Syawalan

17 Oct 2009

“Jadi gimana Mas, buka puasa barengnya kapan?” tanya Budi.
“Besok aja Mas, kan Marta besok dah nyampe.” sahut Iyor. Saat ini Marta sedang pulang kampung.

“Wah, padahal sudah saya bela-belain hari ini ke kantor buat acara ini.” keluh BM.
“Duh, gimana ya, habis bingung nyari waktunya. ” jawabku.

Dua minggu lalu memang sudah sudah aku putuskan buat ngadain acara buka puasa bersama di kantor, sebuah acara rutin tahunan. Tapi hari ini banyak yang gak bisa - Prof, Bang Napi, Marta dan Akank cuti. Aku sendiri harus ke customer. Jadi hari ini batal, rencana mau kuganti besok. Tapi besokpun aku belum tentu bisa.

“Kayaknya tahun ini gak ada bukber, tanggung waktunya. Nanti aja habis libur, jadi acara syawalan.” kataku ke Iyor.
“Syawalan gimana maksudnya?” tanya Iyor bengong.
“Loh, gimana sih? Masak syawalan ga tau?”
“Yang kutahu bulan syawal atau puasa syawal. Tapi acara syawalan ga pernah tuh.”
“Masak sih? Itu lho, acara halal bi halal, diadakan di bulan lebaran.” aku coba jelaskan.
“Hehh, halal bi halal?”
“Budi, tahu acara syawalan gak?” tanyaku.
“Enggak. Aku tahunya bulan syawal.” jawb Budi, yang sejak kecil di Jakarta.

Hmm … Sepertinya syawalan cuma ada di Jawa. Langsung ingatanku melayang ke masa kecil. Dulu, Lebaran itu milik semua umat, setidaknya di daerah sekitarku. Meskipun tidak ikut puasa, umat nonmuslim turut serta merayakan Lebaran. Keluargaku ikut berkeliling, berkunjung ke para tetangga dan mengucapkan selamat lebaran, meskipun kami tidak merayakan Idul Fitri. Kami juga menerima ucapan selamat, “Sugeng Riyadi”.

Ya, istilah Sugeng Riyadi - Selamat Hari Raya - lebih akrab di telingaku daripada Selamat Idul Fitri. Mirip-mirip dengan istilah Happy Holiday atau Season Greetings sebagai ganti Merry Christmas.
Hanya saja, waktu aku bersama teman-temanku ujung atau silaturahmi ke tetangga, aku sekedar mengucapkan salam Sugeng Riyadi, gak sampai sungkem dan mengajukan permintaan maaf dan segala macam.

Selanjutnya, beberapa hari setelah hari H, biasanya di kampung ada acara Syawalan, pentas seni yang tentu saja disertai makan-makan. Dana untuk acara ini dikumpulkan dari seluruh warga dan dana kas desa. Kadang ada juga lomba untuk anak-anak dan remaja masjid, terkait dengan acara ini. Tetap saja acaranya bersifat umum, untuk semua warga, tanpa menghapus nuansa islami. Namun setidaknya, umat nonmuslim masih nyaman untuk mengikuti acara itu. Yang terpenting adalah rasa kekeluargaan dan kebersamaan warga kampung.

Di sekolahpun seperti itu. Hari pertama atau kedua setelah masuk sehabis libur, biasanya ada acara khusus untuk memperingati Idul Fitri, terbuka untuk semua siswa. Tak lupa acara bermaaf-maafan yang begitu mengular, semua siswa mengantri menyalami para guru yang berbaris. Akrab, tidak terlalu terasa sekat perbedaan agama.

Itu dulu. Entah apakah tradisi itu masih ada atau tidak, karena sudah belasan tahun aku merantau dan jarang mudik saat lebaran. Namun terakhir-terakhir, waktu aku mulai menginjak masa kuliah, sempat ikut acara syawalan di kampung, suasananya sudah sedikit berbeda. Kenetralan acara mulai bergeser. Acara syawalan mulai penuh dengan dakwah, pengajian dan nasyid. Mungkin memang sepantasnya seperti itu, toh ini adalah peringatan untuk hari raya umat muslim.

Namun, sebagai warga kampung, aku kangen saat-saat syawalan yang netral, syawalan yang merupakan tradisi bersama, milik semua, demi mempererat kebersamaan dan kekeluargaan.kebersamaan dan kekeluargaan.


TAGS agama


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru