Hari Yang Menjengkelkan

28 Dec 2009

Pertama: Amir out
Sejak minggu lalu Amir, yang baru 3 bulan kerja, sudah menyatakan untuk resign. Namun aku masih coba untuk nahan dia. Ternyata keputusannya sudah bulat.

Alasannya macam-macam. Awalnya hanya karena dia gak betah di cikarang, mungkin juga karena suasana kantor. Ujung-ujungnya dia curhat ke ortu dan ortu menganjurkan (anjuran yang diterima Rudi sebagai perintah). Satu hal yang lama-lama membuatku muak adalah berulangkali dia bilang bahwa dia gak bisa nglawan perintah ortu. Bahhh

Selain itu, dia juga mengeluh karena gajinya dipotong (wah, payah juga Budi, jadi salah paham juga). Sebenarnya di awal interview aku dah pernah sampailkan ini, tapi yah, dasarnya dah gak niat. Baru juga sekali kepotong 300ribu aja. Selanjutnya keluhan tentang uang transport ke customer yang tidak diberikan. Selama ini dia sering ke customer dengan motor dan dia mengeluh akan hal itu. Weks … Kenapa gak disampaikan di awal. Sialan,…ternyata aku tidak seharusnya menganggap orang lain seperti aku.

Kesimpulanku cuma satu, anak ini masih kekanak-kanakan. Gak cuma wajahnya, ternyata sikapnya juga. Menyesal juga aku terlalu menaruh harapan ke dia. Moga aja dia bisa semakin dewasa. Aku bisa maklum karena pengalamannya masih minim.

Kedua: Invoice telat
Sore hari Budi menelpon menanyakan tentang info customer. Dia mau kirim BAST sebagai lampiran invoice. Loh, kok baru sekarang? Bukannya harusnya kemarin? Makin telat aja nih. Budi bilang kalau kata Gita nunggu tanda tangan dari aku. Lah, seingatku aku pernah bilang bahwa gak perlu aku yang tanda tangan, Gita aja cukup. Nadaku cukup naik, hinggi Budi memilih mengakhiri pembicaraan. Aku sedikit menyesal karena marah, tapi sudah terlanjur. Harusnya aku marah ke Gita, tapi dia lagi sakit …ah, sudahlah.

Ketiga: Iyor yang kekanakan
Pas lagi makan malam, Iyor nelpon. Dia diminta membuat qoutation untuk program HRD. Dia tanya hal-hal detail yang seharusnya sebagai marketing sudah tahu.

Aku tahu alasan dia menelponku, karena dia tidak mau berhubungan dengan Prof. Seharusnya dia tanya ke Prof sebagai marketing senior. Tapi karena Iyor tersinggung dengan Prof dia tidak mau berhubungan dengan Prof. Ini yang membuatku jengkel.

Dalam dunia kerja, harusnya masalah perasaan bisa sedikit diabaikan. Suka tidak suka, ada pekerjaan yang perlu diselesaikan. Ah jengkel banget rasanya.


TAGS Pekerjaan kerja sama resign


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru