Tega Bener Sih

7 Sep 2010

“Ih, mas tega bener sih. Tumben-tumbenan tega gitu.” kata Budi, sesaat setelah aku tidak mengijinkan Iyor untuk pulang awal.

“Ah, biarin aja. Toh menurutku apa yang kulakukan masih wajar. Kita ini sudah sangat toleran, jarang banget ada kantor kayak gini. Mau pulang kapan saja silakan.” jawabku.

“Ya aku jadi gak enak aja, kesannya aku yang ngadu waktu Iyor mau pulang cepat” kata Budi.
“Ga lah, harusnya juga bisa tahu diri.” kataku.

Lagipula alasan Iyor kurang kuat. Hanya karena takut kena macet dan terpaksa buka puasa di jalan. Bukan hal yang mendesak. Kecuali dia harus ngejar bis terakhir yang memang jadwalnya tidak bisa diubah. Atau ada janji dengan teman (reuni) atau bertemu orang lain yang jarang ditemui, aku masih bisa terima.

Tapi cuma biar bisa buka bareng keluarga, ah kebangeten kalau bolos cuma alasan itu. Toh besok sudah libur dan masih ada kesempatan. Akan berbeda jika hari ini adalah kesempatan terakhir, aku pasti akan mengijinkan. Apalagi jaraknya tidak terlalu jauh, rata-rata perjalanan 1 jam. Jadi, jika aku minta dia pulang jam 3 (sebelumnya mengajukan pulang jam 2 siang) kurasa masih cukup waktu untuk bisa sampai rumah. Keluargapun pasti bisa mengerti, karena pekerjaan tidak bisa seenaknya ditinggal.

Pulang cepat jam 2 siang hanya karena alasan keluarga yang tidak mendesak menurutku agak keterlaluan. Apalagi menggerutu saat aku menolak dan meminta jam 3 saja. Jam 3 itu sudah sangat toleran menurutku, karena jam pulang normal adalah jam setengah 5. Ah, gak habis pikir.

Besok kantor sudah mulai libur panjang dengan jatah libur yang melebihi perusahaan lain. Seharusnya hari terakhir dimanfaatkan secara maksimal, bukan malah buru-buru pulang. Aku jadi malah curiga, jangan-jangan selama ini Iyor kekurangan kerjaan :-? Ah, sudahlah.


TAGS disiplin Kantor


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru