Tiap Jumat Kemana?

23 Apr 2009

“Bang Napi tiap Jumat kemana ya?”, tanya Marta waktu kami makan siang bersama.
“Ke Bandung, kuliah”, jawabku. Ada rasa kurang nyaman aku mendengar pertanyaan itu.
“Oh, ambil jurusan apa?”
“Entah, gak tahu juga. Dia gak pernah cerita. Kata dia, dia sudah dapat ijin dari Prof, jadi aku gak banyak tanya”
“Terus, dia ganti hari atau gak?”

Nah, mulai pertanyaan yang cukup sensitif. Agak malas juga membahas hal ini. Ada sedikit nada iri, meskipun aku gak bisa menyalahkannya. Wajarlah, karena memang sepertinya kok ada perlakuan yang berbeda.

“Ya, kadang hari Minggu dia kerja, kan kuliah cuma Jumat-Sabtu.” jawabku, mencoba mencari jawaban yang aman, meski terkesan membela Bang Napi. “Aku sih cuek aja, toh selama ini kinerja Bang Napi juga bisa dipertanggungjawabkan.”
“Iya sih” kata Marta, meski seperti terdengar kurang puas. “Kalau aku cuti tiap Jumat boleh gak?”
“Boleh aja, asal alasannya jelas.” jawabku.

Ah, susah memang untuk bersikap adil. Di satu sisi, aku ingin tidak perlu ada aturan, yang penting tiap orang bertanggung jawab, disiplin dan punya komitmen dengan pekerjaannya. Namun sering kali ada yang menyalahgunakan, atau ada yang merasa iri karena seperti tidak mendapat perlakukan istimewa. Dulu Iwed pernah protes karena waktu dia terlambat dia ditegur, sementara orang lain kok seperti dicuekin. Padahal tanpa dia ketahui, orang lain yang terlambat itu juga ditegur. Masih banyak kasus lain yang serupa. Beginilah jadinya kalau tidak ada standard. Tapi kalau ada standard, kadang jadi kaku dan tidak suasana kerja jadi gak nyaman.


TAGS Kantor


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru