Masalah Keluarga/Orang tua

18 Sep 2009

“Sebenarnya, ada alasan lain … alasan keluarga”, ungkap Bang Napi, saat aku mencoba menahan dia agar membatalkan rencana pengunduran dirinya. Aku sendiri tidak yakin apakah aku bisa mencegah niat itu, karena toh gak ada yang bisa aku tawarkan. Aku sendiri hanya bisa pasrah.

Setelah berbagai alasan diajukan, akhirnya alasan utama tampil. Alasan keluarga. Lebih tepatnya, campur tangan keluarga, dalam hal ini orangtua. Dia mengungkapkan bahwa orangtuanya prihatin dengan keadaannya, khususnya kondisi ekonomi. Orangtuanya berharap bang Napi bisa sukses, namun saat ini masih belum bisa sesuai dengan harapan orangtuanya. Apalagi adiknya tergolong lebih sukses, — dalam hal materi.

“Aku sendiri gak mempermasalahkan itu, tapi lama-lama gak enak juga kuping ini ndengerinya”, ungkap Bang Napi. Ditambah lagi kondisi kantor saat ini yang sedang sangat sulit, orangtuanya sangat kuatir.

Hmm .. finally, alasan utama muncul. Yah, kalau sudah menyangkut masalah keluarga, masalah jadi simple. Aku ingat Kandar, yang harus “mengalah” karena masalah keluarga. Aku sendiri bisa bertahan karena ngotot, dan sedikit “mengabaikan” keluarga.

Namun apa yang dialami Bang Napi, menambah daftar catatanku tentang campur tangan orangtua dalam kehidupan anak yang seringkali bertentangan dengan keinginan anak tersebut. Dengan dalih “demi masa depan anak”, orangtua sering mendikte jalan hidup sang anak yang seharusnya sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihannya sendiri. Setidaknya ada 3 orang yang kukenal, yang harus sedikit menyesal karenan memilih sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginannya, karena desakan dari orangtua. Saran/anjuran orangtua itu terdengar baik, namun jelas bukan apa yang bisa dinikmati oleh sang anak.

Pertama adalah Elis, adik mantan pacarku. Sebagai anak yang menyukai seni, dia ingin melanjutkan kuliah di bidang kesenian, khususnya seni rupa. Namun orangtuanya yang cukup kolot menganggap kuliah seperti itu tidak ada masa depannya. Berhubung kakaknya dianggap telah sukses dibidang informatika, terbukti dengan bisa bekerja di salah satu bank swasta, maka sang orangtua “memaksa” Elis untuk mengambil bidang informatika juga. Sebagai anak yang patuh, Elispun mengambil kuliah Informatika itu, namun sebenarnya dia tidak bisa enjoy dengan kuliah tersebut. Sering dia mengeluh tidak cocok dengan bidang yang dia tekuni saat ini.

Kedua adalah Adek. Orangtuanya memiliki pandangan bahwa kuliah di jurusan Teknik lebih menjanjikan. Entah darimana mereka mendapat kesimpulan itu, mungkin dari kenalan mereka yang anaknya sukses di bidang teknik atau entahlah. Soalnya kakak Adek sendiri kuliah belakangan, bahkan Adek lulus lebih dahulu, dan sebagian besar saudara mereka juga tidak memiliki pendidikan tinggi. Demi menuruti harapan orangtua inilah, Adek memutuskan mengambil jurusan Teknik meskipun sebenarnya itu bukan bidang yang paling diminatinya.

Adek adalah seorang pekerja keras, perfeksionist bisa dibilang. Jadi meskipun kuliah tidak sesuai bidangnya, dia jalani sebaik mungkin hingga akhirnya bisa lulus cum laude. Namun tetap dia tidak puas. Akhirnya dia kesulitan mencari pekerjaan. Sebenarnya dia lebih tertarik dengan psikologi, atau malah kedokteran hewan atau bidang lain. Tapi bukan teknik, karena dia tidak suka bekerja di lapangan, dia lebih suka bekerja sebagai peneliti, atau di backoffice. Dia menyesal dengan pilihan jurusan yang dia ikuti, namun semua sudah terjadi. Demi memuaskan “keinginan” orangtua.

Ketiga adalah rekan kerjaku juga, Kokom. Dia suka dengan hal-hal berbau manga, tipikal AbG gaul dan sepertinya menyukai seni. Namun orangtuanya meminta dia untuk kuliah tidak jauh dari rumah, entah apa alasannya, aku lupa. Akhirnya dia mengambil kuliah komputer, yang sama sekali tidak diminatinya. Namun karena “dorongan” orangtua satu-satunya, dia nurut dan menjalani dengan baik. Tapi menurutku sih, apa yang dia pelajari tidak bermanfaat bagi dia. Pernah dia ceritakan ini ke aku, yah, aku hanya bisa memberi sedikit semangat, tapi tidak bisa banyak membantu. Masalah Kokom terkait dengan orangtua tidak hanya masalah studi, tapi banyak lagi. Sebagai gadis yang baik, dia berusaha terus menuruti orangtua dan keluarganya, meskipun terlihat jelas waktu dia cerita, dia tertekan.

Aku tidak menyalahkan para orangtua itu. Mereka punya niat yang baik, mereka punya harapan yang bagus. Tidak ada yang mengharapkan anak mereka gagal, pasti setiap orangtua menginginkan anak mereka sukses. Kesuksesan anak adalah kesuksesan orangtua juga (meskipun ini jadi terdengar egois). Tapi bagiku, kesuksesan itu banyak jenisnya. Karir, materi dan kedudukan bukanlah berarti sukses. Pernah gagal juga tidak berarti selalu gagal. Terlihat “biasa-biasa saja” juga belum tentu tidak sukses. Seharusnya setiap orang bisa menemukan jalannya sendiri, apa yang membuat dia bisa menikmati hidup. Segala sesuatu ada resikonya, dan setiap tantangan justru bisa mendewasakan orang tersebut. Please, jangan dikte anak ketika dia sudah punya hak untuk memilih. Kesalahan itu wajar, setiap orang pasti buat salah, asalkan bukan kesalahan yang merugikan orang lain atau melanggar hukum.


TAGS resign Orangtua Kehidupan


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru