Minyak Rambut

3 Mar 2009

“Mas, kapan ulang tahun?”, tanya Marta tiba-tiba, sambil tersenyum.

“Ada deh, emang kenapa?” jawabku sambil balas bertanya.

“Aku mau ngasih kado”, katanya sambil tetap cengar-cengir. Wah, nampaknya ada gelagak kurang baik nih. Apalagi para gadis selama ini mengembangkan tradisi memberi kado ultah yang aneh-aneh, meski hanya ke sesama gadis.

“Wah, bisa kutebak, pasti mau ngasih minyak rambut ya? Ogaaaahhh”, kataku berteriak.

Kebetulan waktu itu Iyor datang. Sedikit heran dengan kehebohan yang ada, dia gak mau ketinggalan, dan mulai bertanya.

“Gini Yor, aku mau ngasih Mas minyak rambut” kata Marta dengan tersenyum.

“Ihhhh …. “, respon Iyor di luar dugaan Marta. “Gak mau ah. Aku paling jijik lihat cowok pakai minyak rambut, apalagi yang ampe licin.” kata Iyor dengan serius, dan suara yang cukup keras.

Waduh … gawat juga anak itu. Dia tidak menyadari, kalau Iwed ada diruangan itu juga. Selama ini, Iwed-lah yang selalu rapi rambutnya, licin, bahkan di saat mau tidur. Pokoknya minyak rambut gak pernah terlupakan lah. Pernah suatu kali aku menemukan minyak rambutnya, ternyata jenis minyak rambut yang jadul banget, aku ingat waktu kecil pernah nemuin minyak seperti itu di tempat nenekku, di rumahku sendiri gak pernah ada yang pakai minyak rambut itu.

Aku, Iyor dan Marta segera mengecilkan volume percakapan, kuatir kalau Iwed jadi tersinggung. Dasar Iyor gak lihat situasi, asal njeplak aja.

Beberapa hari ini, Marta memaksaku memakai minyak rambut. Waktu itu dia mulai menyadari, mengapa seperti tidak ada yang beda waktu aku dalam suasana santai maupun dalam suasana resmi (misalnya akan ke customer). Secara pakaian, aku selalu memakai celana kain dan kemeja (ditambah jaket andalan) tiak ke customer, buatku sudah cukup rapi. Tapi Marta tetap menganggap ada yang kurang.

Nah, beberapa hari lalu dia menemukan jawabannya, yaitu karena rambutku tidak pernah memakai minyak atau gel.

“Coba deh Mas, pakai minyak rambut atau gel, biar lebih terlihat rapi.” katanya sedikit membujuk.

“Ah, gak mau, ogah! Sejak kecil aku paling malas pakai minyak rambut. Dulu bapakku sering pakai Brisk, gak pernah aku berminat untuk mencobanya. Dua hal yang kuhindari, minyak rambut dan lotion. Dulu kakak-kakakku juga sering memaksaku untuk pakai minyak rambut, selalu kuhindari.” jawabku. Aku sendiri heran, kenapa kau malas memakai minyak rambut. Mungkin aku ingin terlihat biasa saja, wajar, gak macam-macam.

“Kok lama-lama aku jadi kayak sales minyak rambut ya … hehehe”.


TAGS rekan mnyak rambut penampilan


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru