Titip Absen

31 Jan 2011

Budaya titip absen sudah lama ada, mulai dari jaman sekolah, kuliah hingga saat bekerja. Hal sepele, namun justru bisa menunjukkan kualitas integritas seseorang.

“Mas, di daftar kehadiran kok tercatat kalau Ibas masuk kerja sabtu lalu ya? Padahal aku juga masuk dan di kantor cuma ada Kiki.” tanya Yati saat sedang bersiap menghitung gaji karyawan.
“Wah, gak tahu juga” jawabku. “Kalau mau coba tanya ke Marta.”
“Waduh, ntar jadi ga enak.”
“Atau kalau mau gini aja, jangan dulu ngomong ke Marta, tapi tanya langsung ke Ibas. Kasih tahu aja langsung ke dia, bicara empat mata dulu.”
“Iyalah, ntar aku cari waktu yang tepat.”

Ah, aku paling benci kalau ada kasus begini. Pelanggaran kejujuran biasanya akan menghasilkan peraturan. Makin banyak peraturan akan membuat kenyaman berkurang, dan makin lama akan seperti robot.

Kejujurasering terkait dengan disiplin. Orang yang sulit disiplin cenderung mudah bohong, apalagi kalau disiplin itu memiliki kompensasi khusus seperti nilai kuliah atau gaji. Di kantor, untuk meningkatkan rasio kehadiran, ada tunjangan khusus. Satu kali mangkir akan mengurangi tunjangn itu sebesar 50%. Mungkin ini yang jadi alasan mengapa Ibas nitip absen, tindakan yang ceroboh di kantor kecil. Sangat disayangkan, demi mendapat beberapa puluh ribu harus mengorbankan integritas yang bisa menghancurkan kepercayaan.

Ada petuah leluhur yang selalu terngiang di hatiku “Jagalah kejujuran meskipun rugi.” Semoga saja aku bisa selalu mengamalkan petuah itu, meskipun sulit dan terasa naif di jaman sekarang ini.


TAGS disiplin Kantor jujur


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru