Kulihat Dia Menangis

15 Jan 2009

Satu proyek kantor sedang di masa kritis. Waktu 6 bulan yang dijadwalkan, sudah lama terlewati. Client sudah berbaik hati memperpanjang menjadi 2 bulan lagi, tapi team (yang sebenarnya cuma mengandalkan Om Bag saja) tetap gagal membereskan proyek yang seharusnya memang memiliki skala besar.

Kali ini client benar-benar habis kesabaran. Dari masa perpanjangan, client masih memberi waktu lagi 1 bulan sesuai permintaan kami. Sebelumnya aku bertanya ke Om Bag, kira-kira butuh waktu berapa lama lagi, dan menurut dia, satu minggu cukup.

Ternyata, jangankan satu minggu, satu bulanpun tidak beres juga. Memang ada beberapa faktor X, seperti libur panjang, sakit dsb. Kesalahan yang terbesar adalah proyek sebesar ini dibebankan pada satu orang, meski team ada beberapa, namun sangat tergantung pada satu orang itu.

Presentasi terakhir yang dilakukan Aden bersamaku, masih terbilang gagal. Padahal waktu toleransi tinggal beberapa hari lagi. Kali ini client benar-benar habis kesabaran. Mereka gak mau lagi memberi kesempatan.

Kandar terpaksa diminta untuk turun tangan, ikut menyelesaikan dan mencoba melakukan negosiasi ke client. Padahal dia sendiri sedang sibuk dengan proyek lain yang juga sudah lewat batas waktunya dan dalam kondisi kritis karena client yang “keras”. Sempat aku mendengar Kandar berusaha mencari alasan agar client memberi kesempatan, dari alasan berubah menjadi permohonan.

“Satu kali lagi Pak. Masak gak mau sih ngasih kesempatan sehari saja untuk presentasi”

Demikian kurang lebih aku dengan Kandar berbicara cukup lirih, berbeda dengan kebiasaannya yang berbicara keras di telepon. Sempat kulihat dia menangis, mengusap air mata yang menetes di pipinya.

Salut.

Yah, aku salut dengan perjuangan Kandar dan kepedualiannya terhadap kantor. Meski bulan depan dia sudah memutuskan untuk resign, tapi dia tetap peduli dan memberikan yang terbaik untuk kantor. Kurasa dia bisa saja memilih untuk cuek, toh sebentar lagi dia pergi. Tapi kurasa rasa tanggung jawab yang dia miliki, dan yang sebenarnya ingin terus dia miliki, masih cukup besar. Aku juga sedih, tapi rasanya kesedihanku belum sebesar yang dirasakannya.


TAGS Pekerjaan


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru