Prinsip Taichi

26 May 2009

Sore ini sedikit santai, aku, Budi dan Gita ngobrol di ruangan. Ngalor-ngidul gak karuan, membahas foto narsis, kebon binatan, sampai masalah busway.

“Aku pernah sekali kok naik Busway”, kata Gita.
“Mas, ajakin Gita naik busway tuh”, kata Budi meledek.

“Ayuk Git, mau kuajak naik busway?” kataku, ancang-ancang dengan ledekan yang lain. Tapi karena aku gak punya jurus baru, gelagatku sudah bisa ketebak.

“Huh, paling ke customer. Ke Ancol, tapi ke customer juga kan”, jawab Gita mencibir.
“iya, ke Ancol .. mau? Bareng itu (omonganku pelan)..,” sambil mataku melirik ke arah tempat duduk Iwed.

Hampir setiap orang agak keberatan untuk jalan bareng Iwed, khususnya perempuan. Bukan karena dia jahil atau nakal, justru orangnya sangat sopan. Tapi acuhnya agak keterlaluan. Tidak banyak ngomong, dan kalau ngomong cenderung kaku, dan bagi beberapa orang terkesan aneh. Entah mengapa, yang jelas, sebisa mungkin menghindari bersama Iwed.

Itulah manusia, butuh kenyamanan dalam komunikasi. Komunikasi sudah menjadi kebutuhan primer, baik komunikasi langsung maupun tak langsung. Makanya telepon seluler menjadi teknologi yang sangat booming, ditambah dengan kemampuan koneksi internet yang makin memperluas kemungkinan komunikasi tanpa batas.

Kembali ke obrolan busway tadi, nampaknya Gita sudah tahu kemana arah sindiran dilakukan. Sudah seringkali dia dipojokkan. Seperti yang lainnya, dia paling protes kalau harus satu tim dengan Iwed. Namun, kali ini dia pakai cara jitu untuk menangkis ledekan kami. Cara yang sering kugunakan, prinsipnya seperti prinsip Taichi … meminjam tenaga lawan (halah .. .aneh-aneh saja).

Yup, tiba-tiba dia berkata dengan suara cukup keras. “Apa? Ke Ancol bareng Iwed?”

Waduh, dalam hatiku. Kacau juga anak itu. Iwed saat ini sedang asyik dengan dunianya sendiri. Namun jelas dia mendengar. Aku mulai kuatir, kuatir kalau Iwed merasa tersinggung karena jadi bawa tertawaan.

“Bang Wed, mau ke Ancol bareng aku?” Gita makin menjadi-jadi. Halah … parah-parah, jadi gak enak hati aku. Jadi merasa bersalah juga karena sudah ikut meremehkan Iwed secara tidak langsung. Meskipun tujuanku bercanda, tapi tetap saja bisa buat orang lain tersinggung.

Iwed bergeming, diam saja. Entah enggan menanggapi, atau mungkin dia tersinggung. Gita merasa puas. Dia tidak merasa bersalah. Benar-benar strategi yang jitu. Dengan berkata demikian, dia tidak perlu merasa malu, malah membuat pihak yang menyerang, yaitu aku sendiri, jadi salah tingkah, serba salah karena gak enak hati terhadap Iwed.

Ah, senjata makan tuan namanya. Gita bisa membalikkan serangan dengan sangat tepat. :(


TAGS Pertemanan Komunikasi


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru