Dari Nyengirmu Aku Dah Tahu!

13 Jan 2009

Sudah lama Kandar gak datang ke kantor. Gak lama-lama amat sih, baru beberapa hari aja. Tapi memang dia lebih banyak di tempat customer karena ada proyek yang mendesak dan mengharuskan dia untuk stay di tempat customer itu. Paling-paling kalau ada jadwal meeting internal, baru dia datang ke kantor.

Pagi ini Kandar ke kantor. Mungkin untuk melakukan koordinasi, termasuk terkait dengan beberapa proyek yang kondisinya kritis, karena batas waktu yang sudah makin mendekat sementara belum ada tanda-tanda proyek akan beres. Terutama satu proyek, yang ditangani Om Bag, selain karena customernya sangat temperamental dan bikin senewen, Om Bag sendiri juga sakit-sakitan. Pagi ini Om Bag batal ke tempat customer tersebut karena sakit, padahal sudah sempat sampai Jakarta.

Setelah membicarakan bagaimana strategi terkait dengan proyek-proyek yang sudah kritis kondisinya itu, Kandar berbicara kepadaku. “Selain itu ada sih yang ingin kubicarakan, tapi gak bisa di sini. Nanti aja kita bicarakan di atas.”. Waktu itu kami ngobrol di lantai bawah, sementara meja kerja kami ada di lantai 2.

“Ah, dari nyengirmu itu aku dah tahu apa yang mau kamu katakan!” jawabku santai, sambil nyengir juga, menikmati teh manis hangat pagi itu. Ada kata-kata pembukaan yang dia sampaikan, aku bisa menebak kalau dia punya niat untuk resign.

Aku sendiri merasa tidak ada ekspresi khusus yang kutunjukkan ke Kandar waktu mendengar itu. Padahal dalam hati aku merasa sedih, kecewa, kaget dan cemas. Satu lagi karyawan andalan harus melangkah keluar, membuatku berpikir, apakah kantor ini akan bisa tetap bertahan atau tidak. Bagiku, Kandar bersama Handoyo adalah pilar yang penting, karena skill dan potensi mereka yang luar biasa. Namun Handoyo sudah lebih dahulu cabut, setelah menikah. Sekarang giliran Kandar.

“BM dah tahu kok.” kata Kandar pelan. “Ya, gimana lagi, kondisinya begini.”

“Aku paham kok” kataku sambil tersenyum. Senyum getir sebenarnya. Tapi aku tetap mencoba bersikap wajar. Ah, dasar orang Jawa, selalu saja pura-pura tidak ada kejutan, gengsian, gak mau terlihat ada gejolak perasaan.

Setelah suasana memungkinkan, di meja kerja dan saat makan siang bersama, kami lebih leluasa membahas tentang rencana resign Kandar. Dia sendiri mengaku cukup berat meninggalkan kantor. Hal yang membuat dia berat adalah karena dia merasa belum bisa menghasilkan sesuatu yang berarti di kantor. Tapi istrinya mendesak terus, apalagi dia punya tanggungan cicilan rumah. Saat ini, akunya, tabungannya sudah benar-benar habis (yah, sama jugalah ma aku). Dia harus menggantungkan diri pada gaji istrinya.

Akhirnya diapun mengalah. Tapi tetap dia berjanji untuk membereskan tanggung jawab dia, dan melakukan take-over setiap proyek yang dia tangani selama ini agar tidak terbengkalai. Diapun berjanji, kapapun diperlukan, dia tetap available untuk dikontak dan siap membantu, meski dari jarak jauh.

Yah, aku bisa maklum dengan keputusannya. Dalam posisi seperti dia saat ini, mungkin akupun akan terpaksa mengambil langkah yang sama. Bedanya, aku masih bujang, jadi belum ada sesuatu yang mengikat, meski aku juga punya tanggung jawab untuk keluargaku sendiri. Perjuanganku akan makin berat rasanya, demi sebuah mimpi, namun sepertinya aku ingin tetap membulatkan tekad untuk meraihnya.

“Mas harus siap dengan kondisi terburuk”, demikian aku ingat Adek pernah berkata, ketika aku ceritakan tentang kesulitan yang ada di kantor.

“Yah, aku dah siap kok”, jawabku mantap. Aku tahu, kondisi terburuk mungkin saja terjadi. Tapi aku berharap masih bisa berjuang mengejar mimpi itu. Entah sendiri, entah ada orang lain bersamaku. Aku tetap ingin mengejar mimpi itu.


TAGS Pertemanan Pekerjaan


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru