Lempok Durian

3 Jan 2011

Marta baru masuk kerja hari ini, setelah liburan cukup lama, pulang kampung di Kalimantan. Tak lupa dia bawa oleh-oleh dan langsung dibagi-bagi ke kantor. Sebelumnya aku cuma berpesan, gak usah bawa lempok durian hehehee … bagiku aromanya mengganggu. Ternyata dia membawakan manisan lidah buaya, mantap, pas banget dengan seleraku.

“Loh, kok di sini banyak makanan, di bawah gak ada sih?” pak Dum protes waktu masuk ke ruangan kami. Kebetulan memang Marta meletakkan oleh-olehnya di lantai 2.

“Kan ada Lempok pak di bawah” jawabku. Meski kularang (bercanda), Marta tetap membawa lempok, makanan khas melayu berbahan dasar durian, hanya saja diberikan untuk karyawan di lantai 1.

“Wah, dah mau pulang nih pak, gak berani makan saya” kata pak Dum.

“Emang kenapa pak? Gak doyan?”

“Doyan sih, cuma gak enak ma istri di rumah. Kalau durian sekalian malah gak papa.” pak Dum ngasih penjelasan. Aneh juga.

“Kalau saya sih memang gak suka” kataku.

“Wah, sayang sekali tuh, duren kan makanan paling enak pak. Rugi kalau gak doyan” kata Pak Dum.

“Aku juga gak doyan kok” kata Budi menyahut.

Bagi pak Dum, durian mungkin paling enak. Masalahnya, dia kan belum mencoba makan lain, apalagi yang haram-haram itu hehehehe…


TAGS makanan


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru