Cari Aman Aja

1 Aug 2009

Bang Tog datang lengkap dengan baju batiknya. Hari ini kami harus menyewa dia sebagai driver untuk nikahan Kuca. Satu yang agak berbeda dengan penampilannya adalah dia mengenakan peci.

“Wah, tumben nih?” tanyaku atas penampilannya.
“Ya ginilah Mas. Aku kan sering ke Cirebon, Serang dan tempat-tempat lainnya. Jadi ya cari aman aja.” jawabnya sambil tersenyum. Jawaban yang wajar bagi seorang nonmuslim, saat berada di kawasan minoritas.

Berbaur dan cari aman, itulah umumnya alasan utama seseorang melakukan adaptasi atau penyesuaian, meski harus melakukan sesuatu yang tidak biasa dilakukan.

Alasan berbaur sangatlah bisa diterima. Sebagai makhluk sosial, kita perlu terlibat dalam masyarakat, berinteraksi dan berkomunikasi. Kadang kita perlu “menanggalkan” kebiasaan kita dan menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitar. Penampilan, bahasa dan perilaku perlu ada penyesuaian, meski tidak harus dipaksakan. Semua demi kenyamanan bersosialisasi.

Namun, alasan cari aman, adalah sesuatu yang patut direnungkan. Alasan ini muncul karena rasa tidak aman ketika menjadi berbeda. Mengapa rasa ini muncul? Karena sejarah menunjukkan ketidakdewasaan masyarakat dalam menanggapi perbedaan. Apalagi ketika terkait dengan masalah agama, politik dan ekonomi.

Agama? Ya, sayangnya lebih sering karena agama. Agama, yang sering meng-klaim bersifat universal, seringkali harus tercoreng akibat ulah pengikutnya yang tidak dapat menghargai perbedaan. Diskriminasi, pengucilan bahkan penganiayaan karena berbeda agama telah sering terjadi.

Perbedaan tidak dapat dihindari. Semoga saja di bangsa ini masyarakat bisa lebih dewasa dan toleran terhadap perbedaan apapun, terutama perbedaan agama. Agama yang seharusnya mengajarkan cinta damai, tidak seharusnya ternoda oleh ulah pengikutnya yang tidak bisa menghargai kebebasan. Mudah-mudahan apa yang terjadi selama ini hanyalah wujud ketidakdewasaan umat beragama, bukan wujud dari ajaran itu sendiri.


TAGS Sosial agama


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru