Prof Pamitan

2 Jul 2010

“Saya mungkin tidak selamanya di kantor ini.” demikian perkataan Prof dalam wejangan- nya saat rapat internal bulanan.

Beberapa orang agak terkejut, beberapa lainnya tidak, karena sudah mengetahui rencana beliau untuk mengundurkan diri. Panjang lebar wejangan yang disampaikan, tipikal Prof saat berbicara di depan pendengar yang lebih muda. Ceramah ini-itu, yang bagiku tidaklah penting, namun kucoba menghormatinya sebagai sosok yang lebih tua. Cukup panjang, 30 menit lebih, bahkan cenderung sulit untuk berhenti. Ah, benar-benar kayak ngobrol dengan lansia yang jarang dijenguk keluarganya.

Beberapa minggu sebelumnya, beliau mengirim email pengunduran diri, tapi ditujukan langsung ke BM, yang kemudian oleh BM di-forward ke aku. Tidak terlalu mengejutkan bagiku, juga tidak terlalu memberatkan. Kinerja Prof belakangan tidaklah menggembirakan, terutama ketika harus bernegosiasi dengan client yang bermasalah. Padahal dia sangat dibutuhkan dalam hal itu, lebih penting dibanding perannya sebagai sales.

Memang, banyak keunggulan Prof dibanding staff lain. Sebagai senior yang sudah ada sejak perusahaan berdiri, pengetahuannya sangat banyak. Ini juga yang dia “banggakan” saat menyampaikan wejangan. Namun sebagai senior, apalagi pernah menjadi pimpinan perusahaan, peran dia dalam mewakili perusahaan kurang maksimal. Seringkali ada kesan menghindar ketika masalah, khususnya yang terkait dengan customer. BM sendiri menilai bahwa itulah sifat buruk Prof.

Sayang memang untuk melepas Prof begitu saja. Namun dengan kinerja dan alasan yang dia sampaikan (faktor finansial), aku tidak berminat mempertahankan beliau. Moga saja di tempat baru beliau bisa lebih baik, dan kondisi keluarga juga membaik. Ada sedikit rasa bersalah kalau mengingat apa yang terjadi di keluarganya, dengan gaji yang tidak selalu penuh. Namun mau gimana lagi, kondisi perusahaan sedang terseok-seok. Aku sendiri berusaha memprioritaskan beliau terkait gajian, namun tetap harus cukup adil juga terhadap karyawan lain.

Pada akhirnya beliau mengirim (lebih tepatnya) mem-forward email pengunduran diri itu ke aku, dengan embel-embel “Maaf, bukan bermaksud melangkahi”. Hmm, pembelaan diri yang cukup menjengkelkan bagiku. Harus kuakui, aku sedikit tersinggung. Meskipun dia lebih senior dan lebih tua, tetap saja dalam organisasi, aku adalah atasan. Tapi sudahlah, aku tidak mau terlalu memusingkan hal ini.

Moga aja Prof bisa lebih maju dan sukses, dan keluarganya diberkati selalu.


TAGS Kantor resign


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru