Itung-Itungan

23 Feb 2011

Noor kembali dibuat jengkel sama Pak Dum, apalagi kalau bukan gara-gara laporan perjalanan dinas. Bulan lalu dia terpaksa merevisi laporan keuangan gara-gara Pak Dur telat ngasih laporan keuangan. Selain itu dia juga harus berepot-repot ria karena banyak yang aneh dalam laporan perjalanan itu. Ada bon yang gak sesuai tanggal maupun lokasi. Ada juga pengeluaran yang sifatnya remeh-temeh, terkesan buat menuh-menuhin laporan. Beli air mineral aja ditagih ke kantor, kunjungan ke customer cuma 2km aja minta ganti uang bensin.

Aku cuma geleng-geleng mendengar curhat Noor itu. Bukan wewenangku lagi untuk mengurus masalah itu. Apalagi sebenarnya Pak Dur termasuk senior, seharusnya lebih peduli dengan kondisi perusahaan, gak terlalu itung-itungan, apalagi untuk urusan duit yang gak seberapa.

Dulu aku sempat kaget saat tahu bahwa marketing meminta ganti atas jajan bakso yang kami lakukan seusai kunjungan ke client. Bagiku seharusnya ditanggung sendiri, toh di kantor kita juga perlu makan siang. Apalagi sudah ada tunjangan makan harian. Tapi aku tidak bisa berbuat banyak saat itu, masih bukan siapa-siapa.

Suatu saat, Dj menyampaikan keheranannya atas kebiasaan para staf marketing. Saat mengunjungi client di Jakarta, mereka selalu mengajak makan, milih makannya di mal pula, dan tagihan makan itu diklaim ke kantor. Padahal menurut Dj, mereka bisa saja makan di tempat sederhana atas biaya sendiri, toh sudah dapat tunjangan makan. Agak aneh juga aku mendengar ini dari Dj, padahal gajinya ga seberapa, ga jauh dari UMR. Sebagai tindak lanjut, aku usul ke manajemen agar membuat aturan bagi marketing. Akhirnya muncullah aturan kalau biaya makan selama jam kerja tidak bisa diklaim.

Kadang aku juga merinci pengeluaran kecil, seperti ongkos angkot 2000 rupiah, dalam laporan perjalanan. Tapi itupun karena aku sudah melakukan penghematan. Aku sering memilih tidak memakai mobil kantor yang pengeluarannya 100 hingga 300 ribu sekali jalan. Sebagai ganti, aku memilih angkutan umum yang total ga sampai 50 ribu, kadang dah pakai taksi juga. Tapi urusan jajan gak pernah kucantumkan.

Tapi aku juga ga bisa terlalu menyalahkan Pak Dur ataupun marketing lain yang terlalu itung-itungan, bahkan sering aji mumpung. Ada berbagai alasan yang mungkin menjadi penyebab. Mungkin memang pelit dan oportunis. Bisa juga karena ngrasa kurang dihargai. Atau memang lagi butuh dan kekurangan. Apapun alasannya, seharusnya orang tidak akan terlalu itung-itungan seandainya dia memiliki rasa memiliki dan tanggung jawab.


TAGS Kantor duit perjalanan dinas


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru