Surat Peringatan

11 Jan 2009

“Budi, surat peringatan untuk Om Bag udah dikasih?” tanyaku ke Budi di hari-hari awal setelah libur cukup panjang di pergantian tahun ini.

“Belum mas, masih belum dapat contohnya dari Prof”, jawabnya.

“Wah, gimana nih. Ntar aku tanyain Prof lah. Oh ya, sekalian, tolong buat SP juga buat Gita.”

“Emangnya dia dimana sekarang?” tanya Budi penasaran. Sudah beberapa hari ini Gita tidak masuk kerja, dan tidak ada keterangan. Kalau ditotal, hampir 3 minggu dia libur.

“Tadi pagi dia ngirim offline message, ngasih tahu kalau baru bisa masuk besok, ada masalah pribadi katanya.” jawabku.

Tadi pagi, lebih tepatnya subuh, memang Gita ngirim pesan lewat chat. Waktu itu aku masih tidur, tapi laptop menyala dan YM-ku online. Intinya dia masih berharap diberi kesempatan untuk bekerja di kantor, malah sampai menawarkan diri untuk membuat surat perjanjian gak akan bolos lagi.

Meski dalam hati jengkel, tapi dengan pernyataan seperti itu, aku merasa iba juga. Tapi tetap saja dia salah, tidak memberi kabar apa-apa selama lebih dari 2 hari. Di pabrik pada umumnya, katanya, alpha 3 hari bisa dianggap sebagai mengundurkan diri. Aku sih gak mau seperti itu, susah nyari karyawan baru.

Tapi tetap saja, peraturan harus tetap ditegakkan, biar tetap dihargai. Makanya aku tetap berencana untuk memberikan SP1, sebagai tanda kalau manajemen juga serius, dan karyawan diminta turut bertanggung jawab.

Waktu kutanya ke Prof, kenapa contoh SP tidak segera diberikan ke Budi, dia menjawab belum sempat.

“Lagipula, proyek E kan masih tergantung sama Om Bag. Takutnya dia jadi down kalau diberi SP.”, kata Prof. “Tapi ya nanti saya kirim contohnya ke Budi biar diproses. Mungkin waktu penyerahannya saja yang disesuaikan, sampai keadaan sedikit tenang dulu”.


TAGS Kantor


-

Author

Search

Recent Post

Komentar Terbaru