Akhirnya Kusampaikan Juga

16 Sep 2009

“Budi, Iwed kapan habis kontrak?”
“Hmm … tanggal 2 kemarin.”
“Waduh .. udah habis donk? Kirain masih tanggal 20-an, makanya aku santai saja”.
“Terus gimana? Mau diperpanjang 1 bulan lagi?”
“Gak ah, nanti kalau ada kesempatan aku sampaikan ke dia kalau kontraknya tidak diperpanjang lagi.”

Yah, kontrak Iwed memang tidak akan diperpanjang lagi. Terakhir aku perpanjang kontraknya 3 bulan untuk melihat apakah dia masih bisa dipertahankan atau tidak. Salah satu alasanku memperpanjang kontraknya adalah karena dia disiplin, berbeda dengan orang lain. Namun belakangan mulai terlihat jiwa “membangkang”nya. Beberapa kali aku memberi instruksi dan dia memilih melakukan dengan caranya sendiri, yang terbukti tidak efektif. Malah dengan tegas dia menolak beberapa hal seperti mengisi laporan aktivitas dan jadwal piket. Jujur aku tersinggung. Tapi aku mencoba untuk objektif, tidak mengambil keputusan berdasar ketidaksukaanku. Aku mencoba memberi penjelasan tentang pentingnya hal-hal tersebut.

Namun sayang, tidak banyak perubahan yang terjadi. Selain masalah komunikasi, dimana kadang terkesan dia sulit untuk memahami sesuatu, bahkan lebih parah lagi, sering salah menangkap suatu penjelasan, sekarang muncul satu lagi masalah yaitu kerjasama. Bagiku, dalam kerjasama tim, perlu ada arahan yang jelas. Koordinator atau pemimpin tim diperlukan ada semua bisa berjalan dengan benar, serasi dan sesuai harapan. Perubahan atau improvisasi tetap perlu, namun harus sehati. Tidak bisa masing-masing menggunakan cara sendiri di saat strategi sudah diatur. Inilah kerja tim, bukan kerja individual.

Selain itu customer juga mengeluh, karena masalah komunikasi. Seringkali terjadi salah paham, bukan karena tidak memahami atau kurangnya pengetahuan, tapi lebih karena asumsi yang tidak pas, namun sulit diperoleh karena kendala komunikasi. Akibatnya, kadang customer malas untuk menyampaikan problem ke Iwed, karena kuatir adanya salah paham.

Jadi aku putuskan untuk tidak memperpanjang kontrak Iwed lagi, sekalipun dia masih semangat mengerjakan proyek. Namun kebiasaannya untuk bertindak tanpa konfirmasi, sekehendak hatinya selayaknya manajer, membuatku makin yakin untuk tidak memperpanjang kontraknya. Akhirnya waktu untuk menyampaikan itu datang juga, setelah beberapa kali kami tidak ketemu, karena aku sering ke customer.

Malam itu, kebetulan jadwal ke customer dibatalkan karena sudah akan libur panjang. Iwed tiba-tiba datang sore hari, sepertinya habis dari customer juga. Aku tidak harus memanfaatkan waktu ini, sebelum terlambat berhubung sebentar lagi libur panjang. Sore itu dia sedang sholat, aku menunggu sambil membaca koran. Selesai sholat, dia menghampiriku, mungkin dia pikir aku ingin membahas tentang sebuah proyek.

Akhirnya, tanpa basa-basi, kusampaikan mengenai nasib kontraknya. Dia mendengarkan dengan seksama, seperti biasa. Namun mendengar penjelasanku, dia tersenyum getir. Terlihat ada kekecewaan dan kesedihan. Kupikir dia akan marah karena pemberitahuanku mendadak. Namun sepertinya dia bisa memahami alasanku. Dia juga menyadari masalahnya, dan tidak banyak protes. Dia terima keputusanku apa adanya. Justru aku yang jadi salah tingkah, gak tahu lagi mau ngomong lagi.

“Ya saya juga berterima kasih, selama ini sudah dibantu. Dari yang gak bisa jadi bisa, banyak pelajaran yang saya dapatkan”, demikian ungkapnya terakhir kali.

Biar gak makin salah tingkah, aku segera beranjak meneruskan pekerjaanku malam itu.


TAGS Pekerjaan kerja sama resign


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru