari itu. Masalah jumlahnya benar atau tidak, itu urusan pribadi antara orang itu dengan Tuhan. Toh seharusnya persembahan itu bukan untuk gereja atau pendeta, tapi untuk Tuhan.” jawabku mencoba menjelaskan dengan sederhana.

“Oh iya, kalau gitu. Cuma pernah tuh ada di Singapore, pendeta masuk penjara gara-gara ngambil uang itu.”

“Wah, banyak kalau itu sih. Apalagi di Amerika. Tapi bukan berarti memberi persembahan itu jadi tidak wajib. Itu adalah oknum yang menyalahgunakan wewenang”

“Tapi gini lho”, Alim mulai ikut dalam diskusi. “Ada yang ngasih 10% itu, tapi lalu dia mengabaikan orang tuanya. Itu jadi gimana donk”

“Ya tetap salah. Mengabaikan orang tua itu hal yang salah. Tapi gak memberi 10% juga salah juga, karena ada hukumnya” jawabku. Intinya adalah kita tidak bisa melenceng di satu sisi dan hanya mempedulikan sisi lain.

“Lha kalau orang gak mampu, misalnya dia duitnya cuma sedikit atau pas-pasan gimana? Masak harus ngasih juga” tanya Alim lagi.

“Nah, kalau itu tergantung pada iman atau keyakinan masing-masing. Apalagi kan jumlahnya dalam persentase, bukan senilai uang tertentu. Jadi lebih fleksible, tergantung ketaatan seseorang.”

Pagi ini aku jadi teringat lagu bahasa cinta, yang diambil dalam salah satu tulisan di Alkitab. “Andai kata kuserahkan segala milikku, tapi tanpa kasih cinta, hampa tak berguna”. Memberi tanpa mengasihi tidak ada gunanya. Menjawab pertanyaan Alim, kita bisa saja memberi persembahan yang besar di gereja. Tapi kalau kita tidak mempunyai kasih, apalagi terhadap orangtua kita, persembahan itu akan sia-sia. Memberi persembahan itu juga atas dasar kasih, bukan karena pamrih (ingin dapat balasan), atau terpaksa (karena takut hukuman). Tapi, ini yang sering diselewengkan, kalau kita sungguh-sungguh mengasihi, memberi 10% bagi Tuhan tidaklah berat. Toh itu adalah hak Dia, juga untuk melatih kita agar tidak serakah.

Ibadah itu harus menyeluruh, dan ibadah itu harus atas dasar kasih!


TAGS kasih sayang agama


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru