Customer Bikin Emosi

15 Nov 2010

Sore ini HP Budi berdering dan langsung diangkat. Terdengar pembicaraan, sepertinya dari customer, sepertinya customer bernada complain, dan Budi seperti berada di pihak yang salah.

Sore ini Dj diminta mengirim MoU ke customer, agar invoice yang kami kirimkan bisa segera diproses. Tapi lagi-lagi dia memberi kabar kalau bapak X menolak dengan alasan PIC yang tercantum di MoU itu salah, dan dia (bapak X ini) tidak mau menandatangani. Orang itulah yang menelpon Budi dan seperti kesal. Padahal, sebelum mengirim MoU tersebut, Budi sudah menelpon ke bapak tersebut dan menyatakan akan mengirim dokumen MoU dan bapak itu mengiyakan. Bahkan aku sempat mendengar Budi menanyakan nama bapak X itu dan mengeja namanya, agar dicantumkan dalam MoU. Kesan yang kutangkap saat itu, bapak X setuju kalau memang namanya yang dicantumkan.

Penolakan MoU ini sudah terjadi untuk kedua kalinya. Pertama kali ditolak karena orang yang namanya dicantumkan di MoU tersebut ternyata sudah resign. Waktu itu yang menerima adalah bapak B, yang mengusulkan agar nama bapak X yang dicantumkan. Kami revisi kembali MoU tersebut dengan mencantumkan nama bapak X. Budi juga sudah menanyakan langsung lewat telpon untuk memastikan, dan tidak ada solusi lain dari customer. Akhirnya, agar tagihan bisa segera cair, kami segera mengirim revisi MoU tersebut.

Eh, kok ditolak lagi, tanpa ada solusi dari mereka siapakah yang seharusnya menandatangani perjanjian itu. Udah gitu kok bapak X malah marah-marah ke Budi, Jengkel sekali aku mendengar itu.

“Ya udah, kalau mereka gak mau menandatangani MoU, tidak usah ditagih sekalian, kita batalin aja kontraknya. Ntar kalau mereka butuh, kita revisi lagi kontraknya. Jengkel banget sih” kataku ke Budi. “Sekarang coba Budi kirim email ke pak B, complain masalah ini, cc ke BM. Setidaknya sebagai bukti kalau kita sudah melakukan follow-up atas masalah ini.”

Akhirnya Budi mencoba mengirim email. Namun berkali-kali dia bingung mau memilih kata-kata. Setelah beberapa menit seperti tidak ada perkembangan, akupun kasihan.
“Ya udah, gak usah kirim email. Kita tunggu kabar dari sana saja”, kataku dengan emosi yang sudah mulai reda.


TAGS Kantor Customer


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru