Bekas Rokok???

22 Jan 2009

Orang yang lagi sensitif, memang kadang jadi nyebelin.

Hari ini sepertinya hari yang berat bagi tiap orang di kantor, khususnya buat bagian marketing. Mereka dianggap kurang produktif, sehingga diminta untuk lebih giat lagi dalam menjual produk, menjalin hubungan dengan customer serta melakukan kunjungan. Ditambah lagi dengan kebiasaan marketing yang datang terlambat, padahal jam kerja kantor sudah lebih siang dibanding kantor lainnya. Belum lagi dengan kebijaksanaan baru agar melakukan penghematan, termasuk menghemat biaya perjalanan.

Pagi tadi Prof memaksa Iyor untuk menge-push staff marketing dalam hal kehadiran dan kunjungan ke customer. Dengan kondisi seperti ini, kurasa Iyor pun susah untuk menekan. Selain posisinya yang serba nanggung, kondisi karyawan juga sedang labil. Memberi paksaan dalam keadaan tertekan seperti ini hanya akan membuat emosi meledak. Makanya aku ambil inisiatif, ngobrol pelan, mencoba membahas dengan staff marketing tentang masalah keterlambatan, agar tidak terlalu tertekan. Memang ada alasan pribadi yang sering menyebabkan staff marketing datang tidak tepat waktu, dan aku cuma minta agar mereka berusaha lebih lagi, karena seringkali customer menelpon di pagi hari.

Selain itu, nampaknya kebijaksanaan penghematan biaya perjalanan juga makin membuat jengkel staff marketing. Katanya setiap perjalanan, khususnya jika ke Jakarta, maksimal menghabiskan 200ribu. Otomatis tidak ada jatah makan siang, juga dianjurkan untuk menggunakan angkutan umum, karena kalau sewa driver+mobil akan lebih mahal. Staf marketing, yang terbiasa nyaman dengan kendaraan pribadi, merasa kaget dan kurang terima dengan kebijaksanaan yang mendadak ini.

Inilah yang membuat Ekusa menjadi sedikit sewot siang ini.

Setelah makan siang, BM datang mengantarkan mobil sambil bilang kalau mau ke Jogja. Waktu melewati meja rapat, dia melihat bercak-bercak putih. Spontan dia bilang “Bekas rokok???”.

Aku sempat kaget. Di awal kupikir bekas rokok juga. Tapi aku ingin memastikan dulu. Setelah kuamati, ternyata bukan bekas rokok, melainkan bekas gula donut. Kemarin Handoyo datang membawa donut. Ah, hampir aja aku emosi.

Ternyata, Ekusa yang sedang emosi dan tertekan sejak pagi, merasa disalahkan. Bagi dia, pernyataan bahwa ada bekas rokok di meja mengarah ke dia sebagai pelakunya. Langsung saja dia sewot, menggerutu.

Aku sempat berusaha ngomong baik-baik, bahwa itu bukan tuduhan buat dia. Kalaupun benar itu bekas rokok, yang kutuduh adalah para pria di kantor ini. Tapi toh gak ada yang menuduh. Dasar lagi emosi, sensitif, tetap saja Ekusa merasa jengkel dan merasa dia yang dituduh. Yang jelas dia menggerutu terus. Lama-lama akupun terbawa emosi, ikut jengkel juga.

“Ah dasar. Terserah lah!” pikirku, sambil ngeloyor pergi. Peduli amat dengan orang sensi.


TAGS Pertemanan Rokok


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru