Dua Ribu Ditambah Sebungkus Rokok

16 Jan 2009

“Wah, setiap kali lewat tempat ini, saya jadi ingat kejadian waktu malam-malam di sini” kisah Aden sambil tersenyum. Waktu itu kami baru saja naik bis ke Cikarang dari Blok M.

Rupanya, beberapa hari lalu, sepulang dari salah satu customer di Salemba, dia menuju ke Blok M untuk menunggu bis. Sudah cukup larut, hampir jam 10. Dari Cikarang dia cuma berbekal uang 50ribu, itupun aku yang meminjami karena bendahara kantor belum datang. Dari perhitungannya, uang itu pas-pasan lah untuk ongkos bis Cikarang-Jakarta PP.

Apalagi siang hari makan dibayarin oleh Kandar. Jadi, sepertinya masih ada sisa untuk beli rokok. “Dah seharian gak ngrokok” katanya. Tanpa handphone dan jam tangan, dia sama sekali gak ngerti saat itu sudah jam berapa. Dari penjual rokoklah dia tahu kalau malam itu sudah mendekati jam 10.

Sadarlah dia kalau bis ke Cikarang sudah tidak ada lagi dari Blok M. Akhirnya dia naik bis terakhir menuju Bekasi (Masih ada ya? - Iya, untungnya tuh, bis terakhir). Bis mengantarnya sampai Cibitung. Dari situ dia berganti bis ke Cikarang.

“Pas saya tanya, nyampai EJIP gak? Kernetnya bilang iya. Jadi tenanglah saya.” sambungnya.

Padahal bis itu hanya lewat Cikarang, kemudian langsung ke Karawang. Jadi dia diturunkan di terminal lama Cikarang, dari situ harus naik angkot sekali lagi ke EJIP. Pas dia hitung uang didompetnya, cuma tersisa 2 ribu. Nekatlah dia.

“Bang, ke EJIP ongkosnya berapa?” tanyanya ke supir angkot setelah dia ada di dalam angkot.

“Goceng.” jawab sang supir tegas.

“Gini. Saya cuma ada duit 2 ribu, sama sebungkus rokok. Mau gak?” tanyanya ke supir. Tersenyum dia waktu mengenang saat itu.

Ternyata supir itu menyanggupi. Jadilah dia meluncur menuju EjiP. Dari EJIP ke kantor masih sekitar 2 kilo lagi, itupun sudah tidak ada angkot karena terlalu malam, yang ada cuma Ojek yang ongkosnya mahal. Jadi sebelum dia turun, dia ambil dulu satu rokok. “Buat teman jalan, Bang”.

Yah begitulah, untung juga bawa rokok. Jadi sepanjang jalan, meskipun jauh dan sudah malam, setidaknya ada sebatang rokok yang menemani.

Sialnya, sampai kantor kok kunci kantor sudah diganti. Waduh, saya tunggu sampai hampir sejam gak ada yang mbukain pintu (Ya iyalah, wong dah sekitar jam dua, yang lain juga dah terkapar tidur nyenyak). “Terpaksalah saya jalan kaki lagi pulang ke kos. Tahu gitu kan saya tadi langsung ke kos aja.”

Ya, setidaknya dari pengalaman pahit itu, ada pelajaran berharga. Jangan nunggu bis ke Cikarang di Blok M setelah lebih dari jam 8, sudah gak ada. Mending di Halte Pajak, masih ada bis sampai jam 10 malam.
Selain itu, dia punya slogan baru — kalau duit mepet, yang penting bawa sebungkus rokok, siap tahu berguna. Hahahaha …


TAGS Pertemanan duit


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru