Negosiasi

7 Oct 2010

Kemampuanku bernegoisasi masih sangat lemah. Aku paling malas untuk ngotot-ototan dan “memaksa” pihak lain menyetujui usulanku. Apalagi kalau aku sadar bahwa posisiku lemah atau salah. Lebih baik aku mengalah. Yah, bisa dibilang aku terlalu gampang ngalah, cari aman saja.

Padahal sebagai pimpinan, negosiasi adalah tugasku. Aku harus bisa meloby ke pihak luar terutama customer, agar menguntungkan perusahaan. Memang ajar kalau aku menolak membenarkan yang salah hanya demi keuntungan, dengan kata lain aku menolak berbohong. Namun ada kalanya, memang ada sesuatu perlu di perjuangkan tanpa harus bohong, meskipun secara perjanjian posisi kita lemah.

Itu yang kualami hari ini. Aku menemani Marta untuk me-loby customer agar bersedia melakukan pembayaran proyek meskipun belum selesai. Di atas kertas posisi kami jelas kalah karena memang sesuai perjanjian pembayaran akhir dilakukan setelah serah terima proyek. Terus terang aku datang dengan modal pasrah, berhasil ya syukur, gagal ya sudahlah.

Di dalam rapat pihak customer langsung menyampaikan hasil rapat internal mereka, yang intinya tidak dapat mengabulkan permintaan kami untuk melakukan pembayaran sebelum serah terima proyek. Aku sudah pasrah, tidak ada lagi ide untuk bernegosiasi lagi. Memang sesuai perjanjian seperti itu.

Tapi Marta mencoba ngotot. Hebatnya lagi, dia ngotot dengan tenang. Dia menyampaikan argumentasi yang menunjukkan bahwa jika mengacu pada kesepakatan awal maka pekerjaan ini sebenarnya sudah selesai. Semua pekerjaan yang diinginkan di awal sudah ada, hanya saja di tengah jalan ada perubahan dan tambahan yang diminta client. Sepertinya Marta sudah benar-benar mempersiapkan argumen tersebut. Salut.

Akhirnya client bersedia untuk memberi jalan tengah. Mereka bersedia melakukan pembayaran meskipun proyek belum selesai, tapi tidak semuanya. Semula Marta menginginkan 90% dari sisa pembayaran, tapi client hanya setuju 50%. Karena gak mau repot, akupun setuju untuk pembayaran 50% itu. Better than nothing.

Mungkin aku harus belajar ngotot, apalagi ngotot yang cantik, tidak terkesan menang sendiri atau menjatuhkan pihak lain.

Aku jadi teringat proyek pertama yang kukerjakan di kantor ini. Waktu itu proyek sangat molor. Aku sadar memang sebagian besar kesalahan karena kemampuan tim kami masih agak kurang dan kami sendiri harus membagi waktu dengan proyek lain sehingga tidak bisa hanya fokus di satu proyek itu. Namun pihak customer juga salah karena tidak intensif memeriksa pekerjaan kami dan kadang sering ada perubahan yang diajukan. Bongkar pasang itu cukup menyita waktu, tenaga dan menjengkelkan juga.

Namun ketika kami meeting bersama untuk membahas mengapa proyek tidak kunjung selesai, bosku melakukan “manuver” yang membuatku merasa bersalah. Waktu itu dia langsung berdiskusi dengan direktur client, menyampaikan bahwa kemunduran proyek terjadi karena permintaan dari karyawan sering berubah. Intinya, client (dalam hal ini si karyawan) yang salah. Direktur itu lebih percaya bosku daripada anak buahnya. Negosiasi bosku berhasil menyelamatkan timku, tapi memojokkan client. Kondisi ini membuatku tidak nyaman meskipun hasilnya melegakan bagiku.


TAGS Customer Negosiasi


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru