Saya Suruh Pulang

7 Jul 2009

Di tengah-tengah rehat meeting dengan customer, tiba-tiba telepon berbunyi. Ternyata dari customer lain, perusahaan Eropa. Berhubung sedang rehat, aku angkat saja telpon tersebut.

“Pak, itu barusan Anda kan kirim orang ke kantor kami. Sekarang langsung saya suruh pulang. Soalnya dia gak tahu sama sekali apa yang mau dikerjakan. Nah, user di sini gak mau ngasih penjelasan ulang dari awal, karena sudah memberi penjelasan detail ke BM. Rencananya hari ini langsung masuk ke penjelasan lebih detail. Ini sudah yang kedua kalinya Pak Anda kirim orang seperti itu.”

Demikian kira-kira apa yang disampaikan customer tersebut. Langsung saja aku senewen. Tapi karena dia customer, dan membantahpun gak ada gunanya, aku iyakan saja tanpa banyak memberi komentar. Tapi hati ini benar-benar dongkol.

Ah, dasar customer belagu, pikirku. Mentang-mentang perusahaan besar, gitu aja malas. Meskipun dalam hati aku mencoba memahami kejengkelan customer tersebut yang malas untuk memberi penjelasan ulang, namun langsung menyuruh pulang rasanya keterlaluan. Apalagi kondisi kantor memang sedang tidak memungkinkan untuk mengirim orang yang “bagus”, mau gak mau ya yang ada dulu.

Akhirnya, terserah mau dibilang kekanak-kanakan, aku putuskan untuk mengabaikan customer tersebut. Nilai proyek kecil meskipun pekerjaan juga tidak berat, tapi sikap customer yang tidak menyenangkan aku kuatir malah akan menambah beban psikologis dan mengganggu pekerjaan lain yang lebih penting. Jadi kulepas saja kesempatan ini. Toh kemungkinan sulit mendapatkan peluang proyek besar dari perusahaan yang sudah terlalu mapan itu.

Kasian juga aku sama Akank, yang sudah dua kali “kukorbankan” untuk mendatangi customer tersebut.


TAGS Kantor


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru